Ada orang yang mempunyai kecenderungan mudah marah. Setiap melihat
sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan hati langsung bermuka masam.
Jantungnya berdegub dengan cepat. Nafasnya tersengal-sengal. Mengeluarkan
kata-kata kasar tanpa peduli situasi dan kondisi. Melakukan ekspresi yang
bersifat destruktif. Melempar ini, itu ke arah yang tidak jelas. memukul ini,
itu tanpa tujuan yang jelas. atau ada yang tanpa ekspresi sedikitpun namun ia
mengutuk sesuatu yang membuatnya marah dengan sangat keras di dalam hati.
Ada orang yang mempunyai kecenderungan suka makan. Ia tidak segan-segan menghabiskan makanan tanpa peduli keluarga atau temannya sudah makan atau belum. Ia tidak berat menghabiskan uang yang dimilikinya untuk wisata kuliner. Ia tetap menjejalkan beraneka makanan dan minuman walaupun perutnya sudah terasa penuh.
Ada orang yang mudah iri dengki. Hatinya panas ketika ia melihat kenikmatan-kenikmatan yang dialami oleh orang lain, entah itu, tetangga, saudara, keluarga atau siapapun saja. ia menghabiskan tenaga dan pikirannya untuk mengungguli hal-hal yang dimiliki oleh orang lain.
Ada orang yang mudah tertarik dengan lawan jenis. Ketika ia melihat lawan jenis hatinya menjadi seperti berbunga-bunga. Imajinasinya melenggang dengan cepat membayangkan berbagai hal. Ia mendekati orang yang membuatnya tertarik tersebut sampai terwujud imajinasi-imajinasinya. Ia tak peduli dengan, istri, suami, keluarga dan anak-anaknya.
Serta masih banyak lagi orang-orang yang mempunyai kecenderungan negatifnya masing-masing dengan bentuk ekspresi yang beraneka ragam. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah keputusan hidup yang terbaik dari orang-orang tersebut adalah terus memanjakan kecenderungan-kecenderungan negatifnya ? Apakah kalau ia sudah pusing dengan kecenderungan-kecenderungan negatifnya lantas menyalah-nyalahkan Tuhan karena ia diberi kecenderungan itu ? mana yang lebih baik melampiaskan atau menahan ? Mana yang lebih indah berjuang atau hanya sekedar menikmati masakan-masakan yang sudah matang ? Mana yang lebih bijaksana mengikuti hukum-hukum yang dibuat oleh Tuhan atau mengikuti keinginan-keinginan diri ? Mana yang lebih baik mengakomodir orang-orang untuk memperjuangkan hak yang dilandasi hanya oleh hawa nafsu atau mengakomodir orang-orang untuk saling bahu-membahu berjuang menjadi manusia sesuai dengan kehendak Tuhan ?
Ada orang yang mempunyai kecenderungan suka makan. Ia tidak segan-segan menghabiskan makanan tanpa peduli keluarga atau temannya sudah makan atau belum. Ia tidak berat menghabiskan uang yang dimilikinya untuk wisata kuliner. Ia tetap menjejalkan beraneka makanan dan minuman walaupun perutnya sudah terasa penuh.
Ada orang yang mudah iri dengki. Hatinya panas ketika ia melihat kenikmatan-kenikmatan yang dialami oleh orang lain, entah itu, tetangga, saudara, keluarga atau siapapun saja. ia menghabiskan tenaga dan pikirannya untuk mengungguli hal-hal yang dimiliki oleh orang lain.
Ada orang yang mudah tertarik dengan lawan jenis. Ketika ia melihat lawan jenis hatinya menjadi seperti berbunga-bunga. Imajinasinya melenggang dengan cepat membayangkan berbagai hal. Ia mendekati orang yang membuatnya tertarik tersebut sampai terwujud imajinasi-imajinasinya. Ia tak peduli dengan, istri, suami, keluarga dan anak-anaknya.
Serta masih banyak lagi orang-orang yang mempunyai kecenderungan negatifnya masing-masing dengan bentuk ekspresi yang beraneka ragam. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah keputusan hidup yang terbaik dari orang-orang tersebut adalah terus memanjakan kecenderungan-kecenderungan negatifnya ? Apakah kalau ia sudah pusing dengan kecenderungan-kecenderungan negatifnya lantas menyalah-nyalahkan Tuhan karena ia diberi kecenderungan itu ? mana yang lebih baik melampiaskan atau menahan ? Mana yang lebih indah berjuang atau hanya sekedar menikmati masakan-masakan yang sudah matang ? Mana yang lebih bijaksana mengikuti hukum-hukum yang dibuat oleh Tuhan atau mengikuti keinginan-keinginan diri ? Mana yang lebih baik mengakomodir orang-orang untuk memperjuangkan hak yang dilandasi hanya oleh hawa nafsu atau mengakomodir orang-orang untuk saling bahu-membahu berjuang menjadi manusia sesuai dengan kehendak Tuhan ?
Komentar
Posting Komentar