Laju angin percepatan semakin
menjadi-jadi. Semakin tidak terkirakan. Setelah diciptakan berbagai alat bantu
untuk membuat semua hal menjadi semakin cepat, manusia menjadi terobsesi dengan
percepatan. “Semua harus serba cepat, kalau tidak cepat akan tertinggal”,
mungkin seperti itu yang ada dibenak mayoritas manusia saat ini. Saking cepatnya,
manusia tidak sadar jika dirinya sudah mulai terobsesi dengan
percepatan-percepatan.
Tidak hanya pada satu bidang saja, tetapi segala bidang. Percepatan berbanding lurus dengan kuantitas. Manusia memfokuskan hidupnya pada kuantitas. Cepat dan menghasilkan produk yang banyak. Sedikit usaha dan mendapatkan hasil yang banyak. Sholat supaya jualannya cepat laku dan menghasilkan untung yang banyak. Shadaqah supaya mendapat timbal balik yang lebih banyak. Belajar supaya bisa menghafal banyak materi pelajaran. Semua produk yang dijual harus bisa menimbulkan efek percepatan, jika tidak, tidak akan laku. Baik itu berupa alat bantu, buku-buku, jasa dll. Benar-benar serba instan. Substansi bukan lagi menjadi benar-benar substansi. Substansi menjadi berarti jika bisa menghasilkan percepatan.
Jika sudah terobsesi dengan percepatan, manusia benar-benar menjadi makhluk yang selalu tergesa-gesa/terburu-buru, gelisah. Sehingga prioritas akan beralih kepada sesuatu yang bersifat hedonis, karena kesadaran diri bahwa dirinya adalah makhluk proses sudah hilang diganti dengan kesadaran diri bahwa dirinya adalah makhluk hasil. Sholat harus cepat karena terburu-buru akan berwisata. Sholat harus cepat karena terburu-buru menonton para pengumbar syahwat.
Manusia sudah tidak sempat lagi untuk memahami siapa dirinya yang sejati. Tidak pernah tersisa lagi ruang di dalam dirinya untuk menempatkan kata siapa? apa? mengapa? bagaimana? Yang ada adalah berapa? dimana? kapan?
Komentar
Posting Komentar