Langsung ke konten utama

Lumayan

Malam itu, sebuah acara yang diadakan oleh Dinas Sosial tingkat kabupaten bertema “Pembinaan Karang Taruna”. Diawali dengan sambutan Pak Camat, karena acaranya tingkat kecamatan. Kemudian pengurus-pengurus karang Taruna kabupaten, pejabat Dinas Sosial tingkat kabupaten memaparkan berbagai hal yang berkaitan dengan Karang Taruna. 

Kata-kata yang sering diucapkan oleh para pembina Karang Taruna tingkat kabupaten tersebut adalah “kesejahteraan, kemajuan, tingkat kemiskinan, pariwisata”. Namun yang kemudian sering dipertanyajawabkan adalah hal-hal yang berkaitan dengan hal-hal teknis tentang dana.  

Kebahagiaan saya pada malam itu adalah semangat para pemuda-pemudinya. Mereka rela meluangkan waktu untuk acara yang tidak begitu menarik dengan tujuan kebermanfaat bagi sesama. Kebahagiaan ini tidak lantas membuat hati saya berhari raya kecil-kecilan. Hari raya kecil-kecilan saya tunda terlebih dahulu, setelah hati saya bernegosiasi dengan diri saya sendiri. 

Jangan-jangan pemuda-pemudi ini sebenarnya tidak sedang merintis cahaya-cahaya yang sedikit-sedikit bisa menerangi kegelapan, tetapi membantu memekatkan kegelapan. Sehingga semakin gelap, semakin gelap, semakin gelap. 

Jangan-jangan mereka berbicara kesejahteraan tetapi tidak tahu maksud dari kesejahteraan ? jangan-jangan mereka berbicara kemajuan tidak tahu maksud dari kemajuan ? jangan-jangan mereka berbicara kemiskinan tetapi tidak mempelajari kemiskinan ? jangan-jangan yang mereka pikir solusi justru masalah, yang mereka pikir surga adalah neraka ? 

Saya sedikit bersyukur karena ditengah pertanyaan-pertanyaan yang membuat kening saya mengkerut itu saya bisa menemukan kelucuan-kelucuan. Contohnya seperti ini, salah satu pembicara mengatakan bahwa DIY termasuk provinsi di Jawa dengan tingkat kemiskinan yang sangat tinggi, bahkan kalah dari Banten. Tetapi tingkat kebahagiaannya tertinggi. Lo ! prihatin bagaimana ? bahagia kok prihatin, yang memprihatinkan itu yang kaya tapi tidak bahagia. Kemudian pembicara yang lain mengatakan rakyat Indonesia miskin moral atau moralnya rusak. Lo ! jangan ngomong rakyat moralnya rusak, lebih rusak moral pemimpinnya, kalau rakyat moral rusak itu karena darurat, buntu tidak ada pilihan lain. Kalau pemimpin dan pengelola, fasilitas hidup tercukupi, berarti kalau rusak bukan karena jalan buntu tetapi rusak beneran. Bercermin dulu dong ! 

Saya bersyukur karena mempunyai pembina Karang Taruna yang seperti itu. Lumayanlah bisa memberikan sedikit hiburan di tengah penyengsaraan yang mereka bantu, di tengah pemekatan-pemekatan kegelapan yang mereka dukung.

Komentar