Hidup itu bukan hanya 1, 2, 3, 4, 5 detik saja, tetapi sebuah
proses yang begitu lama dan panjang. Garis itu dapat terbentuk karena merupakan
gabungan dari banyak titik. Hidup ini, cerita kehidupan ini berjalan karena ada
waktu sebagai salah satu faktornya. Alasan tersebut memberikan isyarat yang
cukup jelas, bahwa hidup adalah menjalani proses demi proses, bukan hanya
sekedar menikmati hasil demi hasil. Hasil merupakan bagian dari proses itu
juga, artinya hasil bukan berarti membuat manusia berhenti untuk mencari dan
terus mencari kesejatian hidup.
Pada kenyataannya, kesadaran akan proses sering terganggu oleh berbagai hal yang tiba-tiba saja datang mempengaruhi manusia. Entah itu karena lingkungan sekitar atau dari faktor internal manusia itu sendiri. Gangguan-gangguan itu seringkali membuat manusia melupakan kesadaran akan proses. Pada titik itulah sebenarnya manusia melalui masa-masa ujian akan komitmennya terhadap konsistensi. Ketika ujian-ujian tersebut dapat dilalui maka ia akan naik derajat dan akan kembali mendapat ujian-ujian yang lebih besar sampai waktu hidupnya habis. Melalui proses ujian-ujian itu juga manusia secara sedikit demi sedikit akan mengantarkan dirinya untuk menemukan kesejatian serta menjalin hubungan yang mesra dengan kesejatian sebelum pada akhirnya nanti akan kembali kepada kesejatian tersebut.
Gangguan-gangguan itu seringkali berbentuk rasa terburu-buru. Ingin segera sampai ke tempat tujuan, ingin segera mendapatkan hasil, dan tidak jarang pula rasa terburu-buru itu merusak keindahan proses, rasa nikmat akan proses. Jika rasa nikmat itu sudah hilang proses yang berjalan baik akan goyah, sehingga mempengaruhi hasil itu sendiri. Jadi rasa ambisius akan hasil itu sebenarnya hanya akan merusak hasil itu sendiri.
Proses dan hasil adalah suatu kesatuan yang tak bisa terpisahkan. Proses yang baik akan berakibat pada hasil yang baik, begitu juga sebaliknya. Berkaitan dengan hal tersebut sebenarnya manusia bisa melakukannya dengan lebih efektif dan efisien dengan hanya memikirkan proses saja. Tetapi memang pola kemungkinan yang dikendalikan oleh manusia begitu luas. Beberapa pola kemungkinan tersebut adalah pola kemungkinan untuk menjadi sombong, menganggap remeh sesuatu, marah, iri, dengki. Pola kemungkinan untuk mengimplementasikan sifat-sifat tersebut terkadang dianggap sebagai pola kemungkinan yang harus dijadikan kenyataan. Dengan seperti itu, manusia menjadi sombong, suka menganggap remeh sesuatu, marah, iri, dengki. Kejadian seperti itulah yang sangat mengganggu kesadaran bahwa hasil merupakan kesatuan dari proses, sehingga manusia tidak rela dengan hanya memikirkan proses saja, dia begitu serakah untuk memenuhi pikirannya dengan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu krusial untuk dipikirkan.
Untuk menghadapi berbagai tantangan yang jelas-jelas berhadapan dengan manusia tersebut, manusia harus memulainya dengan memahami karakter dari berbagai pinjaman-pinjaman yang diberikan Tuhan kepada manusia atau bisa juga disebut sebagai proses identifikasi diri. Bagaimana karakter dari akal, hati, nafsu yang dianugerahkan kepada kita ? bagaimana karakter dari tubuh yang dipinjamkan kepada kita ? bagaimana karakter dari faktor-faktor eksternal yang ada di sekitar kita, keluarga, teman, masyarakat, lingkungan alam tempat tinggal ? dengan memulainya dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita, sedikit demi sedikit akan mulai belajar untuk menghadapi karakter-karakter dari berbagai hal tersebut, yang jelas-jelas berhadapan dengan diri kita. Tujuannya adalah untuk menjadi manusia sejati sebagai sebuah proses untuk kembali kepada kesejatian.
Pada kenyataannya, kesadaran akan proses sering terganggu oleh berbagai hal yang tiba-tiba saja datang mempengaruhi manusia. Entah itu karena lingkungan sekitar atau dari faktor internal manusia itu sendiri. Gangguan-gangguan itu seringkali membuat manusia melupakan kesadaran akan proses. Pada titik itulah sebenarnya manusia melalui masa-masa ujian akan komitmennya terhadap konsistensi. Ketika ujian-ujian tersebut dapat dilalui maka ia akan naik derajat dan akan kembali mendapat ujian-ujian yang lebih besar sampai waktu hidupnya habis. Melalui proses ujian-ujian itu juga manusia secara sedikit demi sedikit akan mengantarkan dirinya untuk menemukan kesejatian serta menjalin hubungan yang mesra dengan kesejatian sebelum pada akhirnya nanti akan kembali kepada kesejatian tersebut.
Gangguan-gangguan itu seringkali berbentuk rasa terburu-buru. Ingin segera sampai ke tempat tujuan, ingin segera mendapatkan hasil, dan tidak jarang pula rasa terburu-buru itu merusak keindahan proses, rasa nikmat akan proses. Jika rasa nikmat itu sudah hilang proses yang berjalan baik akan goyah, sehingga mempengaruhi hasil itu sendiri. Jadi rasa ambisius akan hasil itu sebenarnya hanya akan merusak hasil itu sendiri.
Proses dan hasil adalah suatu kesatuan yang tak bisa terpisahkan. Proses yang baik akan berakibat pada hasil yang baik, begitu juga sebaliknya. Berkaitan dengan hal tersebut sebenarnya manusia bisa melakukannya dengan lebih efektif dan efisien dengan hanya memikirkan proses saja. Tetapi memang pola kemungkinan yang dikendalikan oleh manusia begitu luas. Beberapa pola kemungkinan tersebut adalah pola kemungkinan untuk menjadi sombong, menganggap remeh sesuatu, marah, iri, dengki. Pola kemungkinan untuk mengimplementasikan sifat-sifat tersebut terkadang dianggap sebagai pola kemungkinan yang harus dijadikan kenyataan. Dengan seperti itu, manusia menjadi sombong, suka menganggap remeh sesuatu, marah, iri, dengki. Kejadian seperti itulah yang sangat mengganggu kesadaran bahwa hasil merupakan kesatuan dari proses, sehingga manusia tidak rela dengan hanya memikirkan proses saja, dia begitu serakah untuk memenuhi pikirannya dengan hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu krusial untuk dipikirkan.
Untuk menghadapi berbagai tantangan yang jelas-jelas berhadapan dengan manusia tersebut, manusia harus memulainya dengan memahami karakter dari berbagai pinjaman-pinjaman yang diberikan Tuhan kepada manusia atau bisa juga disebut sebagai proses identifikasi diri. Bagaimana karakter dari akal, hati, nafsu yang dianugerahkan kepada kita ? bagaimana karakter dari tubuh yang dipinjamkan kepada kita ? bagaimana karakter dari faktor-faktor eksternal yang ada di sekitar kita, keluarga, teman, masyarakat, lingkungan alam tempat tinggal ? dengan memulainya dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita, sedikit demi sedikit akan mulai belajar untuk menghadapi karakter-karakter dari berbagai hal tersebut, yang jelas-jelas berhadapan dengan diri kita. Tujuannya adalah untuk menjadi manusia sejati sebagai sebuah proses untuk kembali kepada kesejatian.
Komentar
Posting Komentar