Jika
dianalogikan dengan titik dan garis, waktu adalah kumpulan titik yang membentuk
suatu garis. Titik itu harus menyentuh titik sebelah kanan dan kirinya supaya
garis itu dapat terbentuk. Hidup adalah si titik itu sendiri. Baik si titik
awal ataupun yang sudah bersentuhan dengan titik-titik lain sehingga terbentuk
garis. Artinya hidup dan waktu adalah suatu kesatuan. Kesatuan itu membentuk
sesuatu yang menurut pandangan saya, saya sebut sebagai kehidupan.
Dari adanya kesatuan tersebut
kehidupan adalah suatu gerakan tanpa henti, tidak ada satupun titik perhentian
di dalamnya. Hal tersebut mengindikasikan bahwa hidup tidak bisa kalau hanya
disandarkan pada hasil semata. Dalam hal ini manusia bersentuhan dengan jalan
panjang dan konsistensi.
Hasil adalah jalan panjang dan
konsistensi itu sendiri. Cinta adalah jalan panjang dan konsistensi itu
sendiri. Kesejatian adalah jalan panjang dan konsistensi itu sendiri.
Kebanggaan adalah suatu kesalahan besar, karena kebanggaan hanya akan
memberhentikan diri dari perjalanan dan akan mengganggu konsistensi.
Selama ini, yang terjadi adalah
manusia selalu hanya terpaku pada target-target yang terbentuk melalui sistem
sosial mainstream. Target untuk memiliki rumah bagus, kendaraan bagus, tabungan
banyak, punya ini dan punya itu, berprestasi ini dan berprestasi itu. Target-target
yang pada dasarnya hanyalah kebuntuan-kebuntuan karena pikiran hanya berhenti
pada tembok-tembok materi.
Masih terlalu banyak pekerjaan rumah
yang harus diselesaikan. Suatu kesalahan fatal jika manusia hidup hanya untuk
menumpuk kesenangan-kesenangan akan materi.
Cobalah untuk melihat ruang hampa yang
ada dalam tumpukan-tumpukan materi dalam hatimu. Ruang hampa itu hanya bisa
terisi dengan sesuatu yang benar-benar kamu cari. Ruang hampa itulah ujung
jalan panjang dan konsistensi. Ruang hampa itulah yang mengantarmu kepada
kesejatian.
Komentar
Posting Komentar