Bagi manusia yang berusaha menjadi manusia
kelihatannya berbagai pola, cara, suasana dan nuansa kehidupan yang disepakati
oleh mayoritas manusia saat ini semakin bikin tidak betah. Apalagi bagi yang
berusaha menjadi hamba Allah. Apalagi bagi yang berusaha menjadi wakil Allah di
bumi sebagai pengelola kehidupan. Sangat-sangat sulit, seakan – akan mendaki
tangga sangat panjang yang tak kunjung pernah tahun ujungnya dimana.
Celakanya
adalah apa yang mereka yakini harus juga diyakini orang lain. Sehingga, orang
tua-tua (bukan sepuh, karena sepuh tidak sama dengan tua secara umur. Sepuh itu
berkaitan dengan tingkat kedewasaan dan kematangan dalam menyikapi kehidupan)
di zaman yang disepakati sebagai zaman modern ini selalu mengatakan, menasehati
generasi penerusnya dengan kalimat, “mugo-mugo
iso dadi uwong le (bisa menjadi orang)”. Maksudnya bukan menjadi orang yang
manusia. Tetapi menjadi orang yang menempelkan identitas-identitas,
reputasi-reputasi terutama dalam urusan kepemilikan harta yang melimpah alias
kaya. Tabungan melimpah, rumah bagus syukur-syukur mewah, kendaraan bagus
syukur-syukur mewah.
Menjadi manusia acuan utama adalah kriteria-kriteria yang dibuat oleh Allah. Menjadi orang seperti yang dipahami secara mainstream acuan-acuan utamanya adalah kesepakatan antara manusia yang seringkali lebih ditakuti dan dijalankan secara serius daripada kriteria-kriteria dari Allah.
Kalau secara umum keseimbangan berpikir masyarakat goyah maka kesepakatan yang disepakati masyarakat pun tidak akurat. Bagi manusia yang berada di lingkaran tersebut tidak sadar kalau keseimbangan berpikirnya goyah. Mereka menganggap biasa-biasa saja bahkan menganggap itulah yang paling benar.
Sejenak
ambillah jarak dengan kehidupanmu. Tanggalkan identitas yang menempel dalam dirimu.
Tanggalkan berbagai reputasi yang disematkan masyarakat dalam dirimu. Jadilah
manusia, kemudian lihat di sekelilingmu. Lihatlah berita di televis, di
internet. Engkau akan menemui bahwa manusia semakin tidak menjadi manusia.
Mereka adalah keinginan-keinginan, syahwat-syahwat, nafsu-nafsu yang mereka
tempelkan pada dirinya.
Menjadi manusia acuan utama adalah kriteria-kriteria yang dibuat oleh Allah. Menjadi orang seperti yang dipahami secara mainstream acuan-acuan utamanya adalah kesepakatan antara manusia yang seringkali lebih ditakuti dan dijalankan secara serius daripada kriteria-kriteria dari Allah.
Kalau secara umum keseimbangan berpikir masyarakat goyah maka kesepakatan yang disepakati masyarakat pun tidak akurat. Bagi manusia yang berada di lingkaran tersebut tidak sadar kalau keseimbangan berpikirnya goyah. Mereka menganggap biasa-biasa saja bahkan menganggap itulah yang paling benar.
Untuk
kehidupan di zaman ini sudah sangat jelas mana yang lebih priotitas, kriteria
Allah atau kriteria manusia ? Lalu apa makna Idul Fitri jika yang semakin
diagung-agungkan adalah tempelan-tempelan identitas, reputasi yang disematkan
oleh manusia bukan kembali menjadi apa adanya manusia, syukur-syukur meningkat
menjadi hamba Allah, lalu syukur-syukur semoga bisa menjadi wakil Allah di bumi
sebagai pengelola kehidupan ?
Komentar
Posting Komentar