Langsung ke konten utama

Mugo-mugo Iso Dadi Uwong Le ..... (Semoga Bisa Menjadi Orang Nak .....) (Perenungan Idul Fitri 5)

Bagi manusia yang berusaha menjadi manusia kelihatannya berbagai pola, cara, suasana dan nuansa kehidupan yang disepakati oleh mayoritas manusia saat ini semakin bikin tidak betah. Apalagi bagi yang berusaha menjadi hamba Allah. Apalagi bagi yang berusaha menjadi wakil Allah di bumi sebagai pengelola kehidupan. Sangat-sangat sulit, seakan – akan mendaki tangga sangat panjang yang tak kunjung pernah tahun ujungnya dimana.

Sejenak ambillah jarak dengan kehidupanmu. Tanggalkan identitas yang menempel dalam dirimu. Tanggalkan berbagai reputasi yang disematkan masyarakat dalam dirimu. Jadilah manusia, kemudian lihat di sekelilingmu. Lihatlah berita di televis, di internet. Engkau akan menemui bahwa manusia semakin tidak menjadi manusia. Mereka adalah keinginan-keinginan, syahwat-syahwat, nafsu-nafsu yang mereka tempelkan pada dirinya.

Celakanya adalah apa yang mereka yakini harus juga diyakini orang lain. Sehingga, orang tua-tua (bukan sepuh, karena sepuh tidak sama dengan tua secara umur. Sepuh itu berkaitan dengan tingkat kedewasaan dan kematangan dalam menyikapi kehidupan) di zaman yang disepakati sebagai zaman modern ini selalu mengatakan, menasehati generasi penerusnya dengan kalimat, “mugo-mugo iso dadi uwong le (bisa menjadi orang)”. Maksudnya bukan menjadi orang yang manusia. Tetapi menjadi orang yang menempelkan identitas-identitas, reputasi-reputasi terutama dalam urusan kepemilikan harta yang melimpah alias kaya. Tabungan melimpah, rumah bagus syukur-syukur mewah, kendaraan bagus syukur-syukur mewah.

Menjadi manusia acuan utama adalah kriteria-kriteria yang dibuat oleh Allah. Menjadi orang seperti yang dipahami secara mainstream acuan-acuan utamanya adalah kesepakatan antara manusia yang seringkali lebih ditakuti dan dijalankan secara serius daripada kriteria-kriteria dari Allah.

Kalau secara umum keseimbangan berpikir masyarakat goyah maka kesepakatan yang disepakati masyarakat pun tidak akurat. Bagi manusia yang berada di lingkaran tersebut tidak sadar kalau keseimbangan berpikirnya goyah. Mereka menganggap biasa-biasa saja bahkan menganggap itulah yang paling benar.

Untuk kehidupan di zaman ini sudah sangat jelas mana yang lebih priotitas, kriteria Allah atau kriteria manusia ? Lalu apa makna Idul Fitri jika yang semakin diagung-agungkan adalah tempelan-tempelan identitas, reputasi yang disematkan oleh manusia bukan kembali menjadi apa adanya manusia, syukur-syukur meningkat menjadi hamba Allah, lalu syukur-syukur semoga bisa menjadi wakil Allah di bumi sebagai pengelola kehidupan ?

Komentar