Nilai itu terletak pada konsistensi. Kebenaran, jika tidak
konsisten maka bisa saja kebenaran itu dianggap gugur walaupun kebenaran
tetaplah kebenaran. Pada titik inilah cobaan terbesar manusia. Dengan keadaan
dirinya yang diberi anugerah berupa akal memungkinkan manusia untuk kreatif
yang sangat rentan kepada ketidakkonsitenan, manusia harus konsisten dengan
keputusannya. Keadaan diri yang dinamis memang seperti tidak sejalan dengan
sesuatu yang seharusnya.
Di sisi lain, keadaan itu sebenarnya semakin mengukuhkan manusia
sebagai makhluk yang paling sempurna. Kesempurnaan bukanlah kemampuan untuk melakukan
kebaikan-kebaikan di tengah situasi yang baik. Tetapi melakukan
kebaikan-kebaikan walaupun ia berada dalam situasi yang sangat buruk. Makhluk
sempurna pastilah dihadapkan dengan kemungkinan yang lebih kompleks dari pada
makhluk lain. Baik itu kemungkinan baik atau kemungkinan buruk. Manusia punya
kuasa atas kemungkinan-kemungkinan itu, walaupun tidak 100 persen.
Upaya untuk terus konsisten dengan kebenaran adalah upaya sepanjang
hayat yang tak pernah selesai. Jika terjadi sedikit ketidakkonsistenan di tengah
upaya itu, bukan berarti manusia gugur menjadi manusia, karena bisa jadi itu
menjadi seperti semacam tangga untuk naik ke tingkat upaya konsisten yang lebih
tinggi.
Ketidakkonsistenan juga bisa bermakna sebaliknya. Bukan karena naik
level ke taraf konsistensi yang lebih tinggi, tetapi turunnya level
konsistensi. Hal itu bisa segera diketahui hanya oleh manusia-manusia yang
memiliki akal yang jernih serta mempunyai kepekaan hati yang tinggi. Oleh
karena itu, upaya konsisten sepanjang hayat harus berdampingan dengan belajar
sepanjang hayat. Dengan belajar sepanjang hayat, akal dan hati akan terasah,
sehingga bisa dengan cepat mengetahui keadaan yang berubah cenderung menuju ke
arah yang mana, baik atau buruk.
Komentar
Posting Komentar