Langsung ke konten utama

Konsisten

Nilai itu terletak pada konsistensi. Kebenaran, jika tidak konsisten maka bisa saja kebenaran itu dianggap gugur walaupun kebenaran tetaplah kebenaran. Pada titik inilah cobaan terbesar manusia. Dengan keadaan dirinya yang diberi anugerah berupa akal memungkinkan manusia untuk kreatif yang sangat rentan kepada ketidakkonsitenan, manusia harus konsisten dengan keputusannya. Keadaan diri yang dinamis memang seperti tidak sejalan dengan sesuatu yang seharusnya.

Di sisi lain, keadaan itu sebenarnya semakin mengukuhkan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna. Kesempurnaan bukanlah kemampuan untuk melakukan kebaikan-kebaikan di tengah situasi yang baik. Tetapi melakukan kebaikan-kebaikan walaupun ia berada dalam situasi yang sangat buruk. Makhluk sempurna pastilah dihadapkan dengan kemungkinan yang lebih kompleks dari pada makhluk lain. Baik itu kemungkinan baik atau kemungkinan buruk. Manusia punya kuasa atas kemungkinan-kemungkinan itu, walaupun tidak 100 persen.

Upaya untuk terus konsisten dengan kebenaran adalah upaya sepanjang hayat yang tak pernah selesai. Jika terjadi sedikit ketidakkonsistenan di tengah upaya itu, bukan berarti manusia gugur menjadi manusia, karena bisa jadi itu menjadi seperti semacam tangga untuk naik ke tingkat upaya konsisten yang lebih tinggi.

Ketidakkonsistenan juga bisa bermakna sebaliknya. Bukan karena naik level ke taraf konsistensi yang lebih tinggi, tetapi turunnya level konsistensi. Hal itu bisa segera diketahui hanya oleh manusia-manusia yang memiliki akal yang jernih serta mempunyai kepekaan hati yang tinggi. Oleh karena itu, upaya konsisten sepanjang hayat harus berdampingan dengan belajar sepanjang hayat. Dengan belajar sepanjang hayat, akal dan hati akan terasah, sehingga bisa dengan cepat mengetahui keadaan yang berubah cenderung menuju ke arah yang mana, baik atau buruk.

Komentar