Saat
ini materi adalah satu-satunya hal yang paling dicintai manusia. Hampir 90
persen dari kehidupannya diperjuangkan untuk mencari materi. Sehingga ia lupa
bahwa tujuan hidup itu lebih dari sekedar untuk mencari materi.
Kehidupan yang serba materi itu ia perjuangkan mati-matian. Ia lupa dengan Tuhan. Tuhan menjadi sesuatu yang dikesampingkan. Dan hanya ditempatkan sebagai penghibur atau pelipur lara ketika hati sedang gundah. Kehidupan yang sama sekali tidak disandarkan kepada Tuhan ini sangatlah rapuh. Bersifat mudah rusak dan terperosok kepada kebahagiaan semu.
Dengan seperti itu manusia tak tahu tentang hukum-hukum serta pola-pola yang diciptakan-Nya. Ia tidak tahu hukum baik, hukum pasang-pasangan (sebab-akibat, saling melengkapi), pola keindahan serta masih banyak hukum-hukum serta pola-pola yang tak terhitung jumlahnya. Karena manusia mengabaikan itu, ia bertindak dengan tidak akurat. Setiap keputusannya salah-salah, karena tidak sejalan dengan hukum-hukum dan pola-pola yang diciptakan-Nya. Akibatnya, sistem kehidupan yang dijalani manusia begitu bobrok, rusak. Tak punya landasan-landasan yang begitu kokokh. Sebenarnya punya, tetapi tidak dipercayai sehingga tidak dimanfaatkan. Kehidupan yang seperti itu bukan hanya membahayakan pada tingkatan fisik saja seperti saling membunuh, mencelakakan satu sama lain tetapi membahayakan pada tingkatan metafisik yang akibatnya jauh lebih dahsyat dari akibat fisik. Keseimbangan-keseimbangan akan runtuh satu persatu dan pada puncaknya kehancuran kehidupan manusia.
Hukum baik itu nyata. Dan semakin besar ia digerogoti oleh keburukan-keburukan yang dilakukan manusia semakin besar pula akibat yang ditanggung oleh manusia, kecuali manusia mau ikut menyembuhkan kebaikan yang digerogoti tersebut dengan melakukan kebaikan yang setimpal atau jauh lebih besar. Hukum pasang-pasangan itu nyata. Setiap manusia harus mengerti itu untuk memutuskan setiap keputusan, untuk melakukan sebuah tindakan. Pola keindahan itu nyata. Manusia harus mempelajari itu untuk berkreativitas, untuk membuat karya-karya demi menyelami keindahan-keindahan sejati.
Empat paragraf diatas bukanlah pernyataan-pernyataan anti materi. Hanya sekedar urun rembug (usulan) berupa kalimat-kalimat yang entah penting atau tidak, untuk menempatkan materi pada posisi seharusnya bukan pada posisi diharuskan.
Kehidupan yang serba materi itu ia perjuangkan mati-matian. Ia lupa dengan Tuhan. Tuhan menjadi sesuatu yang dikesampingkan. Dan hanya ditempatkan sebagai penghibur atau pelipur lara ketika hati sedang gundah. Kehidupan yang sama sekali tidak disandarkan kepada Tuhan ini sangatlah rapuh. Bersifat mudah rusak dan terperosok kepada kebahagiaan semu.
Dengan seperti itu manusia tak tahu tentang hukum-hukum serta pola-pola yang diciptakan-Nya. Ia tidak tahu hukum baik, hukum pasang-pasangan (sebab-akibat, saling melengkapi), pola keindahan serta masih banyak hukum-hukum serta pola-pola yang tak terhitung jumlahnya. Karena manusia mengabaikan itu, ia bertindak dengan tidak akurat. Setiap keputusannya salah-salah, karena tidak sejalan dengan hukum-hukum dan pola-pola yang diciptakan-Nya. Akibatnya, sistem kehidupan yang dijalani manusia begitu bobrok, rusak. Tak punya landasan-landasan yang begitu kokokh. Sebenarnya punya, tetapi tidak dipercayai sehingga tidak dimanfaatkan. Kehidupan yang seperti itu bukan hanya membahayakan pada tingkatan fisik saja seperti saling membunuh, mencelakakan satu sama lain tetapi membahayakan pada tingkatan metafisik yang akibatnya jauh lebih dahsyat dari akibat fisik. Keseimbangan-keseimbangan akan runtuh satu persatu dan pada puncaknya kehancuran kehidupan manusia.
Hukum baik itu nyata. Dan semakin besar ia digerogoti oleh keburukan-keburukan yang dilakukan manusia semakin besar pula akibat yang ditanggung oleh manusia, kecuali manusia mau ikut menyembuhkan kebaikan yang digerogoti tersebut dengan melakukan kebaikan yang setimpal atau jauh lebih besar. Hukum pasang-pasangan itu nyata. Setiap manusia harus mengerti itu untuk memutuskan setiap keputusan, untuk melakukan sebuah tindakan. Pola keindahan itu nyata. Manusia harus mempelajari itu untuk berkreativitas, untuk membuat karya-karya demi menyelami keindahan-keindahan sejati.
Empat paragraf diatas bukanlah pernyataan-pernyataan anti materi. Hanya sekedar urun rembug (usulan) berupa kalimat-kalimat yang entah penting atau tidak, untuk menempatkan materi pada posisi seharusnya bukan pada posisi diharuskan.
Komentar
Posting Komentar