Langsung ke konten utama

Saya

Saya yang sebenarnya, bukanlah saya yang dapat dilihat dengan mata, didengar dengan telinga, dicium dengan hidung dan diraba dengan kulit. Saya yang ditugaskan untuk masuk ke dalam sebuah jasad berbeda dengan jasad itu sendiri. Saya yang sebenarnya juga berbeda dengan saya yang disatukan dengan jasad dan ditugaskan untuk menjalani sebuah proses yang disebut sebagai kehidupan.

Sekarang, saya tidak bisa menjadi saya yang sebenarnya secara utuh. Bahkan, seringkali saya lupa bahwa saya bukan jasad atau penyatuan antara saya dengan jasad. Hal ini dikarenakan saya sekarang adalah saya dengan jasad yang ditugaskan untuk menyatu dan menjalani proses kehidupan.

Saya yang sejati adalah nol, namun dalam proses ini, saya yang sejati adalah satu. Untuk menjalankan proses ini saya diberi potensi di bawah nol ataupun di atas nol oleh nol. Saya tidak boleh menjadi di bawah nol, sehingga kesadaran murni adalah satu. Namun, saya yang satu tidak selalu mudah menjadi satu, bahkan tidak pernah menjadi satu apalagi kembali menjadi nol. Adanya kenyataan di bawah nol dan di atas satu membuat saya sulit untuk menjadi satu. Seringkali menjadi minus lima atau plus lima, kadangkala minus seratus atau plus seratus, dst.

 Karena tidak pernah menjadi satu, paling tidak untuk menjalani proses ini, si saya harus ingat dengan satu. Hanya satulah yang selaras dengan hukum pasti penciptaan (baik).

Komentar