Saya
yang sebenarnya, bukanlah saya yang dapat dilihat dengan mata, didengar dengan
telinga, dicium dengan hidung dan diraba dengan kulit. Saya yang ditugaskan
untuk masuk ke dalam sebuah jasad berbeda dengan jasad itu sendiri. Saya yang
sebenarnya juga berbeda dengan saya yang disatukan dengan jasad dan ditugaskan
untuk menjalani sebuah proses yang disebut sebagai kehidupan.
Sekarang,
saya tidak bisa menjadi saya yang sebenarnya secara utuh. Bahkan, seringkali
saya lupa bahwa saya bukan jasad atau penyatuan antara saya dengan jasad. Hal
ini dikarenakan saya sekarang adalah saya dengan jasad yang ditugaskan untuk
menyatu dan menjalani proses kehidupan.
Saya
yang sejati adalah nol, namun dalam proses ini, saya yang sejati adalah satu.
Untuk menjalankan proses ini saya diberi potensi di bawah nol ataupun di atas nol
oleh nol. Saya tidak boleh menjadi di bawah nol, sehingga kesadaran murni adalah
satu. Namun, saya yang satu tidak selalu mudah menjadi satu, bahkan tidak
pernah menjadi satu apalagi kembali menjadi nol. Adanya kenyataan di bawah nol
dan di atas satu membuat saya sulit untuk menjadi satu. Seringkali menjadi minus
lima atau plus lima, kadangkala minus seratus atau plus seratus, dst.
Karena
tidak pernah menjadi satu, paling tidak untuk menjalani proses ini, si saya
harus ingat dengan satu. Hanya satulah yang selaras dengan hukum pasti
penciptaan (baik).
Komentar
Posting Komentar