Cintanya Allah memang tak terbatas, walaupun (mungkin) mayoritas
manusia sebagai makhluk ciptaan yang sangat diistimewakan-Nya sering memanfaatkan-Nya untuk memenuhi kesenangan-kesenangan pribadi tetapi tak pernah
sedikitpun Dia secara tiba-tiba mengambil habis oksigen dari bumi, membuang air
habis dari bumi, memberhentikan bumi berputar. Kalaupun dalam Al-Qur’an Dia
mengatakan bahwa Dia pernah menghancurkan berbagai kaum dengan berbagai bencana
besar, itu adalah wujud konsistensi tak terbatas-Nya atas berbagai perintah dan
aturan-aturan yang diperintahkan kepada alam, karena pada dasarnya, saat itu
seperti itulah yang harus terjadi pada alam (silahkan dipelajari hukum-hukum
dasar alam, seperti bagaimana air bisa menguap atau membeku, gravitasi atau
bagaimana udara bisa bergerak). Tetapi secara mesra, Allah membuat sebuah
retorika peringatan bagi manusia, dan itu tidak untuk kepentingan-Nya, tetapi
untuk kepentingan umat manusia sendiri. Dia ingin manusia menjadi lebih baik,
lebih baik dan lebih baik lagi dari manusia-manusia terdahulu.
Dia juga menciptakan hikmah, yang seringkali hal tersebut didapatkan dari pendidikan yang Dia berikan kepada umat manusia melalui berbagai pengalaman dan peristiwa kehidupan. Yang pasti tidak ada satu pun titik kehidupan yang direncanakan-Nya bukan untuk kebaikan manusia. Padahal Dia tidak butuh apa-apa. Cinta manusia yang sebesar apapun tidak akan berpengaruh apa-apa bagi Dia. Dengan keadaan yang seperti itu, ternyata Dia tidak pernah tidak cinta kepada manusia, bahkan ketika mayoritas manusia melakukan pengkhianatan-pengkhianatan kepada diri-Nya.
Permasalahannya adalah pada diriku, mungkin juga pada dirimu, sudahkah kita tahu, siapa yang sebenarnya patut kita cintai dengan cinta terbesar yang kita miliki ?
Dia juga menciptakan hikmah, yang seringkali hal tersebut didapatkan dari pendidikan yang Dia berikan kepada umat manusia melalui berbagai pengalaman dan peristiwa kehidupan. Yang pasti tidak ada satu pun titik kehidupan yang direncanakan-Nya bukan untuk kebaikan manusia. Padahal Dia tidak butuh apa-apa. Cinta manusia yang sebesar apapun tidak akan berpengaruh apa-apa bagi Dia. Dengan keadaan yang seperti itu, ternyata Dia tidak pernah tidak cinta kepada manusia, bahkan ketika mayoritas manusia melakukan pengkhianatan-pengkhianatan kepada diri-Nya.
Permasalahannya adalah pada diriku, mungkin juga pada dirimu, sudahkah kita tahu, siapa yang sebenarnya patut kita cintai dengan cinta terbesar yang kita miliki ?
Komentar
Posting Komentar