Terlihat wajah ceria mereka. Sekumpulan anak kecil, bermain-main di
dalam ruang kelas. Tidak terlihat sedikitpun dalam wajahnya kesedihan,
kekecewaan. Yang ada hanyalah selalu ceria. Lugu, jujur, menjadi diri mereka
itu sendiri, itulah mereka. Di tengah ketidaktahuannya, mereka sedang merdeka.
Mereka lebih merdeka dari guru-guru mereka. Tetapi terkadang guru-guru
merenggut kemerdekaan mereka. Suasana menjadi hening sejenak. Hanya sejenak,
setelah itu mereka merdeka kembali. Itulah mereka, sangat otentik.
Perjalanan hidup manusia bukanlah hanya sebuah perjalanan lahir
yang disimbolkan dengan bertambahnya ukuran tubuh, bertambah tinggi, bertambah
berat. Tetapi juga perjalanan batin manusia, dari anak-anak hingga dewasa. Dalam
perjalanan itu sering tidak beriringan, secara lahir tumbuh tetapi secara batin
tidak tumbuh. Output utamanya bukanlah pada semakin banyaknya pengetahuan-pengetahuan
kognitif tetapi perilaku.
Anak kecil itu, tergesa-gesa, pinginan (mudah terpengaruh ingin memiliki sesuatu), mudah marah tetapi juga mudah memaafkan, manja, latah. Latah yang dimaksud adalah latah secara simbolis, bukan latah karena kaget lalu mengucapkan sesuatu yang sama dengan orang yang membuatnya kaget. Latah secara simbolis adalah latah karena apa yang dilakukannya merupakan tiruan dari orang-orang di sekitarnya, jika orang-orang disekitarnya sering mengumpat maka jangan heran jika dia suka mengumpat.
Menjadi dewasa adalah sebuah perjalanan untuk mengurangi sifat-sifat seperti yang dijelaskan pada paragraf diatas sampai kepada tingkatan yang sangat-sangat minim. Musuh terbesar dalam perjalanan itu adalah diri sendiri, nafsu. Ketika masih kecil, seseorang belum punya daya kendali, sehingga ego rendah sangat sulit dikendalikan, di sini yang berperan adalah orang tua. Tetapi ego-ego rendah itu tingkatannya masih kecil. Semakin dewasa manusia, maka ukuran ego rendah itu semakin besar sehingga gejolaknya pun semakin sulit untuk dikendalikan. Namun, semakin dewasa manusia ia mempunyai alat pengendali yang ia dapatkan dari pembelajaran hidup. Gejolak nafsu itu semakin besar ketika manusia menjelang remaja. Semakin besar lagi ketika remaja, di sinilah puncaknya. Kemudian semakin berkurang jika sudah memasuki fase dewasa awal, dan benar-benar netral ketika sudah dewasa.
Menjadi netral ketika sudah memasuki fase dewasa akan terjadi jika prosesnya berjalan dengan lancar. Banyak proses-proses yang berjalan tidak lancar. Sehingga, ketika sudah memasuki fase dewasa gejolak jiwa tidak bisa dinetralkan. Ia tidak mempunyai alat pengendali yang mumpuni sehingga ia tidak benar-benar menjadi dewasa. Ia naik kelas dengan tidak wajar, kelihatannya sudah dewasa ternyata belum. Silahkan diamati, apakah yang menjadi mainstream saat ini adalah manusia yang benar-benar dewasa, atau manusia yang kelihatannya dewasa?
Anak kecil itu, tergesa-gesa, pinginan (mudah terpengaruh ingin memiliki sesuatu), mudah marah tetapi juga mudah memaafkan, manja, latah. Latah yang dimaksud adalah latah secara simbolis, bukan latah karena kaget lalu mengucapkan sesuatu yang sama dengan orang yang membuatnya kaget. Latah secara simbolis adalah latah karena apa yang dilakukannya merupakan tiruan dari orang-orang di sekitarnya, jika orang-orang disekitarnya sering mengumpat maka jangan heran jika dia suka mengumpat.
Menjadi dewasa adalah sebuah perjalanan untuk mengurangi sifat-sifat seperti yang dijelaskan pada paragraf diatas sampai kepada tingkatan yang sangat-sangat minim. Musuh terbesar dalam perjalanan itu adalah diri sendiri, nafsu. Ketika masih kecil, seseorang belum punya daya kendali, sehingga ego rendah sangat sulit dikendalikan, di sini yang berperan adalah orang tua. Tetapi ego-ego rendah itu tingkatannya masih kecil. Semakin dewasa manusia, maka ukuran ego rendah itu semakin besar sehingga gejolaknya pun semakin sulit untuk dikendalikan. Namun, semakin dewasa manusia ia mempunyai alat pengendali yang ia dapatkan dari pembelajaran hidup. Gejolak nafsu itu semakin besar ketika manusia menjelang remaja. Semakin besar lagi ketika remaja, di sinilah puncaknya. Kemudian semakin berkurang jika sudah memasuki fase dewasa awal, dan benar-benar netral ketika sudah dewasa.
Menjadi netral ketika sudah memasuki fase dewasa akan terjadi jika prosesnya berjalan dengan lancar. Banyak proses-proses yang berjalan tidak lancar. Sehingga, ketika sudah memasuki fase dewasa gejolak jiwa tidak bisa dinetralkan. Ia tidak mempunyai alat pengendali yang mumpuni sehingga ia tidak benar-benar menjadi dewasa. Ia naik kelas dengan tidak wajar, kelihatannya sudah dewasa ternyata belum. Silahkan diamati, apakah yang menjadi mainstream saat ini adalah manusia yang benar-benar dewasa, atau manusia yang kelihatannya dewasa?
Komentar
Posting Komentar