Tergila-gila aktivitas, itulah kalimat pendek yang sesuai dengan
fenomena yang dewasa ini sering terjadi. Manusia menjadi tergila-gila
aktivitas. Tidak peduli apa tujuan dari aktivitas itu, penting atau tidak,
bermakna atau tidak, yang penting beraktivitas. Karena kalau tidak
beraktivitas, pikiran menjadi kacau, tidak terarah. Kebahagiaan hanya akan tercapai
dengan beraktivitas.
Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa hidup menjadi semakin tidak terarah, tidak bermakna ? Apakah kebahagiaan mulai berpindah tempat, ataukah manusia sudah tidak memberi tempat lagi di dalam dirinya bagi kebahagiaan itu sendiri ?
Sibuk, gelisah, mengernyitkan dahi, itulah kondisi yang harus diciptakan oleh manusia, supaya mereka terbebas dari predikat nganggur. Predikat yang sangat menakutkan bagi manusia dewasa ini, terutama kaum pemuda. Kalau sudah sibuk, gelisah, mengernyitkan dahi langkah berikutnya adalah mendapatkan uang dari kondisi-kondisi yang telah diciptakan itu. Sehingga aktivitas-aktivitas itu bisa dianggap bernilai dan berarti bagi mayoritas manusia.
Aktivitas adalah selalu yang berkaitan dengan sesuatu yang kelihatan. Sesuatu yang bisa dicerna dengan panca indera. Kalau tidak bisa dicerna dengan panca indera bukan aktivitas namanya. Artinya pandangan manusia hanya terbatas pada materi, yang bersifat substansial tidak berguna. Hiburan harus berkelap-kelip menyilaukan mata, biasanya disebut elegan, mewah. Selain itu, hiburan haruslah juga bersifat mengumbar syahwat, karena kalau tidak ada unsur syahwat tidak menarik. Cantik, tampan, putih, mewah, pandai, pintar, kaya. Kalau sudah seperti itu manusia akan terkagum-kagum. Bagi yang dikagumi terpupuklah kebanggaan-kebanggaan. Kebanggaan-kebanggan itu dianggap menginspirasi, orang-orang yang kagum tadi mulai mengikuti cara-cara untuk menjadi cantik, tampan, putih, mewah, pandai, pintar supaya eksistensinya dianggap ada syukur-syukur mencapai tingkat eksistensi tertinggi, yaitu eksistensi yang penuh pujian.
Ladang tanpa batas yang merupakan anugerah dari Sang Sejati menjadi tidak berarti. Aktivitas tanam-menanam di dalam ladang itu sudah tidak diakui. Ladang maha luas itu mulai ditinggalkan. Padahal dalam ladang maha luas itu manusia bisa bertemu Sang Sejati. “Apa iya?”, kata mereka. “Memang tidak, kebahagiaan itu ada disini, ketika mata bisa melihat sesuatu yang kelihatannya indah, telinga bisa mendengarkan suara yang kedengarannya indah, lidah bisa mengecap makanan yang kayaknya rasa-rasanya lezat, hidung bisa mencium aroma yang kayaknya wangi, kulit bisa meraba sesuatu yang sepertinya halus.”, jawab yang lain.
Apa yang sebenarnya terjadi ? Kenapa hidup menjadi semakin tidak terarah, tidak bermakna ? Apakah kebahagiaan mulai berpindah tempat, ataukah manusia sudah tidak memberi tempat lagi di dalam dirinya bagi kebahagiaan itu sendiri ?
Sibuk, gelisah, mengernyitkan dahi, itulah kondisi yang harus diciptakan oleh manusia, supaya mereka terbebas dari predikat nganggur. Predikat yang sangat menakutkan bagi manusia dewasa ini, terutama kaum pemuda. Kalau sudah sibuk, gelisah, mengernyitkan dahi langkah berikutnya adalah mendapatkan uang dari kondisi-kondisi yang telah diciptakan itu. Sehingga aktivitas-aktivitas itu bisa dianggap bernilai dan berarti bagi mayoritas manusia.
Aktivitas adalah selalu yang berkaitan dengan sesuatu yang kelihatan. Sesuatu yang bisa dicerna dengan panca indera. Kalau tidak bisa dicerna dengan panca indera bukan aktivitas namanya. Artinya pandangan manusia hanya terbatas pada materi, yang bersifat substansial tidak berguna. Hiburan harus berkelap-kelip menyilaukan mata, biasanya disebut elegan, mewah. Selain itu, hiburan haruslah juga bersifat mengumbar syahwat, karena kalau tidak ada unsur syahwat tidak menarik. Cantik, tampan, putih, mewah, pandai, pintar, kaya. Kalau sudah seperti itu manusia akan terkagum-kagum. Bagi yang dikagumi terpupuklah kebanggaan-kebanggaan. Kebanggaan-kebanggan itu dianggap menginspirasi, orang-orang yang kagum tadi mulai mengikuti cara-cara untuk menjadi cantik, tampan, putih, mewah, pandai, pintar supaya eksistensinya dianggap ada syukur-syukur mencapai tingkat eksistensi tertinggi, yaitu eksistensi yang penuh pujian.
Ladang tanpa batas yang merupakan anugerah dari Sang Sejati menjadi tidak berarti. Aktivitas tanam-menanam di dalam ladang itu sudah tidak diakui. Ladang maha luas itu mulai ditinggalkan. Padahal dalam ladang maha luas itu manusia bisa bertemu Sang Sejati. “Apa iya?”, kata mereka. “Memang tidak, kebahagiaan itu ada disini, ketika mata bisa melihat sesuatu yang kelihatannya indah, telinga bisa mendengarkan suara yang kedengarannya indah, lidah bisa mengecap makanan yang kayaknya rasa-rasanya lezat, hidung bisa mencium aroma yang kayaknya wangi, kulit bisa meraba sesuatu yang sepertinya halus.”, jawab yang lain.
Komentar
Posting Komentar