Pada
pengetahuan tentang agama Islam yang berkembang di masyarakat salah satu yang
cukup banyak diketahui orang serta dimasukkan dalam buku-buku sekolah formal
pendidikan agama islam adalah tanda-tanda kiamat. Beberapa tanda kiamat yang
populer dalam pengetahuan tersebut adalah matahari terbit dari barat, munculnya
Dajjal, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, datangnya Nabi Isa.
Beberapa
tanda tersebut sampai sekarang masih menjadi perbincangan yang cukup seru di
masyarakat. Banyak orang memberikan analisisnya tentang beberapa tanda tersebut.
Dan kebanyakan orang, antusiasmenya dalam memperbincangkan dan memberikan
analisis terhadap tanda-tanda tersebut masih sama dengan antusiasmenya ketika
akan nonton film hollywood favoritnya. Keseruan perbincangan tentang
tanda-tanda kiamat sama dengan keseruan ketika memperbincangkan film Ironman, Avenger,
Batman, Justice League atau Transformer.
Hal
tersebut menunjukkan bahwa yang menjadi titik fokus dan perhatian imajinasi
pada saat memperbincangkannya adalah membayangkan di kepala bahwa matahari
dalam maknanya yang denotatif itu muncul dari barat, Dajjal yang bermata satu
dibayangkan sebagai sebuah monster ala-ala marvel yang muncul di bumi, ya’juj
ma’juj dibayangkan sebagai makhluk aneh seperti dalam film The Lord Of The Ring
yang muncul di bumi dan turunnya Nabi Isa AS dibayangkan sebagai superman yang
berasal dari planet Krypton. Sangat dongeng sentris yang materi sentris.
Seperti
cerita pewayangan, sangat mungkin tanda-tanda kiamat dari berbagai sumber
termasuk Al-Qur’an dan Hadits adalah simbol-simbol yang jika diurai maknanya
akan sangat luas. Sampai sekarang banyak orang menafsirkan matahari terbit dari
barat dengan memberikan analisis astronomi tentang matahari secara fisik yang
akan muncul dari barat tanpa pernah berpikir bahwa matahari dari barat adalah
simbol dari zaman yang peradabannya dipimpin oleh negara barat. Dimulai
semenjak rennaisance yang pada perjalannya menghilangkan, memalsukan data-data
sejarah dan salah satu efeknya adalah sebuah image yang terbangun di dunia
bahwa pelopor peradaban yang terbaik berasal dari dunia barat. Dunia barat
menjadi kiblat, cahaya berasal dari barat, seakan-akan matahari itu terbit dari
barat.
Dajjal
dipahami secara materilsme, sehingga di internet ramai memperbincangkan tentang
bayi lahir dengan mata satu yang dipahami sebagai dajjal. Dan tidak pernah
terpikirkan sedikit bahwa sindikat internasional yang menyebarkan media
pelumpuhan logika dan moral, menciptakan fitnah-fitnah yang menyebabkan arab
spring adalah bagian gerak langkah dajjal.
Ya’juj
dan Ma’juj diimajinasikan seperti dalam film The Lord Of The Ring atau The
Hobbit tanpa pernah berpikir bahwa sekarang Ya’juj dan Ma’juj turun dari tempat
tinggi (utara) melakukan ekspansi-ekspansinya ke bawah (wilayah selatan). Juga
semangat Ya’juj dan Ma’juj (mata sipit = cara pandang yang sempit) sedang
populer-populernya terutama di kalangan para cerdik pandai (sarjana-sarjana).
Nabi
Isa AS dibayangkan orang yang turun dari langit seperti Superman yang dengan
mudahnya pulang pergi Krypton-Bumi. Tanpa pernah terbersit bahwa itu merupakan
simbol dari kembalinya umat ke zaman pra
Muhammad dalam jangka yang agak jauh (zaman Nabi Isa). Atas nama HAM orang
melaknat sesuatu yang bersifat keras. Menganggap bahwa solusi yang terbaik dari
berbagai permasalahan adalah cinta yang hanya bersifat lembut saja. Seperti
Nabi Isa yang tidak mau membalas tamparan orang dan dipersilahkan menampar pipi
yang belum ditampar. Cinta yang identik dengan kelembutan total. Tanpa pernah mempertimbangkan
cinta juga perlu kebijaksanaan. Sebagaimana Nabi Muhammad yang penyikapannya
matang ketika perang ya perang, tidak hanya diam saja membiarkan musuh membunuh
kita dengan seenaknya. Ketika membutuhkan kelembutan ya lembut. Sekarang manusia
mengutuk kekerasan, guru menertibkan murid saja dipidanakan, berkelahi
jambak-jambakan rambut langsung lapor polisi. Tidak pernah dipahami bahwa hidup
itu ada wilayah kerasnya, juga ada wilayah lembutnya, luas dan harus disikapi
secara bijaksana. Semua berlangsung secara variatif tidak linier.
Cara
pandang tersebut tidak hanya berhenti pada wilayah-wilayah tersebut. Wayang,
dongeng yunani kuno, mesir kuno semua dipahami sebatas apa yang tersurat.
Padahal Semar, Zeus, Isish bukanlah berhenti pada yang tersurat. Sangat luas othak-athik gathuk-nya. Akhirnya
terjebak pada posisi menyalah-nyalahkan, mengutuk-ngutuk, mengkafir-kafirkan.
Komentar
Posting Komentar