Langsung ke konten utama

Lebih Dekat dari Urat Leher

Sekarang-sekarang ini adalah zaman yang disadari mengalami berbagai ketimpangan tetapi orang-orang serasa tidak bisa untuk memperbaikinya. Kita tahu bahwa perbuatan ini tidak benar tetapi kita juga tak kunjung berubah untuk tidak melakukannya. Apalagi mengharapkan perubahan besar yang ada di luar dirinya. Perubahan masyarakat desa misalnya. Atau mungkin perubahan masyarakat dengan skala nasional.

Jujur menjadi sangat mahal. Bahkan jujur kepada diri sendiri pun sangat sulit. Misalnya, mengatakan, “saya tidak betah, suntuk dengan budaya mainstream yang cenderung negatif “, kepada diri sendiri saja sulit. Seringkali terbentur dengan kata hati, “kalau tidak seperti itu bagaimana saya bisa bergaul dengan mereka”. Apalagi wilayah jujur yang lebih luas dan kompleks, benar-benar sulit.

Energi manusia serasa habis untuk melakukan kebohongan-kebohongan. Mulai dari membohongi diri sendiri sampai membohongi yang ada di luar dirinya. Bohong seakan-akan dilegitimasi oleh masyarakat luas sebagai sesuatu yang wajib dilakukan. Kebohongan dipahami sebagai politik. Kebohongan dipahami sebagai profesionalitas.

Kita tidak tahu sampai kapan manusia terus menerus memakai kebohongan sebagai sesuatu yang disepakati bersama asalkan perut terpenuhi. Kita tidak tahu sampai kapan kalimat, “isin ora wareg (malu tidak kenyang)” akan terus populer di masyarakat. Kita tidak tahu sampai kapan manusia mengalami frustrasi sehingga bohong dianggap sebagai sesuatu yang benar.

Sudah saatnya manusia mengakui kesalahannya kepada Tuhan. Tantangan perang melawan Tuhan yang digagas semenjak manusia memproklamirkan diri sebagai makhluk modern kelihatannya telah mendapatkan jawaban dan kekalahan yang cukup telak. Mari kita kembali bersahabat dengan Tuhan. Karena, memang Dia lebih dekat dari urat leher kita.

Komentar