Esai tidak terhitung sebagai karya sastra. Juga
tidak terhitung sebagai karya ilmiah. Esai hanya sebatas opini, argumentasi
seseorang yang dikomunikasikan melalui tulisan.
Posisi esai yang seperti itu justru membuat esai
menjadi fleksibel dan dinamis.Terkadang bisa berbentuk seperti cerita.
Terkadang bisa juga berbentuk seperti tulisan ilmiah. Fleksibilitas dan
dinamisitas tersebut memungkinkan seseorang menulis tema apa saja dalam bentuk
yang tidak terpaku pada pakem-pakem tertentu.
Bukan bermaksud muluk-muluk dalam memberikan sebuah
perumpamaan, esai itu posisinya seperti umat islam. Rasulullah menyuruh umat
islam memilih posisi yang tengah-tengah. Misalnya, untuk memutuskan suatu hukum
tidak seperti yahudi yang harus dibalas sepadan. Atau seperti kaum nabi isa
yang tidak boleh membalas sedikitpun. Allah mengatakan boleh membalas secara
sepadan tetapi apabila mampu memaafkan akan sangat mulia derajat manusia
tersebut.
Posisi esai yang berada di tengah-tengah sehingga
bersifat fleksibel dan dinamis tersebut membuat esai menjadi cara bertutur yang
bisa dijadikan pilihan untuk mengkomunikasikan sesuatu. Esai tidak membuang
sastra, juga tidak menafikan ilmiah. Esai adalah seni yang ilmiah, sekaligus
ilmiah yang seni.
Maka, tidak heran jika di tahun-tahun terakhir ini
banyak sekali buku-buku kumpulan esai yang populer. Karena, ketika membaca esai
ada sebuah keasyikan tersendiri. Rasaa-rasanya seperti membaca karya sastra
ternyata bukan. Rasa-rasanya seperti membaca tulisan ilmiah, ternyata bukan.
Yang pasti, bahasa yang dipakai cukup menyenangkan dan membangkitkan rasa
penasaran kita.
Berislam, seharusnya juga seperti beresai. Fleksibel
dan dinamis. Tersampaikan dengan cara yang menyenangkan. Juga tidak terjebak
pada pakem-pakem tertentu. Tetapi, juga tidak mengabaikan akurasi berpikir.
Komentar
Posting Komentar