Jika
kita runtut, berbagai permasalahan yang dialami oleh manusia saat ini adalah
karena ketidakseimbangan dalam berbagai wilayah kehidupan. Wilayah yang
sebenarnya membutuhkan ke-dinamis-an seperti ilmu malah menjadi statis. Wilayah
yang membutuhkan ke-statis-an seperti peraturan malah dinamis. Manusia
mengalami berbagai kebingungan yang tak kunjung bisa ia putuskan bagaimana yang
paling tepat.
Para
pembelajar ilmu pendidikan kebingungan, sebenarnya yang dipelajari dalam ilmu
pendidikan adalah ilmu pendidikan itu sendiri atau penguasaan administrasi guru
yang pada prakteknya hanya sebatas syarat menerima gaji. Masyarakat juga
kebingungan, sebenarnya waktu masuk kerja para pelayan rakyat yang digaji oleh
rakyat itu peraturan yang wajib dipatuhi atau bersifat dinamis dan fleksibel.
Orang
yang taat menjalankan ritual keagamaan kebingungan sebenarnya hidup itu
tujuannya untuk beribadah dalam bentuk yang paling padat seperti ritual-ritual
atau bagaimana. Kalau ibadah dalam bentuk ritual bukan tujuan kenapa ada ibadah
berbentuk ritual diwajibkan oleh Tuhan.
Pejuang
sosial juga mengalami kebingungan. Mengabdi kepada Tuhan itu yang benar adalah
rajin beribadah secara ritual atau sosial. Kalau memang yang paling utama
adalah ritual apakah wilayah sosial diabaikan begitu saja.
Keadaan
tersebut terus terjadi sehingga naluri keseimbangan sedikit demi sedikit
menjadi tidak berfungsi secara maksimal. Sampai-sampai memutuskan suatu
keputusan yang sepele pun menjadi kesulitan dan sangat mungkin berujung kepada
keputusan yang tidak tepat. Misalnya, jelas-jelas perut sedang mulas, di depan
mata ada dua pilihan makanan pedas dan tidak pedas, orang tersebut berpikir
lama sekali, akhirnya ia memutuskan mengambil makanan pedas karena ia suka dengan
makanan pedas.
Untuk
menyikapi ketidakseimbangan agaknya cukup tepat jika sesekali mengambil jarak
dengan ketidakseimbangan tersebut. Apakah ketidakseimbangan itu tidak ada
sangkut pautnya denga Tuhan. Atau ketidakseimbangan itu adalah bagian dari Maha
berkerjanya Tuhan. Kalau bukan bagian dari Maha bekerja-Nya Tuhan di wilayah
hidup bagian mana Tuhan tidak Maha Bekerja.
Dalam
hal tersebut agaknya kita harus sedikit mengingat kisah Nabi Musa ketika beliau
merasa paling dekat dengan Tuhan kemudian beliau ditegur oleh Tuhan dan diberi
tahu ternyata ada yang lebih dekat dengan Tuhan. Orang tersebut adalah seorang
laki-laki tua renta yang sakit parah dan tidak kunjung sembuh. Ketika ditawari
oleh Nabi Musa didoakan untuk kesembuhan oleh beliau tidak mau. “Jika memang
ini adalah kehendak Tuhan saya menerimanya dengan ikhlas”, kata lelaki tua
tersebut.
Mungkin
keadaan yang penuh ketidakseimbangan ini bertujuan sama dengan diberikannya
sakit kepada lelaki tua tersebut. Dan tidak ada salahnya jika kita mencoba meneladani
lelaki tua tersebut, sambil terus membaca kehidupan supaya Tuhan menyingkapkan
hijab-hijabnya. Sehingga kita bisa mengerti sedikit-sedikit seperti apa
keinginan Tuhan.
Komentar
Posting Komentar