Langsung ke konten utama

Meneladani Keikhlasan Lelaki Tua Sakit-sakitan

Jika kita runtut, berbagai permasalahan yang dialami oleh manusia saat ini adalah karena ketidakseimbangan dalam berbagai wilayah kehidupan. Wilayah yang sebenarnya membutuhkan ke-dinamis-an seperti ilmu malah menjadi statis. Wilayah yang membutuhkan ke-statis-an seperti peraturan malah dinamis. Manusia mengalami berbagai kebingungan yang tak kunjung bisa ia putuskan bagaimana yang paling tepat.

Para pembelajar ilmu pendidikan kebingungan, sebenarnya yang dipelajari dalam ilmu pendidikan adalah ilmu pendidikan itu sendiri atau penguasaan administrasi guru yang pada prakteknya hanya sebatas syarat menerima gaji. Masyarakat juga kebingungan, sebenarnya waktu masuk kerja para pelayan rakyat yang digaji oleh rakyat itu peraturan yang wajib dipatuhi atau bersifat dinamis dan fleksibel.

Orang yang taat menjalankan ritual keagamaan kebingungan sebenarnya hidup itu tujuannya untuk beribadah dalam bentuk yang paling padat seperti ritual-ritual atau bagaimana. Kalau ibadah dalam bentuk ritual bukan tujuan kenapa ada ibadah berbentuk ritual diwajibkan oleh Tuhan.

Pejuang sosial juga mengalami kebingungan. Mengabdi kepada Tuhan itu yang benar adalah rajin beribadah secara ritual atau sosial. Kalau memang yang paling utama adalah ritual apakah wilayah sosial diabaikan begitu saja.

Keadaan tersebut terus terjadi sehingga naluri keseimbangan sedikit demi sedikit menjadi tidak berfungsi secara maksimal. Sampai-sampai memutuskan suatu keputusan yang sepele pun menjadi kesulitan dan sangat mungkin berujung kepada keputusan yang tidak tepat. Misalnya, jelas-jelas perut sedang mulas, di depan mata ada dua pilihan makanan pedas dan tidak pedas, orang tersebut berpikir lama sekali, akhirnya ia memutuskan mengambil makanan pedas karena ia suka dengan makanan pedas.

Untuk menyikapi ketidakseimbangan agaknya cukup tepat jika sesekali mengambil jarak dengan ketidakseimbangan tersebut. Apakah ketidakseimbangan itu tidak ada sangkut pautnya denga Tuhan. Atau ketidakseimbangan itu adalah bagian dari Maha berkerjanya Tuhan. Kalau bukan bagian dari Maha bekerja-Nya Tuhan di wilayah hidup bagian mana Tuhan tidak Maha Bekerja.

Dalam hal tersebut agaknya kita harus sedikit mengingat kisah Nabi Musa ketika beliau merasa paling dekat dengan Tuhan kemudian beliau ditegur oleh Tuhan dan diberi tahu ternyata ada yang lebih dekat dengan Tuhan. Orang tersebut adalah seorang laki-laki tua renta yang sakit parah dan tidak kunjung sembuh. Ketika ditawari oleh Nabi Musa didoakan untuk kesembuhan oleh beliau tidak mau. “Jika memang ini adalah kehendak Tuhan saya menerimanya dengan ikhlas”, kata lelaki tua tersebut.

Mungkin keadaan yang penuh ketidakseimbangan ini bertujuan sama dengan diberikannya sakit kepada lelaki tua tersebut. Dan tidak ada salahnya jika kita mencoba meneladani lelaki tua tersebut, sambil terus membaca kehidupan supaya Tuhan menyingkapkan hijab-hijabnya. Sehingga kita bisa mengerti sedikit-sedikit seperti apa keinginan Tuhan.

Komentar