Suasana kondusif (bukan lemas) di siang hari ketika bulan Ramadlan sangat terasa. Aktivitas berjalan seperti biasanya. Orang-orang memperlihatkan bahwa kegitatan yang berhubungan dengan keduniaan, mengejar materi, kemewahan tidak perlu dijalani melebihi batas kewajaran. Istilah Jawanya sak madya wae.
Mungkin hal tersebut ada hubungannya dengan jumlah konsumsi makanan yang dimakan oleh seseorang. Dan menurut saya hal tersebut bukanlah suatu peristiwa perihal kejasmaian saja. Maksudnya, karena makan sedikit kurang tenaga sehingga orang jadi lemas. Bukan seperti itu, tetapi peristiwa psikologis. Makan dalam jumah yang tak terbatas mempengaruhi psikologi seseorang, apakah ia menjadi agresif dalam urusan tertentu atau malah sebaliknya pasif dalam urusan tertentu. Bisa dicek dalam sejarah, orang-orang yang berpengaruh dalam sejarah kebanyakan orang-orang yang lebih sedikit makan. Sehingga pengertian banyak makan banyak tenaga saya kira kurang sesuai dengan kenyataan yang ada.
Makanya ada hukum halal dan haram. Sehingga manusia benar-benar bisa lebih ketat membatasi porsi dan apa yang dimakan. Coba kalau tidak ada pembatasan seperti itu akan seperti apa serakahnya manusia. Sudah ada pembatasan saja masih serakah.
Keadaan kondusif itu berubah drastis menjelang waktu akhir. Baik akhir dalam satu hari ataupun akhir dalam satu bulan. Akhir dalam satu hari atau menjelang buka orang-orang kembali menjadi agresif. Mereka melakukan kegiatan jual beli dalam porsi yang lebih, bahkan lebih dari hari-hari selain hari di bulan Ramadlan. Bagi yang menjalankan puasa dalam arti yang terendah, benar-benar mendapatkan kesempatan untuk melampiaskan apa yang sudah ditahan selama sehari penuh. Bagi penjual, kesempatan yang luar biasa dalam menaikkan omsetnya.
Akhir dalam satu bulan, misalnya sepuluh hari terakhir bulan Ramadlan juga diisi dengan kondisi konsumtif yang luar biasa. Ribuan orang melakukan aktivitas jual beli dalam jumlah yang tak terbatas untuk semua jenis barang dagangan, mulai dari makanan, pakaian, kendaraan, pokoknya hal apa saja yang bisa ditampakkan ketika lebaran tiba.
Dinamika kondusifitas Ramadlan tersebut menunjukkan bahwa manusia benar-benar harus belajar kepada bulan Ramadlan. Bukan hanya sekedar menjalani tanpa ada penghayatan dan pemaknaan-pemaknaan tertentu. Manusia harus bisa menentukan batas-batasnya. Apalagi di zaman yang begitu mengunggulkan ketidakterbatasan ini.
Selanjutnya tinggal memilih, selama hidup, apakah mau mempertahankan kondusifitas dengan cara menentukan batas-batas dan konsisten dengan batas-batas tersebut. Atau tidak peduli dengan batas dan terus menjadi agresif sampai akhir hayat.
Komentar
Posting Komentar