Anut
grubyuk, elu-elu, ikut-ikutan adalah penyakit latah yang
menghinggapi banyak manusia. Tak terkecuali di bulan Ramadlan. Karena yang
sedang populer adalah materialisme, yang prosesnya melalui kapitalisme maka
Ramadlan harus berbau materialisme, kapitalisme. Maka tidak heran kalau di
bulan Ramadlan tidak ada pasar Ramadlan bukan bulan Ramadlan namanya. Kalau di
bulan Ramadlan tidak ada peristiwa belanja kuliner berlebihan yang seringkali
diwujudkan dengan buka bersama bukan bulan Ramadlan namanya.
Bulan Ramadlan
adalah momentum yang sangat tepat bagi para kapitalis meraup keuntungan yang
luar biasa besar. Sehingga dengan cepat mereka mengondisikan suasana hingar
bingar Ramadlan berbau materialis tetapi tetap dianggap biasa-biasa saja.
Dan jelas-jelas hal tersebut bertolak belakang dengan prinsip puasa itu sendiri. Perilaku puasa dalam syari’t adalah sebuah pintu masuk untuk puasa yang lebih luas. Perilaku menahan diri yang tidak pernah selesai selama hidup. Karena memang hidup itu adalah bagaimana caranya membatasi diri secara akurat. Istirahat, tidur berlebihan disebut sebagai malas, maka kita harus membatasi istirahat kita. Bekerja keras dalam rangka mencari materi secara berlebihan disebut materialisme, maka kita harus membatasi kerja keras kita. Makan berlebihan disebut rakus, maka kita harus membatasi porsi makan kita. Supaya manusia tetap menjadi manusia diperlukan pembatasan, penentuan porsi dalam segala bidang secara akurat.
Kapitalisme adalah ambisi yang tak ada ujungnya, pengumpulan materi yang tak pernah ada akhirnya, kebanggaan akan pengumpulan, kepemilikan materi yang tak pernah kunjung ada batasnya.
Dalam sejarah kehidupan manusia tidak ada suatu kehancuran yang tidak berawal dari tindakan berlebihan. Lalu sampai kapan manusia lupa kepada dirinya, sehingga ia tidak mengerti bahwa ia sedang berproses menuju kehancuran.
Apakah di setiap bulan Ramadlan hanya akan menjadi anut grubyuk Ramadlan ?
Dan jelas-jelas hal tersebut bertolak belakang dengan prinsip puasa itu sendiri. Perilaku puasa dalam syari’t adalah sebuah pintu masuk untuk puasa yang lebih luas. Perilaku menahan diri yang tidak pernah selesai selama hidup. Karena memang hidup itu adalah bagaimana caranya membatasi diri secara akurat. Istirahat, tidur berlebihan disebut sebagai malas, maka kita harus membatasi istirahat kita. Bekerja keras dalam rangka mencari materi secara berlebihan disebut materialisme, maka kita harus membatasi kerja keras kita. Makan berlebihan disebut rakus, maka kita harus membatasi porsi makan kita. Supaya manusia tetap menjadi manusia diperlukan pembatasan, penentuan porsi dalam segala bidang secara akurat.
Kapitalisme adalah ambisi yang tak ada ujungnya, pengumpulan materi yang tak pernah ada akhirnya, kebanggaan akan pengumpulan, kepemilikan materi yang tak pernah kunjung ada batasnya.
Dalam sejarah kehidupan manusia tidak ada suatu kehancuran yang tidak berawal dari tindakan berlebihan. Lalu sampai kapan manusia lupa kepada dirinya, sehingga ia tidak mengerti bahwa ia sedang berproses menuju kehancuran.
Apakah di setiap bulan Ramadlan hanya akan menjadi anut grubyuk Ramadlan ?
Komentar
Posting Komentar