Puasa Ramadlan itu yang menyuruh Allah langsung.
Di negeri ini sudah terbukti. Kalau bukan karen Allah langsung, tidak akan
pernah ada, tidak akan pernah bisa nuansa Ramadlan begitu serempak terasa di
seluruh penjuru negeri. Siang, malam, begitu terasa berbeda nuansanya.
Namun, sayangnya keadaan itu masih dianggap sama dengan batu. Ada batu warna coklat, hitam, ungu, biru. Sehingga Ramadlan ya Ramadlan, Syawal ya Syawal. Melakukan kebaikan ya pas Ramadlan saja. Di luar itu bebas lagi. Tidak berbohong, tidak mencuri, tidak berzina hanya ketika Ramadlan saja. Selain bulan Ramadlan bebas.
Padahal, tidak ada apapun saja di dunia ini yang tidak komprehensif. Apakah itu dipahami sebagai lapisan atau dipahami sebagai lingkaran ataukah dipahami bulatan. Semua saling berhubungan satu sama lain. Kepala disebut kepala karena ada organ-organ tubuh yang lain. Kaki disebut kaki juga karena ada organ tubuh yang lain. Masing-masing ada warnanya, bentuknya, fungsinya sendiri tetapi tetap saja tidak bisa lepas dari kebersatuan fungsi.
Begitu juga Ramadlan. Bulan istimewa tersebut adalah bulan dimana manusia dipersilahkan dan diberi fasilitas luar biasa oleh Allah (sehingga suasana, nuansanya begitu kondusif) supaya manusia bisa belajar. Keberhasilan dari pembelajaran akan terbukti di bulan-bulan lain.
Apakah di bulan syawal (peningkatan) manusia akan mengalami peningkatan atau justru kemunduran. Begitu juga di bulan-bulan setelahnya.
Kalau mendengar kata peningkatan kelihatannya yang terbersit dalam pikiran kembali lagi ke batu tadi. Kalau sekarang punya batu biru besok tambah merah, besoknya tambah hitam. Artinya peningkatan itu dipahami sebatas kepemilikan. Kalau sebelum Ramadlan punya uang seratus ribu habis Ramadlan harusnya punya lima ratus ribu.
Kualitas manusia, kemanusiaan bukan terletak kepada kepemilikan. Tetapi kepada sesuatu tidak kasat mata yang outputnya adalah rasa saling menyayangi satu sama lain, saling menghormati satu sama lain, saling mengamankan satu sama lain.
Apakah kita masih akan menganggap Ramadlan sebagai batu ?
Namun, sayangnya keadaan itu masih dianggap sama dengan batu. Ada batu warna coklat, hitam, ungu, biru. Sehingga Ramadlan ya Ramadlan, Syawal ya Syawal. Melakukan kebaikan ya pas Ramadlan saja. Di luar itu bebas lagi. Tidak berbohong, tidak mencuri, tidak berzina hanya ketika Ramadlan saja. Selain bulan Ramadlan bebas.
Padahal, tidak ada apapun saja di dunia ini yang tidak komprehensif. Apakah itu dipahami sebagai lapisan atau dipahami sebagai lingkaran ataukah dipahami bulatan. Semua saling berhubungan satu sama lain. Kepala disebut kepala karena ada organ-organ tubuh yang lain. Kaki disebut kaki juga karena ada organ tubuh yang lain. Masing-masing ada warnanya, bentuknya, fungsinya sendiri tetapi tetap saja tidak bisa lepas dari kebersatuan fungsi.
Begitu juga Ramadlan. Bulan istimewa tersebut adalah bulan dimana manusia dipersilahkan dan diberi fasilitas luar biasa oleh Allah (sehingga suasana, nuansanya begitu kondusif) supaya manusia bisa belajar. Keberhasilan dari pembelajaran akan terbukti di bulan-bulan lain.
Apakah di bulan syawal (peningkatan) manusia akan mengalami peningkatan atau justru kemunduran. Begitu juga di bulan-bulan setelahnya.
Kalau mendengar kata peningkatan kelihatannya yang terbersit dalam pikiran kembali lagi ke batu tadi. Kalau sekarang punya batu biru besok tambah merah, besoknya tambah hitam. Artinya peningkatan itu dipahami sebatas kepemilikan. Kalau sebelum Ramadlan punya uang seratus ribu habis Ramadlan harusnya punya lima ratus ribu.
Kualitas manusia, kemanusiaan bukan terletak kepada kepemilikan. Tetapi kepada sesuatu tidak kasat mata yang outputnya adalah rasa saling menyayangi satu sama lain, saling menghormati satu sama lain, saling mengamankan satu sama lain.
Apakah kita masih akan menganggap Ramadlan sebagai batu ?
Komentar
Posting Komentar