Langsung ke konten utama

Padatan Ramadlan (Ramadlan 2)


Salah satu kebiasaan mayoritas manusia di zaman ini adalah memadatkan sesuatu secara sembarangan. Laki-laki dan perempuan hanya dipadatkan sebagai kelamin saja. Tidak dimaknai sebagai fungsi-fungsi sosial. Bagaimana fungsi sosial yang bersifat laki-laki, seperti keteguhan prinsip, ketegasan dalam mengambil keputusan. Bagaimana fungsi sosial yang bersifat perempuan, seperti menyayangi satu sama lain, bersikap lemah lembut kepada orang lain. 

Kurang dewasanya dalam memadat-madatkan sesuatu itu berujung kepada wilayah hati yang padat juga. Wilayah hati yang terhubung langsung dengan pemuasan-pemuasan fisik, yaitu syahwat. Karena manusia yang berkodrat laki-laki hanya menempatkan dirinya sebagai laki-laki dalam artian kelamin akhirnya dia menempatkan diri sebagai obyek seksual bagi seorang perempuan. Begitu juga perempuan, karena menganggap dirinya hanya terbatas pada kelamin ia menempatkan diri sebagai obyek seksual. Selanjutnya laki-laki menganggap perempuan sebagai obyek seksual, begitu juga perempuan menganggap laki-laki sebagai obyek seksual. Terbentuklah pola hidup yang syahwat sentris. Adapun bentuknya seperti berbagai hal yang mainstream di zaman modern ini. Film, sinetron, iklan, instagram adalah beberapa contoh dari pemadatan-pemadatan tersebut. 

Tak terkecuali puasa itu sendiri. Puasa yang paling padat yaitu puasa Ramadlan dianggap satu-satunya puasa. Atau puasa dalam artian tidak makan dan minum dianggap sebagai bentuk puasa yang sebenar-benarnya. 

Akhirnya hal yang terjadi adalah anggapan bahwa puasa sebatas tidak makan, tidak minum. Menjaga diri supaya tidak mudah marah tidak dianggap sebagai puasa. Daripada belajar untuk menjaga hati dari kotoran dan penyakit hati manusia malah sibuk dengan bertanya, “kalau sikat gigi di pagi hari itu puasanya batal atau tidak ?”. Padahal tidak ada sejengkal hidup pun di dunia yang tidak ada unsur puasanya.
 
Seharusnya Ramadlan bisa dihadirkan bukan hanya pada bulan Ramadlan. Ramadlan adalah padatan namun jangan dipahami sebagai padatan Ramdlan. Ramadlan adalah masa dimana manusia diberi kesempatan untuk belajar membatasi diri dari berbagai hal, sehingga apapun saja keuputusannya akan sesuai porsi, yang perwujudan nyatanya akan terbukti di sebelas bulan selain Ramadlan.

Komentar