Saya
tidak tahu, di pikiran banyak orang, kalau bulan Ramadlan disikapi dengan tidak
biasa itu posisinya seperti apa. Seperti kendaraan baru yang tidak
bosan-bosannya dibersihkan pemiliknya, seperti makanan kesukaan yang selalu
dibeli secara berkala, seperti rumah mewah yang tidak tega kalau terlihat
kotor, atau seperti pusaka yang membuat pemiliknya menjadi lebih kuat dimensi
spiritualnya.
Kalau
seperti kendaraan baru yang selalu dibersihkan sampai kapan manusia bosan
membersihkannya. Berapa waktu yang dibutuhkan untuk tidak bosan dengan keadaan
kendaraan yang baru. Kalau sudah sedikit lecet apakah si pemilik tetap setia
untuk konsisten mengelus-elusnya dengan cukup sering.
Kalau
seperti makanan kesukaan yang selalu dibeli secara berkala berarti hanya pada
waktu tertentu saja ia makan-makanan tersebut. Karena ketika makan-makanan lain
perasaannya beda dengan ketika makan, makanan tersebut. Kalaupun jaraknya
dipersering sampai titik mana seseorang akan bosan dengan makanan tersebut.
Kalau seperti rumah mewah yang tidak tega terlihat kotor kembali ke perumpamaan kendaraan tadi. Atau seberapa hebatkah, kuatkah rumah mewah itu menjadi kebanggannya.
Kalau
seperti pusaka, apakah manusia benar-benar memahaminya satu bulan itu sebagai
pusaka. Apakah manusia menganggap satu bulan itu bagian besar dari bangunan
besar bulan-bulan yang lain. Apakah bulan Ramadlan dianggap berpengaruh di
bulan-bulan yang lain.
Kalau seperti rumah mewah yang tidak tega terlihat kotor kembali ke perumpamaan kendaraan tadi. Atau seberapa hebatkah, kuatkah rumah mewah itu menjadi kebanggannya.
Komentar
Posting Komentar