Jualan, jualan, jualan. Hanya itu yang sekarang tertanam di benak
manusia. Di tengah pemaksaan, pencekokan ekspektasi pemenuhan materi
yang tinggi, ternyata orang tidak bisa memikirkan apa-apa lagi selain jualan.
Ketika materi sudah terpenuhi, kalau bisa tidak hanya sekedar terpenuhi tetapi
sisa banyak supaya bisa dipamerkan kepada orang lain, maka hidup akan menjadi
lebih hidup.
Jualan tidak hanya sekedar berjualan barang-barang yang memang seharusnya dijual, tetapi sesuatu yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia pun dijual. Akal, derajat, kehormatan, dijual sampai habis. Sehingga tak tersisa satupun unsur-unsur kemanusaiannya. Kalau semua sudah habis, orang akan mengemis-ngemis kepada Tuhan untuk mengembalikan status kemanusiaannya. Kalau tidak, dia akan mencari teman yang juga mau menjual habis status kemanusiaannya, jadi dia tidak menjadi satu-satunya orang yang menjual habis status kemanusiaannya. Kalau sudah seperti itu perlahan-lahan ia akan musnah secara menyakitkan, karena ia tidak melewati jalan yang seharusnya dilewati.
Jualan tidak hanya sekedar berjualan barang-barang yang memang seharusnya dijual, tetapi sesuatu yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia pun dijual. Akal, derajat, kehormatan, dijual sampai habis. Sehingga tak tersisa satupun unsur-unsur kemanusaiannya. Kalau semua sudah habis, orang akan mengemis-ngemis kepada Tuhan untuk mengembalikan status kemanusiaannya. Kalau tidak, dia akan mencari teman yang juga mau menjual habis status kemanusiaannya, jadi dia tidak menjadi satu-satunya orang yang menjual habis status kemanusiaannya. Kalau sudah seperti itu perlahan-lahan ia akan musnah secara menyakitkan, karena ia tidak melewati jalan yang seharusnya dilewati.
Komentar
Posting Komentar