Ketika berkendara dan melewati jalan-jalan utama jalur transportasi
kita akan menemui lampu lintas, masyarakat menyebutnya lampu bangjo, papan besi
yang ditempel di tiang lampu menyebutnya lampu APILL (Alat Pemberi Isyarat Lalu
Lintas). Setiap pengendara kendaraan apa saja mempunyai sikap yang berbeda-beda
dalam menyikapi lampu tersebut. Ada yang tertib, ketika merah berhenti, orange
pelan-pelan, hijau jalan. Ada yang tergesa-gesa cenderung tidak tertib, dari
kejauhan timer lampu hijau tinggal tiga detik ngebut, lampu orange
menyala semakin ngebut, lampu merah menyala semakin ngebut dan tak segan-segan untuk
menerobosnya. Ada yang suka menerobos belok kiri padahal sudah ada tulisan
“Belok kiri ikuti lampu APILL”. Ada juga yang berhenti ketika lampu merah menyala
tetapi memenuhi lajur kiri padahal ada tulisan belok kiri jalan terus. Serta
masih banyak berbagai penyikapan lagi.
Mungkin hanya di Indonesia saja yang ketika lampu merah sudah menyala tetapi tetap berani menerobos, padahal resikonya kecelakan. Itu terjadi karena adanya kebiasaan mengejar lampu hijau, ketika timer lampu hijau tinggal sebentar, lima detik ke bawah kecepatan semakin dipercepat karena takut terkena lampu merah. Begitu takutnya orang-orang dengan lampu merah, sampai-sampai berhenti di lampu merah disebut dengan kata yang bersifat negatif, “terjebak” merah. Karena kebiasaaan mengejar lampu hijau itu pulalah kecelakaan di pertigaan, perempatan yang ada lampu lalu lintasnya terus saja ada.
Berbagai ketidakteraturan itu merupakan potret dari apa yang terjadi di negeri ini. Orang-orangnya tidak pandai mengelola berhenti dan jalan terus, ngerem dan ngegas, mengendalikan dan melampiaskan.
Ketidakteraturan dan akibatnya itu juga merupakan cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia. Seakan-akan Tuhan bilang, “Manusia kalian harus membenahi diri, itu lho banyak ketidakteraturan yang merugikan kalian sendiri”. Tetapi, bagaimana manusia mau akrab dengan Tuhan kalau masih menyikapinya sebagai subyek yang jauh dari kita, menganggapnya hanya muncul ketika sedang beribadah, itupun dianggap tidak benar-benar muncul. Dalam kehidupan sehari-hari akan dianggap benar-benar ada ketika lampu-lampu hijau menyala, atau ketika usaha mengejar lampu hijau terlaksana dengan selamat. Bukan ketika lampu-lampu merah menyala.
Bahkan, di bulan yang penuh dengan lampu merah dimana-mana ini, justru yang populer adalah lampu hijaunya. Aktivitas melampiaskan menjadi sesuatu yang sangat populer. Kegiatan ekonomi melonjak drastis. Penjual berbagai makanan ada dimana-mana. Sebelum berbuka orang-orang sibuk menyiapkan makanan yang lezat-lezat. Konsumsi makanan dan pengeluaran lebih banyak dari bulan-bulan lain. Di rumah-rumah makanan sampai dibuang-buang karena sangat banyak yang berbagi makanan. Di mall-mall dan pusat perbelanjaan manapun orang-orang sibuk berbelanja pakaian, sepatu, sandal, tas, barang-barang elektronik karena sudah mempersiapkan diri secara materi, pantas dan tidaknya secara kasat mata, meninggikan gengsi dan kepercayaan diri tingkat rendah terhadap datangnya lampu hijau besar berupa hari raya idul fitri jauh-jauh hari ketika lampu-lampu merah masih menyala.
Begitu akutnya kecintaan orang-orang di negeri ini kepada kebiasaan mengejar lampu hijau. Mungkin jika terjadi kecelakaan akibat mengejar lampu hijau orang-orang di negeri ini belum mau berubah, tetap ngotot mempertahankan kebiasaan mengejar lampu hijau.
Mungkin hanya di Indonesia saja yang ketika lampu merah sudah menyala tetapi tetap berani menerobos, padahal resikonya kecelakan. Itu terjadi karena adanya kebiasaan mengejar lampu hijau, ketika timer lampu hijau tinggal sebentar, lima detik ke bawah kecepatan semakin dipercepat karena takut terkena lampu merah. Begitu takutnya orang-orang dengan lampu merah, sampai-sampai berhenti di lampu merah disebut dengan kata yang bersifat negatif, “terjebak” merah. Karena kebiasaaan mengejar lampu hijau itu pulalah kecelakaan di pertigaan, perempatan yang ada lampu lalu lintasnya terus saja ada.
Berbagai ketidakteraturan itu merupakan potret dari apa yang terjadi di negeri ini. Orang-orangnya tidak pandai mengelola berhenti dan jalan terus, ngerem dan ngegas, mengendalikan dan melampiaskan.
Ketidakteraturan dan akibatnya itu juga merupakan cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia. Seakan-akan Tuhan bilang, “Manusia kalian harus membenahi diri, itu lho banyak ketidakteraturan yang merugikan kalian sendiri”. Tetapi, bagaimana manusia mau akrab dengan Tuhan kalau masih menyikapinya sebagai subyek yang jauh dari kita, menganggapnya hanya muncul ketika sedang beribadah, itupun dianggap tidak benar-benar muncul. Dalam kehidupan sehari-hari akan dianggap benar-benar ada ketika lampu-lampu hijau menyala, atau ketika usaha mengejar lampu hijau terlaksana dengan selamat. Bukan ketika lampu-lampu merah menyala.
Bahkan, di bulan yang penuh dengan lampu merah dimana-mana ini, justru yang populer adalah lampu hijaunya. Aktivitas melampiaskan menjadi sesuatu yang sangat populer. Kegiatan ekonomi melonjak drastis. Penjual berbagai makanan ada dimana-mana. Sebelum berbuka orang-orang sibuk menyiapkan makanan yang lezat-lezat. Konsumsi makanan dan pengeluaran lebih banyak dari bulan-bulan lain. Di rumah-rumah makanan sampai dibuang-buang karena sangat banyak yang berbagi makanan. Di mall-mall dan pusat perbelanjaan manapun orang-orang sibuk berbelanja pakaian, sepatu, sandal, tas, barang-barang elektronik karena sudah mempersiapkan diri secara materi, pantas dan tidaknya secara kasat mata, meninggikan gengsi dan kepercayaan diri tingkat rendah terhadap datangnya lampu hijau besar berupa hari raya idul fitri jauh-jauh hari ketika lampu-lampu merah masih menyala.
Begitu akutnya kecintaan orang-orang di negeri ini kepada kebiasaan mengejar lampu hijau. Mungkin jika terjadi kecelakaan akibat mengejar lampu hijau orang-orang di negeri ini belum mau berubah, tetap ngotot mempertahankan kebiasaan mengejar lampu hijau.
Komentar
Posting Komentar