Dalam
dunia mainstream, setiap orang menganggap seseorang yang berpendidikan tinggi
pasti mempunyai hal lain yang lebih daripada seseorang yang pendidikannya tidak
tinggi. Baik itu dari segi akal (dalam hal ini kepandaian atau kepintaran).
Atau dari segi hati (dalam hal ini akhlak). Kalau dilihat secara saklek (kaku),
memang seharusnya seperti itu. Namun dalam hidup itu tidak bisa memandang
sesuatu secara saklek, karena dalam hidup terdapat banyak sekali kemungkinan
yang kita sendiri tidak pernah tahu secara pasti kemungkinan mana yang akan
menjadi kenyataan. Setiap kebenaran dalam hidup itu relatif.
Biasanya
para pemuja universitas itu, kalau dari kalangan orang-orang tua yang sudah
pernah kuliah tetapi setelah lulus tidak terlalu akrab dengan dunia akademis,
akan menceritakan masa kuliahnya sebagai sebuah tonggak sejarah hidup untuk
menuju hidup yang lebih baik. Hidup yang lebih baik ini bukan baik pada arti
sebenarnya, tetapi baik dalam arti kepemilikan materi yang lebih.
Kalau
dari kalangan seseorang yang memutuskan dirinya untuk akrab dengan dunia
akademis baik itu yang sudah lulus ataupun yang belum lulus, biasanya mereka
akan memuja dosen-dosen yang bertitel doktor ataupun profesor yang menurut
persepsi mereka adalah doktor atau profesor yang pandai dibanding dosen-dosen
lain. Mereka akan bangga menceritakan pengalamannya dengan dosen itu. Kalau ia
tidak pernah mempunyai pengalaman itu, ia akan berusaha (walaupun hanya sekedar
iseng) mencari tahu informasi tentang doktor atau profesor yang mereka anggap
pandai itu, entah itu secara lisan (dari mulut ke mulut) atau mencari info
lewat internet. Biasanya mereka akan terlarut dengan informasi itu. Boleh-boleh
saja kalau itu dijadikan inspirasi. Tetapi yang sering terjadi, dari kalangan
mereka mempunyai pandangan yang saklek tentang kepandaian dan kepintaran yang
selalu diidentikkan dengan titel tinggi. Ya, itu tidak apa-apa, yang menjadi
masalah adalah jika para pemuja itu menganggap pemikiran sang doktor atau
profesor sebagai sebuah bentuk kebenaran pasti.
Kalau
dari kalangan mahasiswa baru. Biasanya mereka akan sangat bangga dengan
pengetahuan baru yang didapatnya. Dengan cepat mereka merubah beberapa kata
yang sering mereka pakai baik itu secara lisan maupun tulisan. Mereka bangga
mendapat kata-kata baru yang biasanya adalah serapan dari bahasa asing (seperti
paradigma, korelasi, building, humanisasi dll). Kata-kata baru itu mereka
sisipkan dalam kalimat-kalimat yang mereka buat. Ya, itu tidak apa-apa jika itu
sebagai bentuk kemajuan berpikir dan kedewasaan berbahasa. Tetapi akan sangat
fatal jika itu menjadi semacam proses untuk menyombongkan diri, “ini lo aku
orang pintar, pendidikannya tinggi, bahasanya berlevel tinggi”.
Selain
itu, ada beberapa orang dari semua kalangan yang sudah disebutkan di atas, yang
cukup fanatik tentang pemikiran. Biasanya mereka akan membanggakan
pemikiran-pemikiran impor (biasanya dari barat) yang mereka dapatkan. Dengan
penuh rasa percaya diri mereka menjadikan pemikiran impor itu sebagai sebuah
rujukan dan yang lebih fatal lagi sebagai sebuah bentuk kebenaran pasti. Mereka
akan menggunakan dalih bahwa pemikiran itu terbentuk karena sebuah riset yang
sudah teruji, untuk menguatkan keyakinan mereka terhadap teori-teori yang
mereka lontarkan dalam berbagai pembicaran dan tulisan. Padahal mereka sendiri
tidak tahu apakah penelitian itu seperti yang mereka bayangkan atau tidak?
apakah ada unsur politis dibalik pemikiran itu? atau apakah ada unsur-unsur
kepentingan lain yang merusak obyektivitas pemikiran?
Mereka
akan mempertahankannya dengan sangat keras, karena dengan teori yang mereka
lontarkan itu, mereka akan mendapat keuntungan. Bagi mahasiswa akan dianggap
mahasiswa pintar. Bagi orang-orang yang disebut ahli (padahal hanya
menghafalkan teori impor) akan mendapatkan keuntungan berupa materi, karena
mereka sering diundang dalam berbagai seminar, forum-forum diskusi atau
sebentuk forum yang membutuhkan narasumber.
Kepercayaan
pada teori-teori itulah yang membuat pendidikan di negeri ini berjalan di
tempat. Ia tidak kunjung berjalan maju karena sudah mendapatkan suguhan yang
mereka anggap lezat. “Kenapa harus capek berjalan maju, di sini saja sudah
nikmat, tak perlulah berpikir terlalu keras, merepotkan!”, seperti itu kata
para pemuja universitas.
Komentar
Posting Komentar