Dengan masuknya seseorang ke sebuah lembaga pendidikan, seharusnya,
minimal, orang tersebut bisa belajar
untuk mengerti tentang dirinya, apa kekurangan, apa kelebihannya, siapa jati
dirinya. Tetapi, saat ini, hal tersebut menjadi sesuatu yang sangat sulit,
tidak ada setitik pun kesempatan bagi seseorang yang masuk ke sebuah lembaga
pendidikan untuk mengerti tentang dirinya, karena yang menjadi fokus pendidikan
adalah mencetak manusia-manusia pekerja, yang diajarkan adalah bagaimana
setelah lulus nanti dia bisa mencari uang. Selain itu, fokus pendidikan adalah
bagaimana manusia bisa menerima pandangan-pandangan mainstream, terutama
materialisme. Dimulai dengan bagaimana ia bisa bangga dengan nilai dan rangking
yang bagus di sekolah. Bagaimana ketika jika besok sudah sukses (kaya raya)
bisa mempunyai rumah bagus, mobil bagus, karena dengan kepemilikan materi
diatas rata-rata seorang manusia bisa dihormati oleh manusia lain.
Motivasi-motivasi seperti itulah sering digunakan oleh para guru untuk
memotivasi murid-muridnya di sekolah.
Bagaimana mungkin pendidikan yang ditakdirkan sebagai alat untuk minimal mengetahui kesejatian, atau pada kualitas yang lebih tinggi sebagai alat penggodok formula-formula untuk menuju kesejatian kini hanya berkutat pada hal remeh temeh tentang kepemilikan materi? bagaimana mungkin semakin tinggi orang mengenyam pendidikan maka secara diam-diam dia menjadi semakin sombong, karena semakin ia merasa meraih prestasi demi prestasi ternyata ia memadatkan kebanggaan-kebanggaan itu menjadi sebuah batu kesombongan yang ternyata sangat keras? bagaimana mungkin semakin tinggi orang mengenyam pendidikan ia menjadi semakin buta logika, karena merasa proses fotocopy ilmu yang pada akhirnya ilmu yang di fotocopy itu dijadikan sebagai sebuah acuan, dirasa sebagai ilmu yang paling benar? serta masih banyak pertanyaan tentang “bagaimana mungkin” lain, yang bisa ditemukan dalam setiap titik kehidupan yang dijalani oleh seseorang. Dari kalimat tanya “bagimana mungkin” itu dilanjutkan dengan kata tanya “apakah”. Apakah sistem pendidikan seperti itu yang benar-benar berkualitas dan bisa mengawal manusia untuk menuju kualitas diri yang tinggi? Silahkan dinilai oleh diri anda masing-masing.
Mungkin, tulisan ini ketika dibaca kelompok mainstream hanya akan menjadi sebuah omong kosong, karena jelas, di mata kelompok mainstream, materialisme lah yang realistis, bahkan sampai sedemikian akutnya pandangan materialisme itu tidak jarang orang-orang mengatakan bahwa dirinya merasa tentram kalau sudah memegang uang banyak. Kelompok mainstream memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena memang sistem sosial yang memaksa mereka untuk menjadi seperti itu. Tetapi, ketika kelompok mainstream itu bertanya kepada hati nuraninya tentang kehidupan sejati, apakah kehidupan seperti itu yang disebut sebagai kehidupan sejati? jika iya, apakah Tuhan atau materi-materi itu yang dirindukan oleh hati nurani? jika materi, apakah materi-materi itu akan dibawa mati? jika masih iya, apakah ruh akan membawa turut serta materi-materi itu ke sisi Tuhan? Jika benar-benar iya, dan dirimu adalah kelompok mainstream bertanyalah kepada dirimu, lontarkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada dirimu sendiri. Atau, kalau perlu, jika dirimu mengetahui pertanyaan-pertanyaan yang lebih substansif lontarkan pertanyaan-pertanyaan itu pada dirimu.
Bagaimana mungkin pendidikan yang ditakdirkan sebagai alat untuk minimal mengetahui kesejatian, atau pada kualitas yang lebih tinggi sebagai alat penggodok formula-formula untuk menuju kesejatian kini hanya berkutat pada hal remeh temeh tentang kepemilikan materi? bagaimana mungkin semakin tinggi orang mengenyam pendidikan maka secara diam-diam dia menjadi semakin sombong, karena semakin ia merasa meraih prestasi demi prestasi ternyata ia memadatkan kebanggaan-kebanggaan itu menjadi sebuah batu kesombongan yang ternyata sangat keras? bagaimana mungkin semakin tinggi orang mengenyam pendidikan ia menjadi semakin buta logika, karena merasa proses fotocopy ilmu yang pada akhirnya ilmu yang di fotocopy itu dijadikan sebagai sebuah acuan, dirasa sebagai ilmu yang paling benar? serta masih banyak pertanyaan tentang “bagaimana mungkin” lain, yang bisa ditemukan dalam setiap titik kehidupan yang dijalani oleh seseorang. Dari kalimat tanya “bagimana mungkin” itu dilanjutkan dengan kata tanya “apakah”. Apakah sistem pendidikan seperti itu yang benar-benar berkualitas dan bisa mengawal manusia untuk menuju kualitas diri yang tinggi? Silahkan dinilai oleh diri anda masing-masing.
Mungkin, tulisan ini ketika dibaca kelompok mainstream hanya akan menjadi sebuah omong kosong, karena jelas, di mata kelompok mainstream, materialisme lah yang realistis, bahkan sampai sedemikian akutnya pandangan materialisme itu tidak jarang orang-orang mengatakan bahwa dirinya merasa tentram kalau sudah memegang uang banyak. Kelompok mainstream memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya, karena memang sistem sosial yang memaksa mereka untuk menjadi seperti itu. Tetapi, ketika kelompok mainstream itu bertanya kepada hati nuraninya tentang kehidupan sejati, apakah kehidupan seperti itu yang disebut sebagai kehidupan sejati? jika iya, apakah Tuhan atau materi-materi itu yang dirindukan oleh hati nurani? jika materi, apakah materi-materi itu akan dibawa mati? jika masih iya, apakah ruh akan membawa turut serta materi-materi itu ke sisi Tuhan? Jika benar-benar iya, dan dirimu adalah kelompok mainstream bertanyalah kepada dirimu, lontarkan pertanyaan-pertanyaan itu kepada dirimu sendiri. Atau, kalau perlu, jika dirimu mengetahui pertanyaan-pertanyaan yang lebih substansif lontarkan pertanyaan-pertanyaan itu pada dirimu.
Komentar
Posting Komentar