Langsung ke konten utama

Bertanyalah

Juara, kaya, nomor satu, terkenal, itu, itu yang menjadi dambaan manusia saat ini. Ingin serba lebih dari manusia lain, bahkan kalau perlu ingin serba lebih dari semua makhluk ciptaan Tuhan. Tidak ada yang lebih menarik dari motivasi untuk lebih, untuk bangga terhadap pencapaian diri. Serba materi. Sekolah bukan lagi tempat untuk mencari ilmu, tetapi tempat untuk menumbuhkan benih-benih materialisme. Bekerja bukan lagi sebagai proses kebermanfaatan diri untuk orang lain, tetapi karena cinta akan materi. Media informasi bukan lagi tempat berbagi informasi yang perlu untuk diketahui orang lain, tetapi tempat untuk mencari keuntungan materi. Mencintai seseorang bukan karena benar-benar mencintai tetapi karena alasan materi. Seakan-akan, Tuhannya para manusia adalah materi. Mungkin bukan seakan-akan lagi, tetapi memang Tuhannya para manusia. 

Terjadi proses kebingungan yang begitu membingungkan. Labirin materi begitu rumit. Sangat sulit untuk mencari jalan keluarnya. Seakan-akan tak ada kesempatan lagi bagi manusia untuk mengerti kesejatian. Manusia sudah tidak mampu lagi melihat apa sesungguhnya yang mereka lihat, karena mata kesejatiannya sudah ditutupi rapat-rapat dengan materi, sehingga hanya mampu melihat apa yang bisa dilihat oleh mata jasmani, tidak mampu melihat apa yang bisa dilihat oleh mata sejati 

Sebuah ironi memang. Apakah rumah ini harus dirobohkan dan dibangun rumah baru ? apakah pohon ini harus ditebang, dicabut akarnya dan diganti dengan bibit pohon yang baru ? apakah tali yang simpul-simpulnya begitu rumit ini harus dipotong-potong atau dibuang kemudian diganti tali yang baru ? 

Bertanyalah kepada dirimu, aku juga akan bertanya pada diriku. Apakah kamu masih kamu ? apakah aku masih aku ?

Komentar