Manusia diciptakan bukan untuk tidak melakukan apa-apa. Minimal, menjalankan tugas untuk terus menjaga kehidupannya secara individu. Untuk menjalankan tugas menjaga kehidupan tersebut seorang manusia perlu bekerjasama dengan dirinya sendiri dan segala yang berada di luar dirinya. Supaya manusia dapat melaksanakan kerjasama yang baik, seorang manusia harus memahami karakter diri serta karakter-karakter dari segala yang berada di luar dirinya.
Kerjasama adalah pola dua arah. Di dalamnya terdapat dua subyek yang saling berinteraksi. Di dalam pola kerjasama terdapat dua bagian hidup, setiap bagian hidup mempunyai pola kemungkinan. Untuk mewujudkan kerjasama yang baik, dua subyek ini harus mampu menyatukan secara dialektis dan dinamis pola-pola kemungkinan yang ada. Misalnya pola feminin-maskulin, feminin ditanami-menyuburkan, maskulin menanam-mengelola. Jika menanam-mengelola dan ditanami-menyuburkan itu terjadi secara baik dan akurat maka akan menghasilkan sesuatu. Hasil adalah proses. Bukan hasil sebagai hasil itu sendiri. Hasil dan proses bukanlah sesuatu yang terpisah. Keduanya saling melengkapi, saling sahut- menyahut membuat sebuah dinamika yang indah.
Analogi dari kesatuan pola-pola kemungkinan yang baik adalah alam. Alam tidak diberi kemampuan untuk mengendalikan pola kemungkinan. Tidak diberikannya kemampuan itu justru mengakibatkan terjadinya harmonisasi yang akurat. Manusia bisa belajar dari alam.
Yang menjadi kendala manusia dalam menjalankan suatu harmoni adalah kemampuan untuk mengendalikan pola kemungkinan itu sendiri. Tidak sedikit manusia yang tidak mengasah kemampuan pengendali tersebut. Akhirnya kemampuan istimewa itu tidak terkontrol dan berbelok ke sesuatu yang tidak seharusnya.
Kemampuan istimewa selalu beriringan dengan tanggung jawab yang lebih. Kesadaran inilah yang belum dimiliki oleh mayoritas manusia.
Komentar
Posting Komentar