Langsung ke konten utama

Dosa

Dosa adalah sebuah anugerah. Penciptaan dosa adalah simbol kasih sayang Tuhan terhadap makhluk. Itulah ungkapan indah yang bisa kita sematkan untuk dosa. Dengan ungkapan itu juga, kita sedikit-sedikit bisa mengurangi kecurigaan kita terhadap si dosa (bukan perbuatan yang menyebabkan dosa). Karena seringkali kita mencap dosa dengan cap negatif yang tak terkirakan. 

Sebelum lebih jauh membahas tentang dosa, mari kita samakan persepsi dulu tentang dosa dalam lingkup pembahasan ini. Yang menjadi dasar dalam pembahasan dosa pada tulisan ini adalah dosa itu sendiri, dosa secara independen walaupun dalam persepsi sederhananya dosa tidak bisa lepas dari perbuatan yang mengakibatkan dosa. Pada tulisan ini dosa secara independen tersebut kita simbolkan sebagai makhluk, sehingga memudahkan pikiran untuk lebih mengerti dosa secara independen. Mengapa Independensinya kita analogikan sebagai makhluk bukan sebagai benda ? padahal benda juga bisa bersifat independen ? dosa bisa bergerak, ia mempunyai pergerakan sehingga lebih tepat jika dianalogikan sebagai makhluk. Kalau sudah menempatkan dosa sebagai makhluk maka kalimat “perbuatan yang mengakibatkan dosa” menjadi tidak terpakai, karena pada lingkup ini dia tidak bersifat sebagai akibat tetapi makhluk, seperti malaikat, setan, iblis. Pengertian dosa yang abstrak kita ubah menjadi simbolisasi makhluk yang jelas.  

Silahkan mengimajinasikan simbol tersebut sesuai dengan pola pikir masing-masing, entah disimbolkan dengan warna hitam, berbentuk lingkaran, seperti manusia, atau apapun itu, yang penting kita simbolkan dosa dalam suatu bentuk. Kalau sudah ada gambaran maka pembahasan akan berlanjut dan silahkan melanjutkan membaca paragraf selanjutnya. Kalau belum silahkan buatlah dulu gambarannya dalam pikiran dan jangan membaca paragraf selanjutnya. 

Dalam tatanan dunia yang bersandar pada pola kemungkinan berupa benar-salah, baik-buruk ini diciptakannya makhluk berupa dosa adalah suatu kemudahan bagi makhluk yang berkutat dalam pola kemungkinan itu, yaitu manusia dan jin. Pada pola kemungkinan benar-salah, baik-buruk manusia dan jin diharuskan untuk melakukan yang benar, baik atau, benar dan baik, sehingga dosa di sini berada pada posisi semacam malaikat pengingat. Jika ia datang berarti kita sedang melakukan perbuatan buruk, sehingga kita harus berhenti melakukan perbuatan buruk tersebut. Karena dosa ini bukan makhluk bersifat fisik seperti manusia untuk mengetahui kedatangannya diperlukan sebuah kepekaan atau sensitivitas. Kepekaan untuk mengetahui kedatangan dosa. 

Kepekaan untuk mengetahui kedatangan dosa (kesadaran akan dosa) adalah suatu tanda bahwa dalam lingkup tatanan dunia ciptaan Tuhan yang sedang kita jalani ini kita masih menjadi makhluk yang berjalan pada rel yang sesuai. Sehingga penyikapan terhadap dosa bukanlah takut, tetapi sensitif atau peka. Adapun takut hanya bisa kita letakkan tata perasaannya kepada Sang Maha Pencipta, bukan pada dosa. 

Oleh karena itu berbahagialah bagi makhluk yang masih bisa merasakan kedatangan dosa. Berarti ia masih termasuk makhluk yang disayang Tuhan, karena masih bisa membedakan mana yang benar, salah, baik, buruk bukan hanya pada lingkup teori tetapi pada lingkup implementasi. Kemudian bersedihlah jika kepekaan akan kedatangan dosa sudah sangat tipis, atau mungkin hilang, karena bisa jadi kita merupakan makhluk yang tidak disayang oleh Sang Pencipta.    

Komentar