Langsung ke konten utama

Semoga, Sokur-sokur (Jawa), Kalau Bisa, Atau Lebih Jauh Lagi dan Sang Pencipta

Setiap pagi, mereka melakukan perjalanan menuju ke sebuah tempat yang menjadi tautan harapan masa depan. Ada yang diantar orang tua, naik kendaraan umum, jalan kaki ataupun mengayuh sepeda. Mereka melakukannya dengan penuh semangat. “Dari sinilah aku merajut masa depanku”, itulah isyarat yang terbaca dari senyuman-senyuman mereka. Mereka melewati hari-harinya dengan penuh keceriaan. Tapi para pemelihara negeri (hanya kelihatannya) tak kunjung sadar akan semangat-semangat itu. Mereka terus mencekoki para pemilik semangat otentik itu dengan doktrin-doktrin kebodohan, membutakan mata dengan paham-paham kebendaan dan menumpulkan hati dengan pundi-pundi keserakahan. Sampai akhirnya semangat yang otentik itu memudar, sedikit demi sedikit. Mereka menghapus rangkaian kata-kata yang dirajut sendiri oleh para pemilik semangat otentik itu dan menggantinya dengan kata-kata baru. Satu, dua, tiga, empat dst, para pemilik semangat otentik mulai hilang. Para pemilik semangat itu tidak sadar bahwa dirinya yang sebenarnya telah hilang entah kemana. Mereka tetap menjalani hari-hari dengan penuh semangat, penuh keceriaan. Itu bukan salah mereka, itu juga bukan keinginan mereka, tapi apa daya, itulah yang diinginkan para pemelihara negeri (hanya kelihatannya). 

Sebuah ironi, memang, termasuk tulisan ini, serta orang yang menulisnya. Karena kesadaran itu sama sekali tak berarti walaupun ada harapan untuk punya arti.  Keadaan yang mereka ciptakan tidak untuk mendukung kesadaran. “Hanya fatamorgana yang boleh ada”, seperti itu kata mereka. “Seperti fatamorgananya semua ini”, kata mereka berikutnya. “Tetapi, kan fatamorgananya semua ini hanyalah sebagai alat untuk menegaskan bahwa kenyataan, itu ada. Kita harus tetap memegangnya, jangan malah terperosok ke fatamorgana dan membuat fatamorgana-fatamorgana baru”, begitu kata yang lain. 

Pemelihara negeri (hanya kelihatannya). Pemelihara negeri (hanya kelihatannya). Pemelihara negeri (hanya kelihatannya). Semoga kalimat itu bisa berkurang menjadi dua atau bahkan satu. Sokur-sokur tanda buka kurung, tutup kurung serta kalimat di dalamnya bisa hilang sehingga hanya tersisa kalimat di depannya. Kalau bisa kalimat di depannya bisa digantikan dengan yang lebih baik. Atau lebih jauh lagi, tulisan ini, serta ide tulisan ini yang hilang. Kalau penulisnya biarlah Sang Pencipta yang mengurusnya.

Komentar