Betapa cintanya Tuhan dengan makhluk yang bernama manusia. Seberapa
pun penghianatan yang dilakukan manusia tidak membuat Tuhan murka begitu saja. Berkali-kali,
dalam setiap kesempatan Tuhan justru menyapa manusia dengan
kelembutan-kelembutan, berkali-kali juga Tuhan memberitahukan kepada manusia
bahwa Dia itu Maha pengampun, Maha penyayang, Maha pengasih. Saking cintaya
Tuhan kepada manusia, sampai-sampai Tuhan mengutus Rasul untuk terus mengingatkan manusia sepanjang zaman. Dia berpura-pura butuh
untuk disembah, dengan memberikan perintah kepada manusia untuk menyembah.
Padahal itu tidak berpengaruh bagi-Nya, itu semua hanya untuk kepentingan dan
keselamatan manusia itu sendiri.
Manusia tidak begitu paham dengan itu semua. Manusia tidak kunjung mau untuk sedikit mengerti komunikasi Tuhan terhadap dirinya. Ia justru terlalu asyik menikmati pinjaman Tuhan kepada dirinya yang bernama nafsu. Ia juga dengan seenaknya memanfaatkan perintah-perintah Tuhan hanya untuk sekedar pemenuhan nafsu itu sendiri. Shalat, puasa, zakat, shodaqoh sekedar untuk pemenuhan hajat hidup jasmani pribadi. Dengan bangga ia berdoa supaya untuk mendapat rizki yang melimpah, kurang melimpah bagaimana setiap hari dirimu tidak pernah kekurangan oksigen, setiap hari masih diberi kesempatan hidup, kenikmatan sehat. Bersyukur tidak pernah, tetapi meminta terus menerus.
Pernahkah untuk sedikit berterima kasih kepada Tuhan, meluangkan waktu untuk bermesraan dengan Tuhan tanpa membawa kepentingan sedikit pun. Memang Tuhan tidak membutuhkan itu, tetapi apakah perilaku manusia se-tidak sopan itu kepada Tuhan, dengan cara terus merengek minta ini, minta itu, kalau sudah dikasih tidak tahu terima kasih, meninggalkan-Nya begitu saja, melupakan betapa cinta-Nya Dia kepada manusia, nanti kalau sudah kepepet kembali lagi. Apakah pola hubungan antara manusia akan terus se-kekanak-kanakan itu ?
Manusia tidak begitu paham dengan itu semua. Manusia tidak kunjung mau untuk sedikit mengerti komunikasi Tuhan terhadap dirinya. Ia justru terlalu asyik menikmati pinjaman Tuhan kepada dirinya yang bernama nafsu. Ia juga dengan seenaknya memanfaatkan perintah-perintah Tuhan hanya untuk sekedar pemenuhan nafsu itu sendiri. Shalat, puasa, zakat, shodaqoh sekedar untuk pemenuhan hajat hidup jasmani pribadi. Dengan bangga ia berdoa supaya untuk mendapat rizki yang melimpah, kurang melimpah bagaimana setiap hari dirimu tidak pernah kekurangan oksigen, setiap hari masih diberi kesempatan hidup, kenikmatan sehat. Bersyukur tidak pernah, tetapi meminta terus menerus.
Pernahkah untuk sedikit berterima kasih kepada Tuhan, meluangkan waktu untuk bermesraan dengan Tuhan tanpa membawa kepentingan sedikit pun. Memang Tuhan tidak membutuhkan itu, tetapi apakah perilaku manusia se-tidak sopan itu kepada Tuhan, dengan cara terus merengek minta ini, minta itu, kalau sudah dikasih tidak tahu terima kasih, meninggalkan-Nya begitu saja, melupakan betapa cinta-Nya Dia kepada manusia, nanti kalau sudah kepepet kembali lagi. Apakah pola hubungan antara manusia akan terus se-kekanak-kanakan itu ?
Komentar
Posting Komentar