Langsung ke konten utama

Pejuang "Kecelik"

Allah telah membuat segala hal secara komplit dengan ketelitian yang sangat rapat dan tak ada cacatnya sedikitpun. Manusia yang punya sedikit kemampuan untuk berkreasi dipersilahkan untuk mengelola lingkungan tempat tinggalnya, yaitu di bumi. Sebenarnya manusia tidak usah-usah mencipta sesuatu yang baru, karena tak ada sesuatu yang baru. Semua sudah dicipta oleh Allah. Manusia tinggal mengadopsi rumus-rumusnya saja, yang kemudian digunakan untuk mengelola sesuatu. Umpamanya, tentang gelombang yang biasanya disebut sinyal dan sering digunakan oleh operator sellular. Sebelum manusia bisa menemukan itu ya sebenarnya memang sudah digunakan oleh Allah untuk memberikan ilham-ilhamnya bagi setiap manusia setiap waktu. Bahkan lebih hebat lagi orang-orang zaman dahulu bisa memanfaatkannya untuk berkomunikasi secara telepati. Jadi pada intinya manusia tinggal mencari pola-polanya saja. Allah tahu manusia itu lemah dan terbatas kemampuannya. Sehingga ia tidak tega manusia mencari pola secara mandiri. Atas dasar itulah Allah menurunkan sebuah buku panduan berupa Al-Qur’an. 

Kalau marxisme-extrim yang tidak mengakui Tuhan itu mengaku membela kaum yang tertindas. Al-Qur’an lebih membela semua bentuk kaum tertindas bukan hanya sekadar buruh ataupun petani. Bahkan dalam zakat ada 8 golongan yang bisa menerima zakat. Memakan harta anak yatim pun dilarang oleh Allah yang juga disampaikan-Nya melalui Al-Qur’an. 

Sudahlah manusia itu tidak perlu sok-sokan hebat. Menganggap bahwa ia bisa mencipta. Padahal hanya mempelajari apa yang telah diciptakan Tuhan. Manusia juga tidak usah sok-sokan bisa mandiri, padahal setiap saat ditemani Tuhan. Kurang bagaimana Tuhan itu, setiap saat manusia dibela agar tetap menjadi manusia. Akalnya senantiasa dijaga, terus dialiri ilham-ilham darinya sehingga manusia tetap jadi manusia. Setiap detik jantungnya digerakkan supaya manusia punya kesempatan untuk merasakan nikmatnya berjuang. Oksigen, serta semua nikmat-nikmat yang lain sudah terpenuhi. Gara-gara persoalan uang saja kok ya tidak menganggap Tuhan. 

Banyak yang menyangka bahwa orang tertindas adalah orang yang melarat. Padahal orang yang melarat itu belum tentu merasa tertindas. Bisa jadi ia memilih melarat karena pada posisi itu ia merasa bahagia. Bahkan orang miskin itu merasa lebih dekat dengan Allah. Mungkin bisa jadi mereka lebih tahu daripada orang-orang yang ngakunya berjuang untuk mereka bahwa manusia ya tidak bisa semuanya kaya, atau tidak bisa tidak kaya dan tidak miskin alias sama rata. Dalam segala hal ya pasti berbeda-beda. Wong Allah saja mengutus 25 rasul saja beda semua dalam segala dimensi kehidupannya.  

Artinya orang-orang yang merasa sok berjuang bagi rakyat yang mereka sebut kalangan bawah (walaupun belum tentu yang mereka sebut kalangan bawah merasa kalangan bawah) jangan-jangan kecelik, salah arah. Jangan-jangan apa yang dimaksud para pejabat negara yang disebut sebagai negara maju itu juga kecelik ? sehingga setiap keputusannya tidak diijabahi oleh Allah karena Allah tidak ingin menjadikan negara ini sesuai dengan cita-cita kemajuan mereka.

Komentar