Saat ini pengakuan
sebagai manusia adalah ketika seseorang mempunyai materi yang melimpah ruah. Di
masyarakat, sering kita mendengar nasehat orang-orang tua, mugo-mugo kowe
sesuk dadi uwong yo le, semoga kamu besok menjadi orang ya nak. Maksud
menjadi orang adalah sukses secara materi. Manusia yang belum bisa mencapai
sukses secara materi dianggap belum manusia.
Tanpa terasa cara
pandang tersebut begitu melekat dalam kehidupan sehingga sulit kita mengelak
dari cara pandang itu. Walaupun kita tahu dan paham bahwa materi bukanlah
substansi. Materi hanya sekedar alat bantu. Bahkan tubuh yang langsung dikasih
oleh Tuhan saja hanya sebatas alat kehadiran.
Melekatnya cara
pandang tersebut membuat apa saja mengarah kepada sesuatu yang bersifat
materialistis. Sesuatu yang mempersulit hidup manusia itu sendiri. Tetapi
dianggap mempermudah kehidupan manusia. Kita ambil contoh tentang menikah. Dulu
sebelum generasi milenia ketika seseorang usianya dipandang cukup untuk menikah
mereka langsung menikah. Berbeda dengan genarasi milenia yang kebanyakan
menganggap dirinya sebagai manusia terpelajar, cenderung takut menikah. Dan ternyata
yang membuat kaum terpelajar ini takut menikah adalah pertimbangan materi.
Berapa biaya untuk mengadakan pesta pernikahan. Berapa biaya untuk menghidupi
istri besok. Berapa biaya untuk menghidupi anak besok. Berbeda dengan generasi
terdahulu, pertimbangan utama adalah ketuhanan. Mereka yakin ketika sudah
menikah pasti rizki akan dibukakan oleh Tuhan.
Kesepakatan hidup yang
didasarkan kepada materialisme ini secara tidak langsung merupakan bentuk
pengingkaran kepada Tuhan, bentuk penyembahan berhala. Kita memang diajari
sejak kecil bahwa kita mempunyai Tuhan, harus melakukan berbagai ibadah untuk
mengabdi kepada Tuhan. Tetapi di sisi lain yang menjadi fokus hidup kita adalah
ingin memiliki benda apa. Mobil kah, alat komunikasi mewah kah, rumah megah
kah, dll. Di satu sisi kita memang melihat bahwa orang berjamaah di masjid
masih banyak. Tetapi di sisi lain kita melihat bahwa mereka rusak
persaudaraannya karena memperebutkan tanah warisan orang tua, atau saling
menjegal dalam dunia bisnis, atau saling benci karena masalah kecil distribusi
kesejahteraan.
Sampai sekarang kita
masih menganggap bahwa selama masih ada adzan berarti belum kiamat. Padahal
Tuhan telah meninggalkan kita karena kita menganggap diri-Nya tidak benar-benar
ada. “Adzanmu kui mung lamis e lambemu”, kata Tuhan di singgasana-Nya.
Komentar
Posting Komentar