Pembelokan Peradaban
Masa-masa sekarang adalah masa dimana manusia seperti orang yang dilepaskan di sebuah jalan yang belum pernah dilalui. Di jalan tersebut tak ada orang dan tak ada satupun petunjuk arah. Ia hanya mencoba-coba melalui jalan itu. Ketika ada persimpangan ia mencoba saja lewat persimpangan yang ini, atau persimpangan yang itu. Jika sudah berjalan jauh dan ternyata salah jalan ia kembali lagi mencoba persimpangan yang lain. Selain itu, ia sendiri tidak tahu tujuan yang akan dituju setelah melewati jalan tersebut.
Manusia semakin mengalami keterputusan hubungan dengan dirinya sendiri. Naluri dalam dirinya yang berkaitan dengan hukum-hukum yang dibuat oleh Tuhan tidak bisa ia gunakan. Kelihatannya manusia lebih banyak yang mementingkan dirinya sendiri, tetapi kelihatannya juga yang dimaksud dengan kepentingan diri sendiri itupun salah. Diri yang mana. Jangan-jangan yang dituruti bukan dirinya. Jangan-jangan yang dimaksud dengan dirinya adalah sesuatu yang di luar dirinya dan masuk ke dalam dirinya. Keterputusan dengan dirinya ini mengakibatkan terputusnya juga dengan subyek-subyek lain selain dirinya. Termasuk dengan Tuhan.
Inilah akibat dari zaman panca indera yang dalam dunia akademik sering dikenal sebagai empirisme. Menganggap kenyataan hanyalah yang mampu dijangkau panca indera. Hanya bisa menjangkau padatan-padatan. Sesuatu yang tidak padat pun dipadatkan. Oleh karena itu sangat kekinian sebuah puisi dengan judul “Zaman Batu” yang diciptakan oleh penyair Mustofa W. Hasyim dan dibacakannya dalam sebuah acara. Kekinian bukan dalam arti trend tetapi kenyataan yang sedang terjadi.
Keadaan seperti itu membuat manusia belok dari nilai-nilai yang seharusnya ia jadikan pijakan-pijakan dalam kehidupan. Pembelokan itu seakan-akan membuat manusia ingin membuat kesepakatan-kesepakatan nilai yang baru. Kita ambil contoh agama. Agama selalu menganjurkan kepada manusia-manusia untuk menentukan batas. Sehingga dalam agama manapun ada laku puasa walaupun bentuknya berbeda-beda. Nilai yang terkandung di dalam puasa adalah tentang batas. Melalui laku puasa manusia dipaksa untuk berlatih membatasi sesuatu yang seharusnya boleh. Manusia sudah sewajarnya membutuhkan makan tetapi dalam waktu tertentu manusia tidak boleh makan. Berpuasa mendorong manusia untuk latihan menentukan batas-batas tertentu dalam hidupnya. Tetapi keadaan sekarang ini justru mendorong manusia menuju pola hidup tak terbatas. Ambisius ingin menjadi yang paling apapun diantara manusia. Segala bidang arahnya menuju ketidakterbatasan. Paling berprestasi, paling kaya, paling pandai, serta masih banyak paling-paling yang lain. Tokoh yang menjadi primadona adalah Bill Gates bukan Ki Hajar Dewantara, Pangeran Dipnegoro, Nabi Muhammad. Dan kekagumannya bukan karena usahanya dalam memajukan IT tetapi kekayaannya yang melimpah.
Kenyataan tersebut menjadikan agama hanya berlaku sebagai pelengkap yang ketika tidak dijalankan hati merasa seperti belum puas. Tidak ada urusan diamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan atau tidak yang penting hati puas ketika sudah menjalankan. Posisinya sama ketika kita menyenangi suatu benda. Apakah itu motor, lukisan, atau apa saja. Belum puas rasanya kalau sehari belum melihat benda yang kita senangi. Padahal kita tidak tahu apa akibat positif dari kesenangan terhadap benda tersebut. Atau malah sebatas formalitas. Karena kalau tidak dijalankan akan dicibir oleh banyak orang. Pada posisi ini secara tidak langsung manusia menjauh dari agama.
Pendidikan yang seharusnya bertujuan pemberadaban dijalankan dengan semangat ketidakterbatasan. Kompetisi nilai kognitif. Pergaulan saling pamer kepemilikan, kendaraan mewah, alat komunikasi mewah yang justru dipelopori oleh pendidiknya. Mitos kelas unggulan, khayalan-khayalan sekolah favorit yang berakhir sebagai pelengkap kebanggaan-kebanggaan yang sejalan dengan ketidakterbatasan. (Bersambung)
Masa-masa sekarang adalah masa dimana manusia seperti orang yang dilepaskan di sebuah jalan yang belum pernah dilalui. Di jalan tersebut tak ada orang dan tak ada satupun petunjuk arah. Ia hanya mencoba-coba melalui jalan itu. Ketika ada persimpangan ia mencoba saja lewat persimpangan yang ini, atau persimpangan yang itu. Jika sudah berjalan jauh dan ternyata salah jalan ia kembali lagi mencoba persimpangan yang lain. Selain itu, ia sendiri tidak tahu tujuan yang akan dituju setelah melewati jalan tersebut.
Manusia semakin mengalami keterputusan hubungan dengan dirinya sendiri. Naluri dalam dirinya yang berkaitan dengan hukum-hukum yang dibuat oleh Tuhan tidak bisa ia gunakan. Kelihatannya manusia lebih banyak yang mementingkan dirinya sendiri, tetapi kelihatannya juga yang dimaksud dengan kepentingan diri sendiri itupun salah. Diri yang mana. Jangan-jangan yang dituruti bukan dirinya. Jangan-jangan yang dimaksud dengan dirinya adalah sesuatu yang di luar dirinya dan masuk ke dalam dirinya. Keterputusan dengan dirinya ini mengakibatkan terputusnya juga dengan subyek-subyek lain selain dirinya. Termasuk dengan Tuhan.
Inilah akibat dari zaman panca indera yang dalam dunia akademik sering dikenal sebagai empirisme. Menganggap kenyataan hanyalah yang mampu dijangkau panca indera. Hanya bisa menjangkau padatan-padatan. Sesuatu yang tidak padat pun dipadatkan. Oleh karena itu sangat kekinian sebuah puisi dengan judul “Zaman Batu” yang diciptakan oleh penyair Mustofa W. Hasyim dan dibacakannya dalam sebuah acara. Kekinian bukan dalam arti trend tetapi kenyataan yang sedang terjadi.
Keadaan seperti itu membuat manusia belok dari nilai-nilai yang seharusnya ia jadikan pijakan-pijakan dalam kehidupan. Pembelokan itu seakan-akan membuat manusia ingin membuat kesepakatan-kesepakatan nilai yang baru. Kita ambil contoh agama. Agama selalu menganjurkan kepada manusia-manusia untuk menentukan batas. Sehingga dalam agama manapun ada laku puasa walaupun bentuknya berbeda-beda. Nilai yang terkandung di dalam puasa adalah tentang batas. Melalui laku puasa manusia dipaksa untuk berlatih membatasi sesuatu yang seharusnya boleh. Manusia sudah sewajarnya membutuhkan makan tetapi dalam waktu tertentu manusia tidak boleh makan. Berpuasa mendorong manusia untuk latihan menentukan batas-batas tertentu dalam hidupnya. Tetapi keadaan sekarang ini justru mendorong manusia menuju pola hidup tak terbatas. Ambisius ingin menjadi yang paling apapun diantara manusia. Segala bidang arahnya menuju ketidakterbatasan. Paling berprestasi, paling kaya, paling pandai, serta masih banyak paling-paling yang lain. Tokoh yang menjadi primadona adalah Bill Gates bukan Ki Hajar Dewantara, Pangeran Dipnegoro, Nabi Muhammad. Dan kekagumannya bukan karena usahanya dalam memajukan IT tetapi kekayaannya yang melimpah.
Kenyataan tersebut menjadikan agama hanya berlaku sebagai pelengkap yang ketika tidak dijalankan hati merasa seperti belum puas. Tidak ada urusan diamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan atau tidak yang penting hati puas ketika sudah menjalankan. Posisinya sama ketika kita menyenangi suatu benda. Apakah itu motor, lukisan, atau apa saja. Belum puas rasanya kalau sehari belum melihat benda yang kita senangi. Padahal kita tidak tahu apa akibat positif dari kesenangan terhadap benda tersebut. Atau malah sebatas formalitas. Karena kalau tidak dijalankan akan dicibir oleh banyak orang. Pada posisi ini secara tidak langsung manusia menjauh dari agama.
Pendidikan yang seharusnya bertujuan pemberadaban dijalankan dengan semangat ketidakterbatasan. Kompetisi nilai kognitif. Pergaulan saling pamer kepemilikan, kendaraan mewah, alat komunikasi mewah yang justru dipelopori oleh pendidiknya. Mitos kelas unggulan, khayalan-khayalan sekolah favorit yang berakhir sebagai pelengkap kebanggaan-kebanggaan yang sejalan dengan ketidakterbatasan. (Bersambung)
Komentar
Posting Komentar