Langsung ke konten utama

Peradaban Kok Tidak Beradab (Bagian 3)

Hancurnya Peradaban

Fenomena ini berarti sebuah pertanda bahwa manusia yang awalnya beradab perlahan-lahan ingin menghancurkan peradabannya sendiri. Atau ingin tetap merasa beradab dan mengatakan kehidupannya sebagai peradaban tetapi membuat kesepakatan arti baru dari peradaban tersebut yang sifatnya materi sentris. Gedung-gedung tinggi, alat transportsi canggih dan mewah, alat komunikas canggih dan mewah, rumah mewah. Segala hal yang bersifat wah bagi ukuran panca indera itulah yang sedang disepakati sebagai peradaban. 

Kesepakatan baru tersebut mengarahkan manusia kepada perilaku-perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai yang sejalan dengan hukum-hukum Tuhan dan bersifat selamanya. Selama gedung-gedung itu terlihat bersih, rumah-rumah masih bagus catnya, infrastruktur masih berfungsi dengan baik maka kemunafikan-kemunafikan masih tetap sah. Penistaan-penistaan terhadap kemanusia masih sah. Perendahan derajat manusia masih sah. Penghilangan martabat manusia masih sah. 

Untuk jujur saja perlu pertimbangan macam-macam yang rumit. Kalau kejujuran itu tidak memberikan keuntungan materi, tidak perlulah. Untuk menolong perlu pertimbangan macam-macam yang rumit. Kalau tidak segolongan tidak perlu ditolong. 

Segala jenis keburukan dipublikasikan. Orang yang berbuat keburukan dicitra-citrakan sebagai pahlawan. Orang yang kapasitasnya rendah dicitra-citrakan mempunyai kapasitas tinggi. Martabat adalah kepemilikan. Kalau orangnya baik tetapi miskin orang tersebut tidak bermartabat. Kalau orangnya kaya tidak perlu baik, karena sudah bermartabat dan dijunjung-junjung, dipuji-puji karena melimpah kekayaannya.  

Tidak perduli generasi selanjutnya akan diwarisi apa dan akan menjadi apa yang penting tambang terus saja dikeruk untuk mencukupi keperluan-keperluan, kepemilikan, kekayaan pribadi. Kebusukan-kebusukan akhlak terus saja didengung-dengungkan, disebarkan seluas-luasnya yang penting jualan lancar, omset melimpah ruah. 

Menjadi manusia adalah sukses materi. Sehingga orang-orang tua selalu mengatakan mugo-mugo kowe sesuk iso dadi uwong le. Semoga kamu besok bisa menjadi orang nak, yang maksudnya adalah semoga kamu menjadi orang sukses. Dan maksud dari sukses itu adalah kepemilikan materi yang melimpah ruah. Beradab tidak penting lagi. Jika itu tidak kompatibel untuk kepemilikan materi tidak perlu.  

Pada titik inilah kejumawaan manusia berada pada puncaknya. Sudah tidak perduli lagi dengan sangkan paran atau asal usulnya. Percaya diri bahwa dirinyalah yang tercerdas, terkreatif sehingga tidak perlu bekerjasama dengan alam, dengan sesuatu yang tidak bisa dijangkau panca indera. Nabi-nabi hanya berakhir sebagai dongeng. Malaikat sekedar mitos. Tuhan sekedar omong kosong. Kalau manusia kaya karena usahanya sendiri, kalau ia pandai karena usahanya sendiri, kalau ia mempunyai kedudukan karena usahanya sendiri. 

Sanggupkah hati manusia menolak-nolak nurani dan memercayai khayalan-khayalan bahwa hidup di dunia itu selamanya. Akankah ia kuat menghadapi sebuah kelas yang terlihat damai, tentram, tidak berisik ketika ujian tetapi terjadi kerjasama untuk saling menyontek dengan cara-cara yang begitu lihai. Inikah peradaban. Peradaban kok tidak beradab.

Komentar