Jika kita
keluar rumah kemudian berjalan-jalan di wilayah pedusunan, pedesaan atau
perkampungan akan terlihat bahwa keadaan begitu damai, aman tidak terjadi
apa-apa. Manusia melakukan rutinitas sehari-hari dengan lancar. Orang berjualan
laku keras. Orang di sawah bertani dengan semangat. Pengangguran pun dengan
bahagia melewati hari-harinya dengan canda tawa.
Jika kita berdiam diri kemudian berjalan-jalan ke jalur-jalur informasi apakah itu melalui media tv, radio atau handphone, laptop dan komputer yang tersambung ke internet kita akan menemui hiruk pikuk yang membuat pikiran, jiwa lelah, marah, suntuk. Masalah-masalah terjadi dimana-mana. Di wilayah yang tidak dekat dengan wilayah kita, namun masih satu negeri dengan kita terjadi perendahan kemanusiaan yang begitu rendah.
Dalam benak rakyat, kedua keadaan tersebut campur aduk sedemikian rupa. Kenyataan sehari-hari yang dialami, juga hiruk pikuk yang silang sengkarut tidak karuan. Di hati kecil rakyat rasa memiliki antar manusia sebangsa, senegera sebenarnya cukup kuat. Tetapi cenderung tidak mampu melakukan apa-apa ketika ada manusia di wilayah yang begitu jauh dari tempat tinggalnya ditindas sedemikian rupa. Sehingga tolok ukur berbuatnya adalah yang penting keluarga kecilnya selamat. Dan itu akurat.
Rakyat sudah sedemikian percaya kepada sejumlah orang yang mereka gaji untuk menyelesaikan masalah-masalahnya. Untuk menjaga pagar yang kita sebut sebagai negara. Sehingga biarlah mereka yang menyelesaikan masalah-masalah yang besar-besar itu.
Rakyat tetap percaya walaupun mereka yang digaji rakyat justru memposisikan diri lebih tinggi dari rakyat. Juga sedikit membohongi rakyat kalau ada sejumlah uang dari negara untuk rakyat berarti sedang dibantu negara. Padahal begitu pedulinya rakyat dengan kesepakatan bersama membuat negara sehingga begitu tertibnya mereka membayar iuran untuk menjaga keutuhan dan keseimbangan negara. Sehingga kepeduliannya tetap membuatnya rendah hati kalau sebenarnya merekalah yang sudah iuran. Dan tetap mengalah kalau yang direndahhati-i tidak rendah hati juga bahkan cenderung sombong.
Rakyat sungguh bersikap arif, bijaksana, matang secara spiritualitas sehingga menganggap perebutan posisi untuk menjadi pembantu yang dianggap sebagai posisi tertinggi disikapi seperti menyikapi anak-anak mereka yang masih berumur lima tahun berebut mainan dengan temannya. Rakyat sungguh orang tua yang begitu sayang kepada anak-anaknya. Rakyat tetap menunggu sampai anak-anaknya dewasa dan paham kalau ingin berada pada posisi tinggi tetap menjadi rakyat bukan menjadi pembantunya rakyat.
Jika kita berdiam diri kemudian berjalan-jalan ke jalur-jalur informasi apakah itu melalui media tv, radio atau handphone, laptop dan komputer yang tersambung ke internet kita akan menemui hiruk pikuk yang membuat pikiran, jiwa lelah, marah, suntuk. Masalah-masalah terjadi dimana-mana. Di wilayah yang tidak dekat dengan wilayah kita, namun masih satu negeri dengan kita terjadi perendahan kemanusiaan yang begitu rendah.
Dalam benak rakyat, kedua keadaan tersebut campur aduk sedemikian rupa. Kenyataan sehari-hari yang dialami, juga hiruk pikuk yang silang sengkarut tidak karuan. Di hati kecil rakyat rasa memiliki antar manusia sebangsa, senegera sebenarnya cukup kuat. Tetapi cenderung tidak mampu melakukan apa-apa ketika ada manusia di wilayah yang begitu jauh dari tempat tinggalnya ditindas sedemikian rupa. Sehingga tolok ukur berbuatnya adalah yang penting keluarga kecilnya selamat. Dan itu akurat.
Rakyat sudah sedemikian percaya kepada sejumlah orang yang mereka gaji untuk menyelesaikan masalah-masalahnya. Untuk menjaga pagar yang kita sebut sebagai negara. Sehingga biarlah mereka yang menyelesaikan masalah-masalah yang besar-besar itu.
Rakyat tetap percaya walaupun mereka yang digaji rakyat justru memposisikan diri lebih tinggi dari rakyat. Juga sedikit membohongi rakyat kalau ada sejumlah uang dari negara untuk rakyat berarti sedang dibantu negara. Padahal begitu pedulinya rakyat dengan kesepakatan bersama membuat negara sehingga begitu tertibnya mereka membayar iuran untuk menjaga keutuhan dan keseimbangan negara. Sehingga kepeduliannya tetap membuatnya rendah hati kalau sebenarnya merekalah yang sudah iuran. Dan tetap mengalah kalau yang direndahhati-i tidak rendah hati juga bahkan cenderung sombong.
Rakyat sungguh bersikap arif, bijaksana, matang secara spiritualitas sehingga menganggap perebutan posisi untuk menjadi pembantu yang dianggap sebagai posisi tertinggi disikapi seperti menyikapi anak-anak mereka yang masih berumur lima tahun berebut mainan dengan temannya. Rakyat sungguh orang tua yang begitu sayang kepada anak-anaknya. Rakyat tetap menunggu sampai anak-anaknya dewasa dan paham kalau ingin berada pada posisi tinggi tetap menjadi rakyat bukan menjadi pembantunya rakyat.
Komentar
Posting Komentar