Langsung ke konten utama

Jadi Diri Sendiri sesuai Kehendak Tuhan

Langkah perjuangan bangsa di negeri ini menjadi begitu tersendat. Pertama, karena jenis penindasannya begitu samar. Mulai dari peta ekonomi, politik, sosial, budaya, hukum semua disetting sedemikian rupa supaya terkondisikan langkah-langkah penindasan terselubungnya. Seperti tidak ada serangan tetapi tiba-tiba saja tangan tergores pedang musuh. 

Kedua, karena penumpulan cara pandang. Tolok ukur dari segala jenis keberhasilan adalah materialisme. Apabila wilayah materi sudah tercukupi dengan indikasi organ-organ fisik telah terpuaskan dengan berbagai macam cara maka seseorang akan menjadi tidak kritis lagi. Kemudian, bagi yang wilayah materi belum tercukupi diyakinkan bahwa tujuan hidup itu materi. Sehingga tidak sempat lagi ia mengkritisi sesuatu karena dirinya fokus pada pemenuhan materi. Anak-anak sampai orang tua dicekoki dengan fasilitas hedonis. Perlahan-lahan sisi kritis semakin tumpul. 

Ketiga, trauma sejarah. Bangsa ini mempunyai sejarah perjuangan, perubahan. Kemerdekaan 45 dan reformasi 98 adalah peristiwa revolusi dan reformasi yang dirasa sampai sekarang berjalan dengan kurang maksimal. Bagi seseorang yang tahu bahwa bangsa ini sedang ditumpulkan cara padangnya dan dia menghindarinya mengalami kebingungan yang luar biasa untuk menentukan gerak perjuangannya. Mereka harus mencari formula paling akurat. Kalau belum akurat nanti saja ditunda dulu. Daripada kesalahan-kesalahan masa lalu kembali terulang. Dan untuk akurat di zaman yang marak kemunafikannya ini sangat-sangatlah sulit. Sebuah peristiwa mempunyai pola yang berbelok-belok bahkan bisa zig-zag selain itu harus ditafsirkan berlapis yang jumlah lapisannya tidak bisa dipastikan. 

Namun, ketiga hambatan tersebut harus dilawan, diterjang jika bangsa ini ingin mengembalikan martabatnya. Ingin berdaulat. Ingin menjadi dirinya sendiri sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan. 

Komentar