Langsung ke konten utama

Peradaban Kok Tidak Beradab (Bagian 1)

Peradaban berasal dari kata adab. Adab adalah suatu tata cara mengekspresikan kerendahhatian. Produk budaya yang memberikan maslahat kepada banyak pihak. Adab makan-minum, adab kepada orang tua, adab kepada guru, adab kepada masyarakat, adab kepada pemimpin, adab kepada Tuhan. Semua itu berisi kesepakatan-kesepakatan antar manusia satu dan manusia lain dengan tujuan untuk saling menghormati, saling memberikan manfaat satu sama lain. Pada posisi tersebut manusia menanggalkan ego-egonya, kepentingan-kepentingan pribadinya. Adanya kesepakatan-kesepakatan itu membuat kehidupan manusia berlangsung aman, damai, dan tenteram. 

Adab sebagai asal kata peradaban seharusnya mempunyai makna yang mirip dengan peradaban walaupun berbeda lingkupnya. Adab lebih khusus ke individu ataupun masyarakat tertentu sedangkan peradaban lebih cenderung kepada manusia secara umum. Akar kata tersebut dapat memberikan pengertian bahwa suatu peradaban itu berisi manusia-manusia yang beradab.

Awal Peradaban
Adam, sebagai manusia pertama adalah makhluk jenis baru yang belum pernah diciptakan oleh Tuhan. Ketika itu para malaikat kebingungan sehingga bertanya kepada Tuhan, “Apakah Engkau akan menciptakan makhluk-makhluk yang akan merusak bumi ?”. Tuhan menjawab, “Hanya Aku yang tahu”. Ditunjukkanlah kelebihan-kelebihan makhluk yang disebut sebagai manusia tersebut. Akhirnya malaikat mau bersujud kepada Adam sebagai tanda penghormatan atas keistimewaan yang diberikan kepada manusia. Kelebihan manusia adalah akal. Dengan akal inilah manusia membangun peradaban.

Beradab, adalah sesuatu yang juga membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lain. Untuk menjadi beradab manusia mempunyai sebuah naluri yang sangat berkaitan langsung dengan hukum-hukum alam yang telah dibuat Tuhan. Naluri itulah yang membentuk sistem nilai yang disepakati antara manusia satu dengan manusia lain. Sistem nilai ini sifatnya universal dan selamanya. Selama masih ada dunia manusia selama itu pula sistem nilai tersebut berlaku. 

Sebelum turun kitab-kitab suci, sistem nilai tersebut sudah melekat dalam diri manusia. Jujur, saling menyayangi satu sama lain, saling menolong, semuanya itu sudah menjadi satu bagian dengan manusia.  

Tetapi ada sisi lain yang sifatnya juga melekat dengan sistem nilai tersebut. Sebagaimana bayangan yang selalu ada ketika cahaya menyinari sesuatu. Maka nilai-nilai kebaikan itupun diikuti dengan sesuatu yang berlawanan dengannya. Baik-buruk, jujur-dusta, dermawan-pelit. Di satu sisi keadaan tersebut sebagai penegasan adanya nilai-nilai baik. Kalau tidak ada buruk berarti tidak ada baik. Karena kata baik itu ada karena ada buruk. Begitu juga sebaliknya. Di sisi lain menjadi hambatan bagi manusia dalam kehidupan. Pada posisi inilah manusia sering mengalami kebingungan-kebingungan, ketidakakurantan-ketidakakuratan dalam menentukan sikap. 

Ketika masa-masa awal adanya peradaban mungkin tidak terlalu sulit menanggulangi adanya hal-hal tersebut. Mengingat jumlah manusia yang masih sedikit dan tingkat perkembangan kreativitas belum sevariatif saat ini serta kompleksitas masalah yang tidak serumit ini. Bisa dikatakan permasalahan yang ada sekarang ini tidak mampu ditanggulangi oleh manusia, padahal manusia itu sendiri yang menentukan pilihan ingin hidup dengan cara seperti apa walaupun panduannya sudah jelas ada di dalam dirinya dan dipertegas lagi oleh Tuhan dengan diciptakannya agama. Manusia punya hak untuk memilih. (Bersambung)

Komentar