Sungguh, setiap saat Tuhan tak
henti-hentinya bercinta dengan kita. Dia terus berkomunikasi, mengungkapkan
kemesraan, cinta dan kasih sayangnya lebih dari yang kita tahu. Tetapi, karena
kedunguan, kebodohan, kelemahan manusia, manusia tak kunjung mampu untuk
mengerti komunikasi, bahasa keintiman-Nya.
Dengan sombong manusia mengatakan, “Dimana Tuhan ?”. “Kalau Tuhan memang ada coba disuruh untuk memberi permen anak kecil yang sedang menangis itu !”. Seakan-akan manusia yang mengatakan kalimat-kalimat tersebut men-jatah sendiri oksigen-oksigen yang masuk ke lubang hidungnya. Menggerakkan jantungnya sendiri. Mengikat sendiri sel-sel sehingga tergabung menjadi organ-organ tubuh. Nggondeli ruhnya supaya tidak pergi dari jasad. Padahal membuat upil saja manusia tidak bisa.
Dan anehnya, prinsip yang membuat manusia putus asa tersebut dipegang teguh oleh manusia-manusia yang mengaku ahli, unggul, terpandai. Padahal prinsip yang mereka pegang teguh bukanlah suatu kepastian, kekakuan, kestatisan. Waktu dan hitung-hitungan matematika saja ada sisi relatifnya, tidak pastinya. Terbukti dengan adanya teori reltivitas yang salah satu bagian kecilnya menjelaskan bahwa waktu bisa melambat dalam keadaan tertentu. Kemudian nol pangkat nol bisa ada dua kemungkinan hasilnya. Nol atau satu. Karena semua angka berpangkat nol hasilnya adalah satu. Tetapi yang dipangkatkan nol adalah nol sehingga tidak salah jika hasilnya nol. Tidak pasti.
Akhirnya muncul ungkapan-ungkapan keputusasaan. Seperti, dunia terjadi hanya kebetulan, agama adalah penyakit jiwa, Tuhan hanyalah khayalan manusia.
Anehnya lagi, para pembuat pernyataan-pernyataan keputusasaan itu dipuja-puja, dimalaikat-malaikatkan sebagai yang ter dan ter. Didramatisasi sedemikian rupa.
Padahal kearifan sikapnya masih kalah jauh dari kusir andong di malioboro, tukang cukur di desa-desa, tukang becak di beringharjo. Juga ke-prigelan-nya dalam bekerja masih kalah jauh dengan ibu-ibu rumah tangga di desa-desa, ibu-ibu penjual yang berjualan di pasar wilayah desa. Keteguhan mentalnya masih kalah jauh dengan buruh tidak tetap dan memiliki penghasilan tidak tetap di negeri ini yang memiliki anak 5.
Lebih aneh lagi, manusia di negeri ini yang merasa sebagai manusia-manusia cerdas, pandai meng-iya-kan. Mengikuti arus mainstream mitologi kekinian. Membendakan segala hal. Mengkotak-kotakkan segala hal. Serta memegang teguh kebendaan dan kotak-kotak tersebut.
Pemujaan berhala terjadi dimana-mana. Tetapi dengan kecanggihan yang luar biasa. Para penerus Ibrahim sampai kebingungan mencari patung-patung yang akan dihancurkan. Karena patungnya samar, bahkan tak terlihat. “Dimana patungnya ?”, kata para penerus Ibrahim itu
Dengan sombong manusia mengatakan, “Dimana Tuhan ?”. “Kalau Tuhan memang ada coba disuruh untuk memberi permen anak kecil yang sedang menangis itu !”. Seakan-akan manusia yang mengatakan kalimat-kalimat tersebut men-jatah sendiri oksigen-oksigen yang masuk ke lubang hidungnya. Menggerakkan jantungnya sendiri. Mengikat sendiri sel-sel sehingga tergabung menjadi organ-organ tubuh. Nggondeli ruhnya supaya tidak pergi dari jasad. Padahal membuat upil saja manusia tidak bisa.
Dan anehnya, prinsip yang membuat manusia putus asa tersebut dipegang teguh oleh manusia-manusia yang mengaku ahli, unggul, terpandai. Padahal prinsip yang mereka pegang teguh bukanlah suatu kepastian, kekakuan, kestatisan. Waktu dan hitung-hitungan matematika saja ada sisi relatifnya, tidak pastinya. Terbukti dengan adanya teori reltivitas yang salah satu bagian kecilnya menjelaskan bahwa waktu bisa melambat dalam keadaan tertentu. Kemudian nol pangkat nol bisa ada dua kemungkinan hasilnya. Nol atau satu. Karena semua angka berpangkat nol hasilnya adalah satu. Tetapi yang dipangkatkan nol adalah nol sehingga tidak salah jika hasilnya nol. Tidak pasti.
Akhirnya muncul ungkapan-ungkapan keputusasaan. Seperti, dunia terjadi hanya kebetulan, agama adalah penyakit jiwa, Tuhan hanyalah khayalan manusia.
Anehnya lagi, para pembuat pernyataan-pernyataan keputusasaan itu dipuja-puja, dimalaikat-malaikatkan sebagai yang ter dan ter. Didramatisasi sedemikian rupa.
Padahal kearifan sikapnya masih kalah jauh dari kusir andong di malioboro, tukang cukur di desa-desa, tukang becak di beringharjo. Juga ke-prigelan-nya dalam bekerja masih kalah jauh dengan ibu-ibu rumah tangga di desa-desa, ibu-ibu penjual yang berjualan di pasar wilayah desa. Keteguhan mentalnya masih kalah jauh dengan buruh tidak tetap dan memiliki penghasilan tidak tetap di negeri ini yang memiliki anak 5.
Lebih aneh lagi, manusia di negeri ini yang merasa sebagai manusia-manusia cerdas, pandai meng-iya-kan. Mengikuti arus mainstream mitologi kekinian. Membendakan segala hal. Mengkotak-kotakkan segala hal. Serta memegang teguh kebendaan dan kotak-kotak tersebut.
Pemujaan berhala terjadi dimana-mana. Tetapi dengan kecanggihan yang luar biasa. Para penerus Ibrahim sampai kebingungan mencari patung-patung yang akan dihancurkan. Karena patungnya samar, bahkan tak terlihat. “Dimana patungnya ?”, kata para penerus Ibrahim itu
Komentar
Posting Komentar