Dimana-mana, di media
apa saja kita sering mendengar pembicaraan, obrolan, tulisan tentang bagaimana
mengelola negeri ini dengan baik. Bersamaan dengan itu datang orang-orang dari
barat, utara datang memberikan tawaran-tawaran, referensi. Seperti ini lho cara
yang baik. Mereka mengatakan itu kepada bangsa ini.
Tawaran, referensi tersebut diterima saja. Tanpa difilter lagi, mana saja yang bisa dipakai, mana yang tidak, mana yang sesuai, mana yang tidak. Semua diambil. Bahkan tawaran mereka dianggap yang terbaik.
Setelah beberapa waktu akhirnya diketahui ternyata keputusan untuk menerima semua tawaran dan referensi tersebut alasannya adalah karena mereka tertarik dengan kemegahan, kegemerlapan yang dimiliki oleh orang-orang dari luar tersebut. Para pengambil keputusan itu menggebu-gebu karena dianggap kemegahan dan kegemerlapan itu bisa mengangkat derajat mereka, memberikan kebahagian bagi mereka.
Akibatnya mereka mengusahakan supaya bangsa ini menganggap bahwa merekalah yang terbaik. Usaha tersebut cukup berhasil. Sekarang bangsa ini benar-benar minder. Menganggap mereka yang bukan dari sini adalah yang terbaik.
Ketika diingatkan bahwa bangsa ini adalah sesepuhnya dunia mereka menjawab, “iya, memang, tetapi saat ini merekalah yang terbaik. Kita harus seperti mereka”
Inilah sikap seorang simbah. Walau bagaimanapun, seorang simbah pasti akan membela putranya, cucunya. Bahkan, jika si simbah hatinya tersakiti simbah tidak akan kecewa dengan cucunya.
Tetapi, putra dan cucu seharusnya tahu diri. Harus punya sopan santun, ngajeni dengan simbah. Jangan sampai simbah menjadi benar-benar marah. Bisa kualat nanti.
Tawaran, referensi tersebut diterima saja. Tanpa difilter lagi, mana saja yang bisa dipakai, mana yang tidak, mana yang sesuai, mana yang tidak. Semua diambil. Bahkan tawaran mereka dianggap yang terbaik.
Setelah beberapa waktu akhirnya diketahui ternyata keputusan untuk menerima semua tawaran dan referensi tersebut alasannya adalah karena mereka tertarik dengan kemegahan, kegemerlapan yang dimiliki oleh orang-orang dari luar tersebut. Para pengambil keputusan itu menggebu-gebu karena dianggap kemegahan dan kegemerlapan itu bisa mengangkat derajat mereka, memberikan kebahagian bagi mereka.
Akibatnya mereka mengusahakan supaya bangsa ini menganggap bahwa merekalah yang terbaik. Usaha tersebut cukup berhasil. Sekarang bangsa ini benar-benar minder. Menganggap mereka yang bukan dari sini adalah yang terbaik.
Ketika diingatkan bahwa bangsa ini adalah sesepuhnya dunia mereka menjawab, “iya, memang, tetapi saat ini merekalah yang terbaik. Kita harus seperti mereka”
Inilah sikap seorang simbah. Walau bagaimanapun, seorang simbah pasti akan membela putranya, cucunya. Bahkan, jika si simbah hatinya tersakiti simbah tidak akan kecewa dengan cucunya.
Tetapi, putra dan cucu seharusnya tahu diri. Harus punya sopan santun, ngajeni dengan simbah. Jangan sampai simbah menjadi benar-benar marah. Bisa kualat nanti.
Komentar
Posting Komentar