Saat
ini wajah kita bukanlah benar-benar wajah kita. Kita diarahkan untuk tidak
menyukai wajah kita. Dalam bidang apa saja. Kapanpun. Dimanapun. Kita
merengek-rengek, memohon-mohon untuk tidak menjadi diri kita. Tersenyum manis
setelah wajah kita, kita bungkus dengan warna-warna. Bangga setelah melihat
cermin. Itulah wajahku, itulah diriku. Padahal bukan.
*
Setiap
pagi anak-anak kecil berdatangan ke bangunan-bangunan, masuk ke dalam
kelas-kelas. Berharap menjadi pandai. Para pengelolanya duduk manis dan terus
sibuk membicarakan pembelian barang-barang, benda-benda.
“Mudah
untuk membuat mereka diam”, kata salah seorang dari mereka. Kita sumpali saja mulut mereka dengan
nilai-nilai bagus. Mitos nilai-nilai kuantitatif dipahamkan kepada mereka.
Kesadaran bahwa manusia itu luas cakrawalanya dihilangkan begitu saja. Diganti
ruangan-ruangan sempit, kotak-kotak dengan tembok yang kokoh.
“Kalianlah
generasi penerus bangsa”, kata salah seorang yang lain. Anak-anak itu hanya
mengangguk-angguk. Terkadang berbinar-binar matanya. Terkadang mengantuk karena
bosan.
*
Para
pembantu yang merasa jadi raja itu tertawa. Bercanda-canda. Tidak serius. Mereka
lupa bahwa mereka digaji untuk menjadi pembantu. Mereka menghianati
majikan-majikan mereka.
Para
pengelola gedung tempat berkumpulnya anak-anak itu sudah melaksanakan tugasnya
secara serius. Mereka juga tahu bahwa cara itu tidaklah tepat. Bukanlah cara
yang seharusnya untuk mendidik anak-anak kecil itu.
Tetapi
apa daya. Para pembantu itu malah berubah menjadi majikan. Menentukan seenaknya
keputusan-keputusan tanpa pertimbangan yang matang.
Yang
penting dana habis. Tidak ada urusan sudah tepat sasaran, dana tercecer-cecer
atau tidak. Yang penting mereka bias melihat. Rakyat tahu. Citra bagus.
*
“Terima kasih Pak Guru”
*
“E ya dicukup-cukupkan,
lumayanlah, segini cukup untuk beli bensin”
*
“Ini saya kasih mobil.
Silahkan mau minta apa saja saya turuti”, kata pembantu-pembantu itu.
“Terima kasih sayang”,
jawab gendakkannya.
Komentar
Posting Komentar