Keindahan karya seni itu luas. Titik berat
keindahannya tidak tergantung pada standar keindahan yang dipahami oleh si
pembuat karya. Begitu juga dengan maknanya, tidak hanya tergantung pada makna
yang diselipkan oleh si pembuat karya pada karya seninya.
Ada berbagai kemungkinan kriteria keindahan, juga pemaknaan dari sebuah karya seni. Kemungkinan yang jumlahnya tidak terbatas. Mungkin se-tidakterbatasnya keluasan penggagas seni, yaitu Tuhan.
Perkembangan simbol pada kehidupan manusia memaksa manusia untuk membuat sebuah standarisas-standarisai demi memudahkan manusia untuk melakukan sesuatu. Huruf A, mempunyai standar bentuk yang kita semua telah tahu terlepas dari kapital-tidaknya, besar-kecil bentuknya, atau jenis fontnya. Begitu juga dengan bunyi huruf A, setiap bangsa memiliki standarisasinya masing-masing.
Perkembangan pola hidup, bertambahnya jumlah manusia, juga bertambahnya kompleksitas masalah membuat manusia kebingungan menempatkan koordinat standarisasi. Wilayah mana yang harus ada standarnya, wilayah mana yang tidak. Atau kapan harus menggunakan standarisasi, kapan tidak. Agaknya, ketidaktepatan koordinat inilah salah satu permasalahan serius pada zaman ini.
Sekarang kita menemui sesuatu yang aneh. Setelah begitu maju industri, sebegitu canggihnya sihir-sihir dalam iklan-iklan, kreativitas seni justru tersandung mitos-mitos standarisasi. Juga, ajang-ajang pencarian bakat yang semakin mengukuhkan standarisasi. Selain itu, keasyikan berseni menjadi agak ternodai oleh pamrih-pamrih materi.
Maka, sekarang kita akan sulit menemui komunitas sastra, misalnya seperti PSK yang prosesnya begitu total. Atau pendidikan seni ala Ragil Suwarna Pragolapati yang sering berinteraksi dengan alam. Sangat sulit kita menemui sebuah grup musik yang produktivitas karya konsisten.
Di wilayah lain, kita akan melihat bahwa sesuatu yang memerlukan standarisasi, menggunakan sesuatu yang ternyata sangat fleksibel. Misalnya saja, aturan Pegawai Negeri Sipil, khususnya guru, masuk jam 07.00 selesai jam 14.00 menjadi sangat fleksibel, yang penting absen dan administrasi memenuhi syarat.
Sangat masuk akal jika kita sekarang menemui sebuah viral, “Om Tulalit Om !”. Karena begitulah adanya.
Ada berbagai kemungkinan kriteria keindahan, juga pemaknaan dari sebuah karya seni. Kemungkinan yang jumlahnya tidak terbatas. Mungkin se-tidakterbatasnya keluasan penggagas seni, yaitu Tuhan.
Perkembangan simbol pada kehidupan manusia memaksa manusia untuk membuat sebuah standarisas-standarisai demi memudahkan manusia untuk melakukan sesuatu. Huruf A, mempunyai standar bentuk yang kita semua telah tahu terlepas dari kapital-tidaknya, besar-kecil bentuknya, atau jenis fontnya. Begitu juga dengan bunyi huruf A, setiap bangsa memiliki standarisasinya masing-masing.
Perkembangan pola hidup, bertambahnya jumlah manusia, juga bertambahnya kompleksitas masalah membuat manusia kebingungan menempatkan koordinat standarisasi. Wilayah mana yang harus ada standarnya, wilayah mana yang tidak. Atau kapan harus menggunakan standarisasi, kapan tidak. Agaknya, ketidaktepatan koordinat inilah salah satu permasalahan serius pada zaman ini.
Sekarang kita menemui sesuatu yang aneh. Setelah begitu maju industri, sebegitu canggihnya sihir-sihir dalam iklan-iklan, kreativitas seni justru tersandung mitos-mitos standarisasi. Juga, ajang-ajang pencarian bakat yang semakin mengukuhkan standarisasi. Selain itu, keasyikan berseni menjadi agak ternodai oleh pamrih-pamrih materi.
Maka, sekarang kita akan sulit menemui komunitas sastra, misalnya seperti PSK yang prosesnya begitu total. Atau pendidikan seni ala Ragil Suwarna Pragolapati yang sering berinteraksi dengan alam. Sangat sulit kita menemui sebuah grup musik yang produktivitas karya konsisten.
Di wilayah lain, kita akan melihat bahwa sesuatu yang memerlukan standarisasi, menggunakan sesuatu yang ternyata sangat fleksibel. Misalnya saja, aturan Pegawai Negeri Sipil, khususnya guru, masuk jam 07.00 selesai jam 14.00 menjadi sangat fleksibel, yang penting absen dan administrasi memenuhi syarat.
Sangat masuk akal jika kita sekarang menemui sebuah viral, “Om Tulalit Om !”. Karena begitulah adanya.
Komentar
Posting Komentar