Bangsa ini terlalu akrab dengan kepura-puraan. Sudah
sangat biasa berkata ini ternyata yang dilakukan itu. Dalam wilayah hidup tertentu
boleh-boleh saja. Misal, wilayah sastra, khususnya puisi. Tetapi tidak semua
wilayah memakai konotasi-konotasi. Ada wilayah yang memang harus kaku, padat.
Dimana saja semua orang sudah tahu, kalau laporan keuangan pasti tidak apa adanya, dimanipulasi supaya terlihat logis dan itu dianggap sah-sah saja. Berpura-pura dari atas mengawasi yang di bawah. Padahal yang di atas sudah tahu bahwa yang dicek itu adalah hasil manipulasi-manipulasi.
Semua sudah tahu kalau administrasi guru hanya sekadar syarat mencairkan gaji. Sehingga jelas, berfungsi atau tidak, tidak masalah. Yang penting terlihat logis, dan wangun atau pantas. Kemudian, tiba-tiba ada seseorang yang dipekerjakan sebagai pengawas, yang jelas-jelas sudah tahu bahwa yang diawasi dan dicek administrasinya sudah melakukan manipulasi-manipulasi.
Masih sangat banyak, kepura-puraan yang disepakati bersama sebagai sesuatu yang wajar. Sampai kapan bangsa ini mau seperti itu. Sudahlah, daripada melakukan sesuatu yang penuh dengan kepura-puraan lebih baik bersepakat saja. Maunya seperti apa. Bagaimana efektif dan efisiennya. Dari pada terus-terusan tidak serius dan berpura-pura.
Sudah berapa banyak harta kekayaan Negara, uang rakyat yang dihabiskan hanya untuk membiayai ketidakseriusan dan kepura-puraan. Sudah berapa banyak harapan-harapan yang dibalas dengan mulut gombal para penguasa. Sudah berapa lama rakyat terus bersabar, menunggu ada seorang pemimpin yang tahu bahwa dirinya itu dibayar oleh rakyat. Sudah berapa lama, kita diantara rakyat bersepakat satu sama lain untuk juga ikut berpura-pura dan menomorsatukan kepentingan-kepentingan pribadi. Sudah berapa ?
Dimana saja semua orang sudah tahu, kalau laporan keuangan pasti tidak apa adanya, dimanipulasi supaya terlihat logis dan itu dianggap sah-sah saja. Berpura-pura dari atas mengawasi yang di bawah. Padahal yang di atas sudah tahu bahwa yang dicek itu adalah hasil manipulasi-manipulasi.
Semua sudah tahu kalau administrasi guru hanya sekadar syarat mencairkan gaji. Sehingga jelas, berfungsi atau tidak, tidak masalah. Yang penting terlihat logis, dan wangun atau pantas. Kemudian, tiba-tiba ada seseorang yang dipekerjakan sebagai pengawas, yang jelas-jelas sudah tahu bahwa yang diawasi dan dicek administrasinya sudah melakukan manipulasi-manipulasi.
Masih sangat banyak, kepura-puraan yang disepakati bersama sebagai sesuatu yang wajar. Sampai kapan bangsa ini mau seperti itu. Sudahlah, daripada melakukan sesuatu yang penuh dengan kepura-puraan lebih baik bersepakat saja. Maunya seperti apa. Bagaimana efektif dan efisiennya. Dari pada terus-terusan tidak serius dan berpura-pura.
Sudah berapa banyak harta kekayaan Negara, uang rakyat yang dihabiskan hanya untuk membiayai ketidakseriusan dan kepura-puraan. Sudah berapa banyak harapan-harapan yang dibalas dengan mulut gombal para penguasa. Sudah berapa lama rakyat terus bersabar, menunggu ada seorang pemimpin yang tahu bahwa dirinya itu dibayar oleh rakyat. Sudah berapa lama, kita diantara rakyat bersepakat satu sama lain untuk juga ikut berpura-pura dan menomorsatukan kepentingan-kepentingan pribadi. Sudah berapa ?
Komentar
Posting Komentar