Langsung ke konten utama

Pertunjukan Seonggok Daging

Perntanyaan-pertanyaan besar manusia, sebenarnya berasal dari dirinya sendiri yang jawabannya juga ada dalam dirinya sendiri. Segalanya tersimpan dalam diri yang begitu misterius. Apakah itu tentang Tuhan, atau sekadar rasa bahagia, juga rasa kecewa. 

Setiap saat manusia selalu saja menemukan pertanyaan-pertanyaan. Minimal tentang rasa bosannya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan tersebut jugalah yang mempertegas adanya makhluk bernama manusia. Berawal dari pertanyaan-pertanyaan tersebut manusia sedikit demi sedikit mengerti, menemukan, mencoba mengolah fasilitas-fasilitas yang disediakan oleh Tuhan. Dalam hal ini akan terlihat perbedaan antara manusia dengan makhluk yang lain. Di sisi lain, pertanyaan-pertanyaan tersebut menimbulkan bias yang menghambat proses kehidupan manusia itu sendiri. Biasnya berupa permasalahan yang awalnya hanya berasal dari kurangnya akurasi pengambilan sikap. 

Kebahagiaan ada di dalam dirinya sendiri, kecewa ada di dalam dirinya sendiri. Pengertian-pengertian tentang berbagai hal baik itu perasaan, akal dengan segala faktornya ada dalam dirinya sendiri. Begitu juga hambatan-hambatan, masalah, kelihatannya memang dari luar tetapi sebenarnya terletak di dalam dirinya sendiri. 

Kesadaran tentang diri itu bukan tidak menimbulkan bias tertentu. Pengertian tentang ke-aku-an menimbulkan bias yang serius. Salah satu contohnya adalah congkaknya peradaban barat pasca renaissance. Penemuan-penemuan, pengembangan-pengembangan yang sedikit demi sedikit memberikan pengertian bahwa manusialah makhluk cerdas satu-satunya. Tuhan perlahan-lahan di bunuh di dalam pikirannya, di buang jauh-jauh. 

Kehidupan manusia berurusan dengan kompleksitas yang begitu serius. Sejauh ini Tuhan selalu memberikan fasilitas yang sebenarnya lebih dari cukup. Tetapi penolakan sering terjadi dari manusia. Tuhan menyuruh ini, itu dengan begitu tegas bersamaan dengan adanya imbalan dan sangsi yang juga begitu luar biasa hanyalah untuk menyadarkan bahwa “dirimu sebagai manusia hanyalah seonggok daging yang terdampar di bumi” atau “aku sebenarnya bukan aku yang ini, ada aku yang sejati. Kita sekarang menemui, bahwa penolakan itu mengkiamatkan kehidupan manusia itu sendiri. Sampailah kita pada pertunjukan seonggok daging yang terdampar di bumi.

Komentar