Kesalahpahaman tentang Karakter
Selama ini
yang dipahami sebagai karakter adalah moral ataupun akhlak terpuji. Misalnya
jujur, tanggung jawab, disiplin, rendah hati, kasih sayang. Padahal, itu semua
adalah akhlak terpuji. Akhlak terpuji bukanlah karakter. Akhlak terpuji adalah
sesuatu yang wajib dimiliki oleh seseorang. Karakter adalah unsur-unsur yang apabila disatukan
menjadi sesuatu yang berbeda antara satu orang dengan orang lain. Beda juga dengan ciri. Kalau ciri cukup satu unsur saja. Contohnya, orang
tersebut ciri wajahnya mempunyai tahi lalat di pipi kiri. Atau orang tersebut
ciri khasnya ketika berbicara seperti orang berteriak.
Setiap hewan memiliki karakternya masing-masing. Ayam berbeda dengan burung. Anjing berbeda dengan kucing. Kambing berbeda dengan sapi. Semut berbeda dengan jangkrik. Itu semua tidak bisa diperbandingkan satu sama lain. Secara kasat mata semut memang lebih kecil daripada jangkrik, tetapi perbandingan tersebut tidaklah tepat karena semut adalah semut, jangkrik adalah jangkrik. Terlahir dengan spesies yang berbeda. Bahkan antara hewan satu spesies pun berbeda. Kita ambil contoh, kambing. Antara kambing satu dengan kambing lain frekuensi waktu mengembiknya berbeda-beda. Nada embiknya berbeda-beda. Posisi tidurnya berbeda-beda. Ketika berjalan perilakunya pun berbeda-beda. Setiap hewan terlahir dengan tunggal. Berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Memiliki karakter masing-masing.
Dalam dunia musik, apakah itu seorang vokalis ataukah pemain instrumen memiliki karakternya masing-masing. Vokal dari seorang vokalis dengan vokal dari vokalis lain karakternya berbeda-beda. Adapun unsur-unsur pembentuk karakter vokal adalah warna suara, range, ekspresi penjiwaan. Warna suara berkaitan dengan tebal-tipis suara, jenis-jenis suara yang enak didengar dan kurang enak di dengar secara mainstream. Range berkaitan dengan model pita suara yang dimiliki oleh masing-masing vokalis. Ada pita suara yang bisa menghasilkan range panjang, ada yang hanya range pendek. Ekspresi penjiwaan berkaitan dengan pemahaman makna lagu, mimik muka serta gerak tubuh ketika menyanyi. Pemain instrumen, misalnya pemain gitar atau gitaris mempunyai karakter yang berbeda-beda juga. Adapun unsur-unsur yang membentuk karakter pemain gitar atau gitaris adalah panjang-pendek dan tebal-tipis jari, kekuatan tekanan jari ke senar gitar, penguasaan tekhnik, sinkronisasi antara gerak jari, hati dan pikiran yang semuanya itu akan menghasilkan output suara tertentu. Akan sangat banyak sekali jika kita uraikan secara detail unsur-unsurnya. Setiap unsur saja karakternya berbeda-beda apalagi karakter yang terbentuk dari gabungan unsur-unsur tersebut.
Karakter dan kebhinekaan adalah sebuah kesatuan. Kebhinekaan itu ada karena ada karakter yang berbeda-beda. Sehingga Allah menyuruh manusia untuk bersatu. Dia menginformasikan bahwa manusia diciptakan berbeda-beda supaya saling mengenal. Persatuan ada karena adanya perbedaan, karakter. Bukan karena sama.
Sayangnya, dewasa ini yang dipahami sebagai pendidikan karakter adalah pendidikan moral, pendidikan akhlak mulia, yang memang wajib dalam pendidikan. Pendidikan karakter tidak sejalan dengan esensi dari karakter itu sendiri. Ketidaktepatan tersebut mengakibatkan berbagai hal yang kurang maksimal. Akhirnya konsepnya pendidikan karakter prosesnya pendidikan moral.(Bersambung)
Setiap hewan memiliki karakternya masing-masing. Ayam berbeda dengan burung. Anjing berbeda dengan kucing. Kambing berbeda dengan sapi. Semut berbeda dengan jangkrik. Itu semua tidak bisa diperbandingkan satu sama lain. Secara kasat mata semut memang lebih kecil daripada jangkrik, tetapi perbandingan tersebut tidaklah tepat karena semut adalah semut, jangkrik adalah jangkrik. Terlahir dengan spesies yang berbeda. Bahkan antara hewan satu spesies pun berbeda. Kita ambil contoh, kambing. Antara kambing satu dengan kambing lain frekuensi waktu mengembiknya berbeda-beda. Nada embiknya berbeda-beda. Posisi tidurnya berbeda-beda. Ketika berjalan perilakunya pun berbeda-beda. Setiap hewan terlahir dengan tunggal. Berbeda-beda antara yang satu dengan yang lain. Memiliki karakter masing-masing.
Dalam dunia musik, apakah itu seorang vokalis ataukah pemain instrumen memiliki karakternya masing-masing. Vokal dari seorang vokalis dengan vokal dari vokalis lain karakternya berbeda-beda. Adapun unsur-unsur pembentuk karakter vokal adalah warna suara, range, ekspresi penjiwaan. Warna suara berkaitan dengan tebal-tipis suara, jenis-jenis suara yang enak didengar dan kurang enak di dengar secara mainstream. Range berkaitan dengan model pita suara yang dimiliki oleh masing-masing vokalis. Ada pita suara yang bisa menghasilkan range panjang, ada yang hanya range pendek. Ekspresi penjiwaan berkaitan dengan pemahaman makna lagu, mimik muka serta gerak tubuh ketika menyanyi. Pemain instrumen, misalnya pemain gitar atau gitaris mempunyai karakter yang berbeda-beda juga. Adapun unsur-unsur yang membentuk karakter pemain gitar atau gitaris adalah panjang-pendek dan tebal-tipis jari, kekuatan tekanan jari ke senar gitar, penguasaan tekhnik, sinkronisasi antara gerak jari, hati dan pikiran yang semuanya itu akan menghasilkan output suara tertentu. Akan sangat banyak sekali jika kita uraikan secara detail unsur-unsurnya. Setiap unsur saja karakternya berbeda-beda apalagi karakter yang terbentuk dari gabungan unsur-unsur tersebut.
Karakter dan kebhinekaan adalah sebuah kesatuan. Kebhinekaan itu ada karena ada karakter yang berbeda-beda. Sehingga Allah menyuruh manusia untuk bersatu. Dia menginformasikan bahwa manusia diciptakan berbeda-beda supaya saling mengenal. Persatuan ada karena adanya perbedaan, karakter. Bukan karena sama.
Sayangnya, dewasa ini yang dipahami sebagai pendidikan karakter adalah pendidikan moral, pendidikan akhlak mulia, yang memang wajib dalam pendidikan. Pendidikan karakter tidak sejalan dengan esensi dari karakter itu sendiri. Ketidaktepatan tersebut mengakibatkan berbagai hal yang kurang maksimal. Akhirnya konsepnya pendidikan karakter prosesnya pendidikan moral.(Bersambung)
Komentar
Posting Komentar