Langsung ke konten utama

Perjalanan dari Bhineka Menuju Tunggal Ika (Bagian 5)


Krisis Karakter

Populernya materialisme di negara ini adalah salah satu indikasi bahwa bangsa Indonesia memang sedang krisis karakter. Pendidikan karakter yang didengung-dengungkan ternyata secara epistimologis masih kurang tepat apalagi prosesnya. Bahkan semakin terbukti kegagalannya dengan fakta yang ada. Bersamaan dengan didengung-dengungkannya pendidikan karakter, rasa keindonesiaan justru semakin jatuh. Di media-media semakin membangga-banggakan yang bukan Indonesia. Di sekolah-sekolah murid-murid semakin tidak menghormati guru. Di masyarakat yang muda tidak menghormati yang tua. Di lingkungan keluarga anak semakin tidak sopan dengan orang tuanya. Silaturahmi-silaturahmi menjadi berkurang. Interaksi sosial berkurang karena dianggap berkomunikasi lewat media sosial, grup whatsapp, grup BBM sudah cukup. Kurangnya interaksi sosial mengakibatkan kepekaan sosial berkurang. Empati menjadi terkikis. Apabila ada tetangga yang sakit malah bahagia. Karena yang diingat-ingat adalah hal negatif dari tetangganya bukan mengingat-ingat  bahwa tetangganya tersebut adalah juga seorang manusia yang mempunyai sisi positif. Satu lagi rasa keindonesiaan yang hilang, yaitu kesadaraan kebhinekaan atau lebih tepatnya kesadaran bhineka tunggal ika. Akibatnya muncul kelompok-kelompok yang benci dengan perbedaan, merasa paling benar sendiri.

Hal tersebut ditanggulangi dengan pendidikan karakter yang salah alamat. Koar-koarnya pendidikan karakter tetapi kenyataannya sama saja dengan sebelum ada koar-koar. Bahkan lebih buruk. Apalagi yang dimaksud dengan karakter sendiri bukan karakter tetapi moral, akhlak terpuji. Sehingga prakteknya penyeragaman-penyeragaman. Kalau pendidikan moral, akhlak terpuji tidak masalah karena memang hal tersebut dasar dan semua orang harus memilikinya. Kalau pendidikan karakter kurang tepat. Karena karakter sifatnya tunggal. Pendidikannya pun harus memberikan ruang bagi karakter-karakter tersebut. Bukan penyeragaman-penyeragaman.

Lebih parahnya, yang menjadi tolok ukur keberhasilan pendidikan adalah kemampuan kognitif. Padahal kemampuan setiap manusia jelas berbeda. Ada yang menonjol afektifnya. Ada yang menonjol psikomotoriknya.  
 
Dimana-mana didoktrinasi untuk sama. Melalui media TV, internet, sekolahan, universitas. Dalam hal model pakaian, model rambut, cara berpikir, tolok ukur kesuksesan. Kalau berbeda akan mendapat cap-cap negatif. Dikatakan ketinggalan zamanlah, tidak modernlah, kuperlah atau bahkan bisa disebut kafir. Secara perlahan kesadaran kebhinekaan mulai terkikis karena unsur utama dari kebhinekaan yaitu karakter yang berbeda-beda mulai dianggap aneh. Seseorang itu harus sama satu sama lain. Kalau berbeda bukan bagian dari kita.(Bersambung)

Komentar