Krisis Karakter
Populernya materialisme di negara ini
adalah salah satu indikasi bahwa bangsa Indonesia memang sedang krisis karakter.
Pendidikan karakter yang didengung-dengungkan ternyata secara epistimologis
masih kurang tepat apalagi prosesnya. Bahkan semakin terbukti kegagalannya
dengan fakta yang ada. Bersamaan
dengan didengung-dengungkannya pendidikan karakter, rasa keindonesiaan justru semakin
jatuh. Di media-media semakin membangga-banggakan yang bukan Indonesia. Di
sekolah-sekolah murid-murid semakin tidak menghormati guru. Di masyarakat yang
muda tidak menghormati yang tua. Di lingkungan keluarga anak semakin tidak
sopan dengan orang tuanya. Silaturahmi-silaturahmi menjadi berkurang. Interaksi
sosial berkurang karena dianggap berkomunikasi lewat media sosial, grup
whatsapp, grup BBM sudah cukup. Kurangnya interaksi sosial mengakibatkan
kepekaan sosial berkurang. Empati menjadi terkikis. Apabila ada tetangga yang
sakit malah bahagia. Karena yang diingat-ingat adalah hal negatif dari
tetangganya bukan mengingat-ingat bahwa
tetangganya tersebut adalah juga seorang manusia yang mempunyai sisi positif. Satu
lagi rasa keindonesiaan yang hilang, yaitu kesadaraan kebhinekaan atau lebih
tepatnya kesadaran bhineka tunggal ika. Akibatnya muncul kelompok-kelompok yang
benci dengan perbedaan, merasa paling benar sendiri.
Hal tersebut ditanggulangi
dengan pendidikan karakter yang salah alamat. Koar-koarnya pendidikan karakter
tetapi kenyataannya sama saja dengan sebelum ada koar-koar. Bahkan lebih buruk.
Apalagi yang dimaksud dengan karakter sendiri bukan karakter tetapi moral,
akhlak terpuji. Sehingga prakteknya penyeragaman-penyeragaman. Kalau pendidikan
moral, akhlak terpuji tidak masalah karena memang hal tersebut dasar dan semua
orang harus memilikinya. Kalau pendidikan karakter kurang tepat. Karena
karakter sifatnya tunggal. Pendidikannya pun harus memberikan ruang bagi
karakter-karakter tersebut. Bukan penyeragaman-penyeragaman.
Lebih parahnya, yang menjadi tolok ukur
keberhasilan pendidikan adalah kemampuan kognitif. Padahal
kemampuan setiap manusia jelas berbeda. Ada yang menonjol afektifnya. Ada yang
menonjol psikomotoriknya.
Dimana-mana didoktrinasi untuk sama.
Melalui media TV, internet, sekolahan, universitas.
Dalam hal model pakaian, model rambut, cara berpikir, tolok ukur kesuksesan. Kalau berbeda akan mendapat
cap-cap negatif. Dikatakan ketinggalan zamanlah, tidak modernlah, kuperlah atau bahkan bisa disebut kafir. Secara perlahan kesadaran
kebhinekaan mulai terkikis karena unsur utama dari kebhinekaan yaitu karakter
yang berbeda-beda mulai dianggap aneh. Seseorang itu harus sama satu sama lain. Kalau berbeda bukan bagian dari kita.(Bersambung)
Komentar
Posting Komentar