Setiap manusia
sebenarnya sastrawan, juga pelukis, atau mungkin musisi. Mereka berhak
menentukan sastranya sendiri, lukisannya sendiri, musiknya sendiri. Yang
sebenarnya, juga tak bisa dibatasi sekedar dengan kata-kata, gambar, dan bunyi.
Komposisinya begitu kompleks. Tak ada pakem diksi-diksi tertentu. Tak ada pakem
komposisi garis, warna tertentu. Juga aransemennya tidak seperti aransemen
musik mainstream seperti yang kita pahami.
Mungkin ada dasar-dasar tertentu yang pertama-tama harus dipatuhi. Bolehlah belajar dari Chairil Anwar, belajar gambar realis, belajar lagu-lagu pop mainstream. Kepatuhan tersebut selanjutnya dijadikan pijakan, justru untuk tidak seperti ranah mainstream tersebut tetapi untuk menemukan “siapa saya”.
Wilayah pakem hanya kita letakkan sebagai ritme saja. Juga sebagai pintu masuk. Selanjutnya silahkan berkreasi di wilayah empat per empat atau enam per delapan. Silahkan memilih geometri modern atau fraktal. Atau berdialog dengan hati kita masing-masing untuk mengerti bahwa barisan-barisan kalimat itu hidup.
Kreasi, inovasi, improvisasi bebas. Namun yang tidak boleh dilupakan adalah akurasi. Semua harus akurat. Walaupun tidak pasti seakurat Sang Pemilik Hidup. Paling tidak berusaha untuk akurat. Juga berusaha tidak malas untuk mengerti apa itu akurasi serta bagaimana menjadi akurat.
Pada dasarnya hidup adalah mengupayakan keindahan. Dan upaya akan keindahan tersebut pada zaman-zaman ini dirasa menjadi semakin pragmatis. Manusia benar-benar terobsesi kepada percepatan. Mereka seakan-akan ingin melepaskan keindahan dari yang menghadirkan dan media perantara keindahan. Seperti kesalahan awal manusia. Mendekati pohon yang seharusnya belum waktunya didekati.
Manusia-manusia sekarang ingin menghadirkan puisi tanpa kata-kata. Menghadirkan lukisan tanpa gambar. Menghadirkan musik tanpa suara. Di sisi lain menganggap puisi hanya sebatas kata. Lukisan sebatas gambar. Musik hanya sekedar suara.
Kebobrokan fakultatif semakin menjadi. Dan pada puncaknya adalah manusia menganggap bahwa dirinya berdiri sendiri. Tanpa pernah mau tahu bahwa disetiap detik Tuhan menggerakkan jantung kita sehingga manusia tidak perlu repot-repot membuat mesin penggerak jantung. Juga, memeluk dengan hangat ruh kita. Sehingga ia betah bersemayam di tubuh yang fana. Apalagi untuk mengerti bahwa seseorang yang merasa kebelet ketika waktu subuh tiba berarti disuruh Tuhan untuk beribadah.
Jadilah manusia-manusia ini sastrawan yang lupa dengan empunya sastra. Pelukis yang lupa dengan inspirator utama sebuah lukisan. Musisi yang lupa dengan pemilik suara terindah. Dan semakin sulit menentukan, “siapa saya di tengah kebobrokan fakultatif ini ?”
Mungkin ada dasar-dasar tertentu yang pertama-tama harus dipatuhi. Bolehlah belajar dari Chairil Anwar, belajar gambar realis, belajar lagu-lagu pop mainstream. Kepatuhan tersebut selanjutnya dijadikan pijakan, justru untuk tidak seperti ranah mainstream tersebut tetapi untuk menemukan “siapa saya”.
Wilayah pakem hanya kita letakkan sebagai ritme saja. Juga sebagai pintu masuk. Selanjutnya silahkan berkreasi di wilayah empat per empat atau enam per delapan. Silahkan memilih geometri modern atau fraktal. Atau berdialog dengan hati kita masing-masing untuk mengerti bahwa barisan-barisan kalimat itu hidup.
Kreasi, inovasi, improvisasi bebas. Namun yang tidak boleh dilupakan adalah akurasi. Semua harus akurat. Walaupun tidak pasti seakurat Sang Pemilik Hidup. Paling tidak berusaha untuk akurat. Juga berusaha tidak malas untuk mengerti apa itu akurasi serta bagaimana menjadi akurat.
Pada dasarnya hidup adalah mengupayakan keindahan. Dan upaya akan keindahan tersebut pada zaman-zaman ini dirasa menjadi semakin pragmatis. Manusia benar-benar terobsesi kepada percepatan. Mereka seakan-akan ingin melepaskan keindahan dari yang menghadirkan dan media perantara keindahan. Seperti kesalahan awal manusia. Mendekati pohon yang seharusnya belum waktunya didekati.
Manusia-manusia sekarang ingin menghadirkan puisi tanpa kata-kata. Menghadirkan lukisan tanpa gambar. Menghadirkan musik tanpa suara. Di sisi lain menganggap puisi hanya sebatas kata. Lukisan sebatas gambar. Musik hanya sekedar suara.
Kebobrokan fakultatif semakin menjadi. Dan pada puncaknya adalah manusia menganggap bahwa dirinya berdiri sendiri. Tanpa pernah mau tahu bahwa disetiap detik Tuhan menggerakkan jantung kita sehingga manusia tidak perlu repot-repot membuat mesin penggerak jantung. Juga, memeluk dengan hangat ruh kita. Sehingga ia betah bersemayam di tubuh yang fana. Apalagi untuk mengerti bahwa seseorang yang merasa kebelet ketika waktu subuh tiba berarti disuruh Tuhan untuk beribadah.
Jadilah manusia-manusia ini sastrawan yang lupa dengan empunya sastra. Pelukis yang lupa dengan inspirator utama sebuah lukisan. Musisi yang lupa dengan pemilik suara terindah. Dan semakin sulit menentukan, “siapa saya di tengah kebobrokan fakultatif ini ?”
Komentar
Posting Komentar