Pendidikan
Karakter
Ketidakpahaman diri, daruratnya
kedaulatan membuat bangsa ini menjadi bimbang, tidak jelas orientasi hidupnya.
Banyak yang terjerumus kepada materialisme. Tujuan hidupnya adalah kepemilikan terhadap benda-benda,
kemelimpahan kekayaan. Atau lebih
parahnya adalah hanya sekedar untuk memiliki uang,
tidak tahu akan digunakan untuk apa. Seperti ada
efek candu di dalamnya. Akhirnya ketidakjujuran terjadi dimana-mana, dalam segala bidang. Menggunkan berbagai cara beragam yang semakin hari semakin kreatif.
Padahal sudah jelas dasar negara di
negara ini adalah Pancasila.
Pancasila dengan sila pertama “Ketuhaan yang Maha Esa”. Artinya setiap kebijakan harus bersandar
pada prinsip ketuhanan. Setiap manusia di negara ini seharusnya juga menjadikan
prinsip ketuhanan sebagai bahan pertimbangan utama dalam kehidupan sehari-hari.
Anehnya, justru yang mempunyai posisi tinggi untuk mengemban amanat rakyat di
negara ini adalah yang paling tidak berketuhanan. Pola perhubungan mereka
semacam persaingan bisnis yang kotor. Saling menjegal, saling menjatuhkan. Sudah
sangat melenceng jauh dari pancasila.
Politik hanya dipahami sebagai pemenuhan
kepentingan. Para politisi membujuk sana, membujuk sini supaya kepentingannya
terpenuhi. Tidak pernah difilter kepentingan apa yang tepat diperjuangkan melalui politik. Semua jenis
kepentingan diperjuangkan. Kepentingan pribadi, golongan, bahkan hampir tidak
ada kepentingan yang sifatnya maslahat bagi orang banyak. Kalaupun ada hanyalah
sisa-sisa. Ketika kepentingan pribadi, kelompok, golongan sudah tercapai baru
kepentingan masyarakat secara luas.
Semua itu dilakukan tanpa merasa menyelewengkan amanat yang diberikan oleh rakyat.
Ambil sana, ambil sini tanpa pernah mempertimbangkan bahwa di pelosok desa sana
masih ada yang kesusahan hidupnya.
Sudah terlalu sering kata korupsi di
dengungkan. Di sekolah-sekolah, di masyarakat, di obrolan-obrolan warung kopi.
Karena terlalu sering, orang menganggap bahwa korupsi adalah hal biasa. Tidak
ada yang geram, marah. Orang sudah menganggap perilaku tersebut wajar-wajar
saja. Bahkan rakyat sudah mengidentikkan pejabat dengan korupsi.
Keadaan yang begitu silang-sengkarut
permasalahannya tersebut membuat para ahli pendidikan mendengungkan pendidikan
karakter. Dan perwujudannya adalah pendidikan akhlak mulia. Tujuannya adalah
pendidikan karakter tetapi prosesnya pendidikan moral atau pendidikan akhlak mulia.
Kalau pendidikan karakter pasti ada pendidikan moral atau akhlak mulianya.
Kalau pendidikan moral tidak ada pendidikan karakternya karena moral atau
akhlak mulia wajib dimiliki setiap orang kalaupun orang tersebut benar-benar
tidak mampu mengerti karakter dirinya secara maksimal. Diperparah lagi dengan
kapitalisme yang merambah di dunia pendidikan. Tiba-tiba saja muncul buku-buku yang berkaitan dengan hal tersebut. Tiba-tiba saja
muncul motivator-motivator. Seminar-seminar motivasi ada dimana-mana. Muncullah
bisnis nasehat.
Buku-buku itu dengan mudah mengatakan, “cara mudah hidup bahagia”, atau, “cara cepat mendapatkan rejeki (uang)”, atau, “120 hari menjadi orang kaya”. Melalui
seminar-seminar, motivator memberikan nasehat-nasehat, tips-tips atau apalah. Seakan-akan
hidup itu semudah mulut mengatakan kata bahagia. Dan ternyata ujung dari gegap
gempita pendidikan karakter yang didengung-dengungkan tersebut adalah
materialisme.(Bersambung)
Komentar
Posting Komentar