Langsung ke konten utama

Perjalanan dari Bhineka Menuju Tunggal Ika (Bagian 4)

Pendidikan Karakter

Ketidakpahaman diri, daruratnya kedaulatan membuat bangsa ini menjadi bimbang, tidak jelas orientasi hidupnya. Banyak yang terjerumus kepada materialisme. Tujuan hidupnya adalah kepemilikan terhadap benda-benda, kemelimpahan kekayaan. Atau lebih parahnya adalah hanya sekedar untuk memiliki uang, tidak tahu akan digunakan untuk apa. Seperti ada efek candu di dalamnya. Akhirnya ketidakjujuran terjadi dimana-mana, dalam segala bidang. Menggunkan berbagai cara beragam yang semakin hari semakin kreatif.

Padahal sudah jelas dasar negara di negara ini adalah Pancasila. Pancasila dengan sila pertama “Ketuhaan yang Maha Esa. Artinya setiap kebijakan harus bersandar pada prinsip ketuhanan. Setiap manusia di negara ini seharusnya juga menjadikan prinsip ketuhanan sebagai bahan pertimbangan utama dalam kehidupan sehari-hari. Anehnya, justru yang mempunyai posisi tinggi untuk mengemban amanat rakyat di negara ini adalah yang paling tidak berketuhanan. Pola perhubungan mereka semacam persaingan bisnis yang kotor. Saling menjegal, saling menjatuhkan. Sudah sangat melenceng jauh dari pancasila.

Politik hanya dipahami sebagai pemenuhan kepentingan. Para politisi membujuk sana, membujuk sini supaya kepentingannya terpenuhi. Tidak pernah difilter kepentingan apa yang tepat diperjuangkan melalui politik. Semua jenis kepentingan diperjuangkan. Kepentingan pribadi, golongan, bahkan hampir tidak ada kepentingan yang sifatnya maslahat bagi orang banyak. Kalaupun ada hanyalah sisa-sisa. Ketika kepentingan pribadi, kelompok, golongan sudah tercapai baru kepentingan masyarakat secara luas.

Semua itu dilakukan tanpa merasa menyelewengkan amanat yang diberikan oleh rakyat. Ambil sana, ambil sini tanpa pernah mempertimbangkan bahwa di pelosok desa sana masih ada yang kesusahan hidupnya.

Sudah terlalu sering kata korupsi di dengungkan. Di sekolah-sekolah, di masyarakat, di obrolan-obrolan warung kopi. Karena terlalu sering, orang menganggap bahwa korupsi adalah hal biasa. Tidak ada yang geram, marah. Orang sudah menganggap perilaku tersebut wajar-wajar saja. Bahkan rakyat sudah mengidentikkan pejabat dengan korupsi.

Keadaan yang begitu silang-sengkarut permasalahannya tersebut membuat para ahli pendidikan mendengungkan pendidikan karakter. Dan perwujudannya adalah pendidikan akhlak mulia. Tujuannya adalah pendidikan karakter tetapi prosesnya pendidikan moral atau pendidikan akhlak mulia. Kalau pendidikan karakter pasti ada pendidikan moral atau akhlak mulianya. Kalau pendidikan moral tidak ada pendidikan karakternya karena moral atau akhlak mulia wajib dimiliki setiap orang kalaupun orang tersebut benar-benar tidak mampu mengerti karakter dirinya secara maksimal. Diperparah lagi dengan kapitalisme yang merambah di dunia pendidikan. Tiba-tiba saja muncul buku-buku yang berkaitan dengan hal tersebut. Tiba-tiba saja muncul motivator-motivator. Seminar-seminar motivasi ada dimana-mana. Muncullah bisnis nasehat.

Buku-buku itu dengan mudah mengatakan, cara mudah hidup bahagia, atau, cara cepat mendapatkan rejeki (uang), atau, 120 hari menjadi orang kaya. Melalui seminar-seminar, motivator memberikan nasehat-nasehat, tips-tips atau apalah. Seakan-akan hidup itu semudah mulut mengatakan kata bahagia. Dan ternyata ujung dari gegap gempita pendidikan karakter yang didengung-dengungkan tersebut adalah materialisme.(Bersambung)

Komentar