Langsung ke konten utama

Mengajak Tuhan Berunding

Langkah perjuangan orang-orang di negeri ini menjadi begitu tersendat. Pertama, karena jenis penindasannya begitu samar. Peta sosial, budaya, politik, ekonomi, hukum disetting sedemikian rupa supaya terkondisikan langkah-langkah penindasan terselubungnya. Seperti tidak ada serangan, tetapi tiba-tiba saja tangan tergores pedang.

Kedua, karena penumpulan logika sehingga cara pandang menjadi tidak tajam. Tolok ukur segala jenis keberhasilan adalah materialisme. Apabila wilayah materi sudah tercukupi dengan indikasi organ fisik dapat dipuaskan akan memungkinkan seseorang menjadi malas berpikir. Keadaan penindasan yang begitu samar menjadi tak terbersit sedikitpun dalam pikiran manusia. Manusia dimasukkan ke dalam lubang hedonisme. Tengok kanan hedonisme. Tengok kiri hedonisme.

Ketiga, trauma sejarah. Bangsa ini mempunyai momentum-momentum bersejarah yang bertujuan untuk memberikan perubahan-perubahan ke arah lebih baik. Tetapi, kenyataan menunjukkan bahwa proses-proses yang terjadi di masa lalu tersebut kurang berhasil. Bagi manusia yang tajam logikanya. Cara pandangnya akurat.  Akan mengalami kebimbangan dalam menentuk gerak dan langkah perjuangannya. Sebisa mungkin mencari formula paling akurat supaya kesalahan-kesalahan masa lalu tidak terulang.

Untuk berpikir secara akurat di zaman yang penuh dengan ketidakseimbangan ini sangatlah sulit. Karena yang akurat malah dianggap tidak akurat, yang tidak akurat dianggap akurat. Serba terbalik. Maka, wajar jika merumuskan masalahnya saja begitu sulit. Apalagi memberikan solusi. Kecuali, manusia mau mengajak Tuhan untuk berunding.

Komentar