Karakter
Garis Nasib
Setiap manusia diberi karakter garis nasib yang berbeda-beda. Adanya karakter garis nasib inilah yang membuat dinamika siklus waktu antar manusia dengan manusia lain beragam. Tidak ada satupun yang sama. Sebagaimana tidak ada satupun sidik jari yang sama.
Tuhan dalam wahyu pertamanya menyuruh manusia untuk membaca, “Iqra”,
kata Tuhan. Dan Tuhan tidak hanya menyuruh tanpa memberikan fasilitas yang
memadai. Fasilitas tersebut adalah akal.
Dengan akal dan legitimasi dari Tuhan untuk belajar melalui wahyu
“iqra” itulah manusia diperkenankan untuk menganalisis kehidupannya yang salah
satu unsurnya adalah dinamika siklus waktu yang sifatnya spesial bagi setiap
individu. Di dalam dinamika siklus waktu itu terdapat rasa, nuansa serta
gejala-gejala yang berbeda-beda bagi setiap manusia. Dan itu berhubungan dengan
pola komunikasi Tuhan dengan manusia itu sendiri.
Dalam islam manusia diberi sebuah anugerah untuk mengenali
siklus-siklus waktu secara umum namun intim bagi masing-masing individu dengan
turunnya perintah ibadah-ibadah berupa, sholat, puasa, zakat dan haji. Memang
perhitungan waktu telah dieksplore oleh manusia terdahulu tetapi itu
tidak intim. Sifatnya sangat universal. Ibadah-ibadah tersebut intim bagi
setiap individu yang salah satu fungsinya untuk mengetahui karakteristik, warna
dirinya yang jika bersentuhan dengan garis waktu akan seperti apa. Seperti halnya
zat kimia yang akan bereaksi jika satu zat dipertemukan dengan zat yang lain.
Memang eksplorasi keintiman dengan waktu juga sudah banyak dieksplore
sehingga lahir yang namanya zodiak, primbon. Tetapi intimitasnya sangat berbeda
dengan ibadah-ibadah tersebut. Ibadah-ibadah itu jika dilakukan dengan serius
atau bahasa umumnya khusyuk akan sangat akurat fungsinya untuk mengetahui karakteristik
diri yang berkaitan dengan reaksi dari ketersentuhannya dengan garis waktu.
Reaksi-reaksi tersebut berkaitan erat dengan garis nasib. Dinamika
semangat-bosan, keberuntungan, kesehatan dll. Kalau zodiak dan primbon itu kan
seperti nggebyah uyah atau dipukul rata. Sehingga mungkin tidak akurat
bagi setiap individu. Intimitas ibadah itu bersifat tunggal, hanya dia, Tuhan,
dia dan Tuhan (Dia, Tuhan, dia dan Tuhan adalah tunggal yang dipecah menjadi
tiga). Analisis yang didapat melalui intimitas beribadah ini sangat akurat bagi
setiap individu.
Subyek yang bisa menganalisis dinamika siklus waktu dari
masing-masing manusia hanyalah manusia secara individu. Inilah yang sekarang
tidak diperhatikan oleh masing-masing manusia sebagai pelaku kehidupan.
Akibatnya sering terjadi keputusan-keputusan sikap yang tidak singkron dengan
dirinya maupun sesuatu yang berada di luar dirinya. Manusia sudah tidak sempat
menganalisis karakter garis nasibnya karena secara umum merendahkan kualitas
dirinya dengan memfokuskan kehidupan pada pemenuhan nafsu-nafsu dan kepemilikan
materi.(Bersambung)
Komentar
Posting Komentar