Waktu dan
Shirotol Mustaqim
Setiap manusia dalam satu hari saja memiliki
dinamika siklus waktu yang berbeda-beda. Misalnya hubungan antara waktu dengan semangat.
Dalam waktu 24 jam, berapa jam manusia konsisten untuk tetap semangat menjalani
kehidupan. Seringkali ketika lelah, semangat-semangat hidup itu luntur begitu
saja dan sering juga timbul pernyataan-pernyataan dalam hati yang sifatnya
pesimis. Kemudian berapa jam jarak antara semangat dan tidak semangat. Atau, hubungan
antara waktu dengan ketauhidan. Dalam waktu 24 jam berapa jam manusia dapat
memelihara tegaknya garis tauhid dalam kehidupannya. Seringkali ketika manusia
sudah berhadap-hadapan dengan materi bengkok garis tauhidnya. Berapa jam jarak
antara tegaknya garis tauhid dengan kemungkinan untuk menjadi bengkok.
Pengetahuan-pengetahuan semacam itu sangat penting. Pengetahuan itu dapat
membantu manusia memberikan self treatment untuk menepis
kemungkinan-kemungkinan belok dari shirotol mustaqim.
Secara umum selain self treatment, manusia
sudah diberikan solusi yang memudahkan self treatment tersebut. Solusi
tersebut adalah sholat. Pada siklus waktu 24 jam ini sholat adalah sebuah
teknologi internal yang sangat akurat untuk menjaga konsistensi manusia dengan shirotol
mustaqim. Pagi, ketika bangun tidur sudah diberi asupan untuk menegakkan
garis tauhid dengan sholat subuh. Siang hari, yang secara umum menjadi puncak
kelelahan dan rentan bengkok garis tauhidnya ada sholat dzuhur yang bisa
memelihara untuk tidak bengkok atau meluruskan kembali jika sudah bengkok. Sore
hari setelah berbagai kegiatan selesai ada sholat ashar. Karena seringkali
setelah selesai melaksanakan berbagai kegiatan muncul keputusan-keputusan yang
aneh-aneh dan berpotensi membengkokkan garis tauhid. Mungkin sebagai
pelampiasan dari terkekangnya diri selama melakukan kegiatan dari pagi sampai
sore. Surup (entah apa istilah bahasa indonesianya) atau ketika matahari
sudah terbenam namun belum bisa disebut sebagai malam (begitu jauh pencapaian
bahasa jawa dibandingkan bahasa Indonesia pada sisi efektivitas dan efisiensi)
ada sholat maghrib sebagai bekal untuk menghadapi malam yang sangat romantis
untuk bercinta dengan Tuhan. Setelah waktu sudah benar-benar bisa disebut malam
karena sudah tidak ada bias cahaya matahari sedikitpun ada sholat isya’ sebagai
pintu gerbang pagar rumahnya Tuhan.
Keintiman sholat itu diperkuat lagi dengan
adanya puasa wajib selama sebulan dalam satu Tahun. Puasa ini waktunya lebih
lama dan sifatnya sangat individu karena tidak ada yang bisa memastika seorang
manusia benar-benar berpuasa atau tidak kecuali dia sendiri. Setiap detik dalam
puasanya ia akan semakin tahu tentang dirinya jika ia mau menikmati keintiman
itu.
Romantisme keintiman itu tidak secara egois
hanya akan memabukkan setiap individu sehingga tidak mau berhubungan dengan
sesuatu selain dirinya. Maka diperintahkanlah zakat. Untuk mengingatkan bahwa
ada ciptaan Tuhan yang lain selain dirinya.
Pada puncaknya ada haji sebagai puncak
perayaan dari seluruh jenis keintiman yang sejalan dengan shirotol mustaqim
dan diintesifi oleh manusia. Sejalan dengan hal tersebut, salah satu cara untuk
tetap berada di area shirotol mustaqim adalah terus menikmati keintiman
dengan sang waktu. (Selesai)
Komentar
Posting Komentar