Langsung ke konten utama

Menikmati Keintiman dengan Sang Waktu (Bagian 4)

Waktu dan Shirotol Mustaqim

Setiap manusia dalam satu hari saja memiliki dinamika siklus waktu yang berbeda-beda. Misalnya hubungan antara waktu dengan semangat. Dalam waktu 24 jam, berapa jam manusia konsisten untuk tetap semangat menjalani kehidupan. Seringkali ketika lelah, semangat-semangat hidup itu luntur begitu saja dan sering juga timbul pernyataan-pernyataan dalam hati yang sifatnya pesimis. Kemudian berapa jam jarak antara semangat dan tidak semangat. Atau, hubungan antara waktu dengan ketauhidan. Dalam waktu 24 jam berapa jam manusia dapat memelihara tegaknya garis tauhid dalam kehidupannya. Seringkali ketika manusia sudah berhadap-hadapan dengan materi bengkok garis tauhidnya. Berapa jam jarak antara tegaknya garis tauhid dengan kemungkinan untuk menjadi bengkok. Pengetahuan-pengetahuan semacam itu sangat penting. Pengetahuan itu dapat membantu manusia memberikan self treatment untuk menepis kemungkinan-kemungkinan belok dari shirotol mustaqim.

Secara umum selain self treatment, manusia sudah diberikan solusi yang memudahkan self treatment tersebut. Solusi tersebut adalah sholat. Pada siklus waktu 24 jam ini sholat adalah sebuah teknologi internal yang sangat akurat untuk menjaga konsistensi manusia dengan shirotol mustaqim. Pagi, ketika bangun tidur sudah diberi asupan untuk menegakkan garis tauhid dengan sholat subuh. Siang hari, yang secara umum menjadi puncak kelelahan dan rentan bengkok garis tauhidnya ada sholat dzuhur yang bisa memelihara untuk tidak bengkok atau meluruskan kembali jika sudah bengkok. Sore hari setelah berbagai kegiatan selesai ada sholat ashar. Karena seringkali setelah selesai melaksanakan berbagai kegiatan muncul keputusan-keputusan yang aneh-aneh dan berpotensi membengkokkan garis tauhid. Mungkin sebagai pelampiasan dari terkekangnya diri selama melakukan kegiatan dari pagi sampai sore. Surup (entah apa istilah bahasa indonesianya) atau ketika matahari sudah terbenam namun belum bisa disebut sebagai malam (begitu jauh pencapaian bahasa jawa dibandingkan bahasa Indonesia pada sisi efektivitas dan efisiensi) ada sholat maghrib sebagai bekal untuk menghadapi malam yang sangat romantis untuk bercinta dengan Tuhan. Setelah waktu sudah benar-benar bisa disebut malam karena sudah tidak ada bias cahaya matahari sedikitpun ada sholat isya’ sebagai pintu gerbang pagar rumahnya Tuhan.

Keintiman sholat itu diperkuat lagi dengan adanya puasa wajib selama sebulan dalam satu Tahun. Puasa ini waktunya lebih lama dan sifatnya sangat individu karena tidak ada yang bisa memastika seorang manusia benar-benar berpuasa atau tidak kecuali dia sendiri. Setiap detik dalam puasanya ia akan semakin tahu tentang dirinya jika ia mau menikmati keintiman itu.

Romantisme keintiman itu tidak secara egois hanya akan memabukkan setiap individu sehingga tidak mau berhubungan dengan sesuatu selain dirinya. Maka diperintahkanlah zakat. Untuk mengingatkan bahwa ada ciptaan Tuhan yang lain selain dirinya.

Pada puncaknya ada haji sebagai puncak perayaan dari seluruh jenis keintiman yang sejalan dengan shirotol mustaqim dan diintesifi oleh manusia. Sejalan dengan hal tersebut, salah satu cara untuk tetap berada di area shirotol mustaqim adalah terus menikmati keintiman dengan sang waktu.  (Selesai)

Komentar